Rendah(an)

Sebagian orang memilih mengabaikan rasa tidak suka, risih, bahkan sakit hati yang akan disimpannya dengan rapat. Tapi, saya tidak. Karena, saya percaya bahwa setiap orang masih punya hati, otak, dan keinginan untuk menjadi lebih baik. Dan, saya akan memilih untuk menyampaikannya pada yang bersangkutan.

Saya marah hanya karena nama bapak saya dibuat becandaan ga penting. Bisa saja saya diam dan cukup klik unfollow. Tapi, saya akan terus menahan marah, sampai bisa lupa, yang saya sendiri tidak pernah tahu kapan batas ingatan saya.

Kata bapak saya, apa pun yang menyangkut keluarga harus diperjuangkan. Jangan mau direndahkan, kecuali memang yang merendahkan adalah orang rendahan. Jadi, jika pada akhirnya saya tahu mulutnya adalah mulut rendahan, ya saya diam sambil senyum. Dan tak akan peduli lagi. Urusan hidup ini masih banyak kan, ya.

Padahal, saya pikir orang yang merasa berpendidikan dan lebih banyak melihat dunia itu tidak seperti Tukul, suami yang senang mengolok-olok istri sendiri. Coba saja kalo nama yang ia pakai becandaan diganti pake nama bapaknya. Mungkin dia juga ngakak, sama seperti Tukul dan penontonnya.

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s