J E R M A N

2006: Ngefans berat sama dosen yang kuliah doktoralnya di Jerman. Beliau satu dari sedikit dosen Antropologi yang supel dan keren di kampus. Perempuan yang memutuskan untuk tidak menikah itu saat ini menjadi pentolan tim forensik di RSUD Dr. Soetomo dan polda Jatim

2007: Saya mulai mengagumi Jerman.Negara besar yang eksotis dan magis. Ada obsesi ingin ke sana suatu saat nanti. Bahkan, bualan saya tentang Jerman sudah menjadi-jadi. Tapi saya ingat, musti lulus kuliah dulu
2008: Menemukan teman-teman se-visi dan misi itu menguatkan. Saya mulai serius dengan keinginan bahwa nanti kaki saya akan menginjak tanah Hitler itu. Kelak, saya akan ke sana. Berjalan di belahan bumi lain…
2009: Mulailah saya gemar googling dengan keyword “Germany”, “Jerman”, “Deutschland”. Mulailah setiap foto profil di semua akun saya bergambar icon dream-land itu, termasuk pasang foto peta wilayah juga!
2010: Saya menjadi gibol karena timnas Jerman di wordl cup. Hahhaha
2011: Nah, kenapa baru diakhir tahun ini saya dengar yang namanya program aupair? Hah? Telat amat, yak. Ini menjanjikan kedatangan saya ke Jerman bukan bualan. Bukan pula cuma sehari dua hari. Tapi setahuuuun! Wao. Meskipun punya tugas sebagai anak asuh, saya tetep bisa ng-eksplor Jerman lebih dari yang saya mimpikan. Usia maksimal untuk program ini 24 tahun. Merasa beruntung karena belum tahu bagaimana saya bisa ke Jerman tanpa harus mumet jadi mahasiswa. Maklum, belum ada greget kuliah lagi. Jalan-jalan masih lebih penting.
2012: Saatnya action. Usia saya 23 tahun. Kalau harus mempersiapkan diri ikut program aupair ke Jerman butuh waktu ekstra panjang. Pertama, saya gak bisa Bahasa Jerman, jadi harus kursus. Dan, saya pun belum pernah jadi turis di negeri orang, urus paspor dan visa itu berbulan-bulan. Kursusnya aja 3 bulan. Masih harus cari keluarga di Jerman. Nah, artinya kalau semua urusan ini selesai di usia 23, alangkah bejo-nya saya ini.
Bulan depan, awal maret, Goethe Institute buka pendaftaran Les Bahasa Jerman. Untuk paket intensif yang ditempuh selama 3 bulan tarifnya Rp 2.100.000, plus biaya pendaftaran dan buku-nya jadi Rp 2.500.000-nett. Kenapa saya pake angka-nya lengkap? Berasa, gitu, duit segitu banyak. Hahhaha…
Jadi, intinya, saya kelabakan dikejar deadline skripsi dan deadline mimpi…
Jerman tetap dream-list di posisi tertinggi. Semoga dimudahkan hati dan materi. Saya percaya, skenario Allah paling indah dibanding rencana yang disusun sematang dan sedetail apa pun. 
Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s