“Termin”

13 Juni (sedikit) melegakan…

Pertama,
Rabu kemarin saya melangsungkan ujian A1 di Goethe Institute Surabaya. Perjuangan saya belajar privat dengan durasi 2 jam kali 7 hari dalam seminggu selama 2 bulan akan ditentukan hasilnya di kelas Muenchen, salah satu ruang belajar di Wisma Jerman Surabaya.
Ada 4 tile buat ujian A1, Lesen (Reading ) dan Hören (Listening), Schreiben (Writing) dan Sprechen (Speaking)Di antara empat itu, bagian mana yang saya pede dan merasa mantap? Sejujurnya ga ada, tapi saya yakin aja bisa lolos.
Total skor minimal untuk dinyatakan berhak menerima sertifikat kemampuan bahasa Jerman level A1 adalah 60, sedangkan skor sempurna adalah 100. Nah, ujiannya mahal nih, 70 euro. Berdasarkan kurs rupiah di tanggal saya daftar jatuhnya Rp 850.000,-. Bisa kebayang kalo ga lulus dan musti bayar ujian lagi? Bukan cuma soal uang, karena di Goethe Institut Surabaya ini ga seramai Goethe Jakarta dan Bandung, ujiannya pun ga selalu digelar tiap bulanan.
Dan, ada satu kejadian scene di “Tile 4: Sprechen”. Di sesi ini setiap peserta ujian akan duduk melingkar dan masing-masing mendapatkan dua kartu secara acak. Tugasnya adalah menjawab pertanyaan dari sisi kanan berdasarkan kartu bergambar apa yang dia terima dan bertanya ke sisi kiri berdasarkan tema apa yang kita dapatkan.
Dia: “Wie findest du mein Zimmer?” = Bagaimana pendapat mu tentang kamar ku?
Saya: “Dein Zimmer zwei stunden” = Kamar mu dua jam
Sinting… Gilaaa.
Sekarang saya tinggal menunggu keajaiban. Semoga Sang Maha Pemurah memurahkan kelulusan pada saya. Dan, saya pun segera terbang ke Jerman… Aamiiin, Ya Allah.
 
Kedua,
Rabu kemarin itu hari terakhir bayar wisuda. Segala puji bagi Sang Maha Kaya. Allah mengirimkan bala bantuan lewat sahabat saya, hingga saya bisa setor ke BNI senilai Rp 500.000.
Ga usah dibahaslah ya, bagaimana balada perduitan terjadi begitu ekstrem terjadi pada saya sejak awal tahun ini. Saya menamainya kesungguhan mimpi. Kata sebuah blogger, yang kemudian saya simpulkan sendiri berbunyi: “Demi semuanya, kencangkan ikat pinggang. Masa depan jauh lebih berarti daripada seberapa enak kau makan hari ini.”
 
Di siang itu juga, setelah ujian tuntas, pembayaran wisuda lunas, masalah ijazah dan transkrip nilai selesai, saya terima telpon dari orang yang dikirim Allah untuk menyampaikan rezeki dari-Nya. Sebuah proyek dari Komnas HAM, Jakarta. Rezeki itu datang dari arah yang tak terduga. Ia terjadi pada waktu yang sangat tepat. Danke schoen, Allah 
Yang muda… Yang muda…
Terlalu dini untuk mengeluh. Pemuda terlalu hina untuk putus asa…
Tuhan selalu punya rencana keren. Selalu… .
Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s