Masalembu

Saya dibesarkan di Masalembu selama tujuh tahun. Saya tidak lahir di sana, tapi saya masih merasa bagian dari mereka yang di sana. Beberapa tahun lalu, saya baru tahu bahwa teman sekampus saya ada yang orang Masalembu asli. Namanya Bustomi. Teman seangkatan lho, sebenarnya. Tapi entah mengapa ketika bersamanya saya merasa jauh lebih bodoh dan terlalu kuper dibanding dia, ya? Hahahaha 😀

Jadi, keluarga kami bisa sampai ke pulau ini karena tugas dinas bapak saya. Bapak mulai jadi guru di SMP Negeri Masalembu pada tahun 1989, saat usia saya baru beberapa minggu. Rumah kami di sana membelakangi kuburan. Kami tinggal di rumah dinas, yang semua fasilitas lengkap. Tapi tolong, lengkap saat itu dan bagi mereka yang tinggal di situ.

Dulu, saya bisa masuk SD di usia 5 tahun karena teman sekelas saya usianya pada tua. Bahkan ada yang usia 10 tahun baru masuk kelas 1 SD. Memang, umumnya orang di sana tidak menganggap sekolah formal itu penting. Mereka lebih malu jika anaknya usia 7 tahun belum khatam Al-Qur’an daripada belum bisa membaca dan menulis.

Dulu, di sana ga ada angkutan umum kecuali becak. Sejauh apa pun, umumnya orang di sana pakai sepeda. Punya motor sudah dianggap kaya. Pulaunya memang kecil, sih. Hanya ada empat desa. Saya tinggal di Desa Masalima, tidak jauh dari dermaga tempat saya main tanpa pernah minta izin. Heheee.

Dulu, di sana tidak ada PLN. Untuk mendapatkan listrik, orang di sana swadaya dengan diesel berkekuatan besar. Listrik akan nyala pukul 6 sore dan akan mati pukul 10 malam. Nanti, pukul 2 dini hari ia nyala lagi. Kemudian pukul 6 pagi ia akan kembali mati. Lagi-lagi, hanya orang kaya yang mampu bikin listrik sendiri. Mereka menggunakan diesel yang bisa digunakan sendiri atau beberapa rumah waktu siang hari.

Dulu, untuk nonton tivi kebanyakan orang berkumpul di kantor kecamatan. Di sana ada tivi berukuran 14 inci yang akan menghibur orang-orang yang selapangan. Tidak semua punya tivi, dan tidak semua punya antena. Beberapa rumah tersambungkan program lewat tivi kecamatan. Jadi, misalkan tivi kecamatan sedang ada di channel TVRI, maka semua follower-nya sama. Pun saat di ganti, maka semuanya ikut ganti. Kok bisa, ya? Saya tidak tahu. Heheee.

Dulu, sekolah umum tidak begitu diminati dibanding sekolah agama. Seperti MI dan SD, muridnya lebih banyak MI dibanding SD. Jenjang pendidikan maksimal yang tersedia di pulau itu hanya sampai SMP. Kalau ingin melanjutkan SMA, ya merantau. 

Dulu, makanan saya nasi. Padahal pas sekolah, katanya orang madura itu makanan khasnya jagung. Tapi ada sih, setelah di Jawa saya nemu orang yang makan nasi putih seberapa banyak pun ga akan kenyang. Dia hanya akan kenyang kalau makan nasi jagung, bukan nasi murni.

Dulu, saya punya pantai favorit. Saya kasih nama pantai Pak Dokter. Pantainya tepat di depan sebarang rumah pak dokter. Di situ ada pohon tinggi dan anginnya besar. Di pinggiran banyak ikan kecil-kecil. Pasirnya putih bersih, tanpa sampah.

Dulu, pantai di pinggir dermaga itu rumah kedua saya. Pulang sekolah pulangnya ke pantai itu. Tapi sayang, kebanyakan orang di sana ga punya jamban. Jadi kalau butuh eek ya di situ. Dan saya yang hanya butuh bersenang-senang ini tidak peduli. Hahahaaa.

Itu semua dulu. Tapi, yang masih sama sejak dulu sampai saat ini adalah frekuensi kapal yang hanya ada tiap dua minggu sekali. Semoga sebelum akhir tahun ini saya terima acc. Ya, saya ingin sekali menengok Masalembu, tanah yang sudah 15 tahun saya tinggalkan…

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s