Garam

… Makan asam garam. Ga ngerti juga sih, apa itu filosofi asam dan garam yang hubungannya sama kehidupan. Padahal masih ada rasa lain yang konotasinya rada ga enak, seperti pahit dan pedas. Bedanya, pahit dan pedas itu terlalu lugas. Jadinya, dari sekian nama rasa rasa, yang terpilih adalah asam dan garam. Lebih puitis…

Cuma gini, ya. Siang ini saya kembali mencoba menganalisis kenapa saya doyan garam. Kedoyanan saya masih wajar sih, dibanding teman saya yang hobinya ngemut garam ke mana mana. Ada juga yang ga bisa tahan dari dari godaan penyedap yang masih dalam kemasan. Vetsin sebungkus juga habis diemut dia, sendirian.
Menurut saya, masakan orang Surabaya asinnya ga pas. Kalau kurang asin, biasanya masakan itu baru. Dan kalau masakannya asin, seringkali karena sudah melalui proses pemanasan berulang. Jadi, kalau mau pas, saya kudu tambah garam atau menerimanya dan menganggap pas asinnya.
Begitu pun dengan feeling saya ketika masak, apa pun. Keasinan. Cuma saya suka aja…
Nah, ternyata berdasarkan ingatan yang parsial, dari mana saya keranjingan sama garam adalah:
Beberapa belas tahun lalu, sebelum saya mengerti kondisi perekonomian keluarga, bapak sering masak untuk kami, anak-anaknya. Ya, bukan ibu saya yang bertugas menghidangkan makanan. Selain bapak lebih jago masak, ibu lebih fokus pada keperluan anaknya yang lain. 
Setiap pagi kami sekeluarga sarapan dengan nasi, sambel korek, dan kerupuk. Siang, kadang sama. Malam, nasi dan mie instan. Bapak dan ibu saya adalah orang sibuk, yang berangkat pukul 6 pagi, pulang pukul 4 sore. Kadang ada juga sayur, atau variasi lauk selain yang tersebut di atas. Saya masih SD, dan adik adik saya tentu masih kecil.
Saya ingat, saat telur yang harus kami bagi itu bertekstur keras dan asin. 
“Pa, kok telurnya bentuknya gini? Keasinen juga.”
“Iya, itu dikasih tepung terus garamnya banyak.”
“Kenapa? Ga enak.”
“Gapapa, biar bisa dibagi banyak. Jadi kamu ngambil sedikit aja sudah cukup.”
Pun dengan mie instan yang kami makan, asin. Jawaban bapak masih sama, biar sedikit saja dan ga rakus. Jumlah yang tidak banyak itu, cukup untuk semua. “Nasinya yang banyak, biar ga terlalu asin pas dimakan.”
Sampai sekarang pun saya tetap suka garam. Dan harus ditekan saat ingin berbagi makanan dengan teman. Kami sekeluarga suka asin. Hanya saja, demi kesehatan, bapak saya menganjurkan untuk mengurangi konsumsi garam. Cukuplah garam yang berlebihan itu terjadi belasan tahun lalu. 
Jadi, kesimpulan dari ide tulisan random ini adalah:
“Garam, ia telah mengajari kami tentang makna dirinya sebagai filosofi kehidupan”
Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s