Setahun Lalu

Tepat satu tahun sudah saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya. Di malam terakhir itu, hingga pukul 23.00 WIB saya dan 2 rekan saya masih ngos-ngosan dikejar deadline. Kami memang takut mati, yang jika kami mati maka penanggung kesialannya lebih dari harga diri kami saja. Begitulah. Sang manager, super editor andalan setiap jatuh tempo bulanan itu tengah melangsungkan ibadah haji. Dan kami adalah orang-orang galau yang sombong. Hanya akan maksimal saat tertekan. Tak ada yang bisa menekan kami selain angka dalam deret minggu ke tiga itu.

Bukan karena uang saya bekerja. Betapa saya sangat menghargai waktu dan tenaga saya. Berangkat pagi, atur jadwal wawancara agar bisa menyempatkan kuliah, susah bertemu teman di siang hari, jarang balas sms yang masuk sampai bangun pagi. Rutinitas yang harus dibayar dengan eratnya persaudaraan, bertambahlapangnya dada, dan terjaganya motivasi. Banyak saya habiskan hidup saya dengan orang-orang luar biasa disana. Sungguh, fase hidup saya kala itu tak menyisakan sesal.

Manusia berkewajiban belajar agar terus berkembang, tanpa harus merasa terperangkap dalam rutinitas. Dan tanggal 22 November ini kembali mengingatkan saya, bahwa jeda yang terlalu lama tak pernah lalai dari hukum kadaluarsa.

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s