Bali, Ini Ceritaku #3

“What did you get from Bali, Man?”, mention seorang teman via twitter.

I’m a Nomad!

Tepat satu minggu yang lalu, aku berhasil memperjuangkan harga diri. Menurutku, orang gagal adalah orang yang tidak melakukan pembelaan dari dirinya sendiri. Dia yang pecundang, kalah oleh dirinya sendiri. Bali, 5 hari di awal itu sungguh berat. Bahkan, aku sempat berpikir ingin minggat. Pergi dan tidak melanjutkan hidupku di sana. Aku sedih, Bali. Mentalku kocar-kacir dan kondisiku benar-benar nelangsa. Hanya satu yang aku lakukan saat itu, memahami dan meresapi sensasinya, dan bekerja keras mencari formulanya. Jika dibiarkan maka aku bisa gila. Ini serius!

Senin hari pertama kedatanganku, aku diusir oleh ibu kost. Temanku yang ng-kost di Denpasar itu emang lagi keluar kota selama beberapa bulan, tapi ia menyilakan aku dan satu travelmate-ku untuk singgah di kamarnya. Kau tahu, Bali, emak kost itu jahat! Dan, yang lebih menyakitkan lagi, ternyata penginapan di Ubud yang dijanjikan satu temanku yang lain itu ga ada. Hari itu juga kami semua bingung, mau pulang ke mana. Jadilah malam pertama itu aku pulang ke Karangasem, yang tinggal beberapa langkah lagi akan tiba di Lombok!

Jalanan gelap itu suram, Bali. Liukan tajam nan seksi, tanpa penerangan. Naik turun pegunungan, dan barang bawaan ini membuatku tak bisa leluasa melaju di atas 60 Km/jam. Aku tetap menikmati perjalanan sambil memikirkan tentang pagi tadi di Banyuwangi, ibu kost, mas dari Bandung yang ngaku kecopetan, dan nasib besok pagi. Sesekali ingin ng-tweet, tapi itu tak mungkin. Hahahaha.

Hari Selasa kami menemukan penginapan di Payangan yang 30 menit dari Ubud, bertarif Rp 150ribu/3 orang. Sialnya, 1 orang batal booking. Jadinya, uang segitu aku dan satu temanku ini yang nanggung. Hari Rabu pindah ke Ubud di Jalan Arjuna. Bilangnya, Rp 100ribu/3 orang dan tiba-tiba aja jadi Rp 150ribu/3 orang. Mau hunting penginapan lagi tapi roster sudah jalan. Terpaksa, kami tambah lagi sehari. Setelah besok, entahlah!

Bali, Hari Kamis aku sakit. Siang itu juga aku harus mengembalikan motor untuk ditukar di Denpasar, sekaligus pada siang itu pula aku harus menerima kenyataan bahwa ATM terblokir. Gila! Sejak hari pertama aku dan teman seperjalananku sepakat pakai uang cash, uang dia dulu. Sekarang uang itu habis, dan giliranku yang keluar duit. Lemas. Mengingat, betapa nekatnya aku yang meninggalkan kewajiban di Surabaya, menunda tugas dari orang tua, dan mengabaikan sejenak cita-cita ke Eropa. Fase tanpa uang sebagai jaminan itulah saat aku merasa sendiri, jauh dari siapa pun, juga dituntut memutuskan segalanya dengan cepat dan tepat. Linu, rasanya. Ya, aku tahu bagaimana menjadi orang yang menyedihkan. Aku ingin pulang. Tapi, itu hanya keinginan yang sama sekali tak menuntut untuk dikabulkan. Migrain dan demam itu mungkin karena psikologis berantakan.

Segera geledah isi tas, saku baju dan apa pun yang aku kenakan siang itu. Berharap ada receh, lembaran uang yang masih bisa digunakan untuk ke Denpasar. Setidaknya bisa beli bensin untuk sampai di ibu kotamu, Bali. Lagi-lagi, aku kembali memikirkan mau dibawa ke mana hidup yang tinggal 4 hari ini. Roaster sudah jalan, dan aku harus bekerja tepat waktu. Tetap profesional, meski volunteer itu tidak dibayar. Aku hanya tahu, bahwa aku harus cari tumpangan karena tak mungkin melanjutkan sewa penginapan. Bali, kau tahu perasaan orang yang mengupayakan nasib baik tapi terlanjur sial sepertiku? Sadis.

Sebelumnya aku sudah meminjam motor teman sejak Hari Senin, yang sebenarnya tak pernah ada dalam skenario selama 9 hari itu. Sungguh, aku tak pernah ingin membuat hidupnya mendadak susah. Tapi, dia orang baik. Begitu ringan melakukan pengorbanan. Bahkan derita itu terjadi sejak hari pertama. Aku bawa motornya, yang ternyata aku salah ambil motor punya orang. Dia pun harus menyusulku karena jok tidak bisa dibuka dan bensin habis. Kunci yang sama untuk mesin, tapi tidak untuk buka tangki bensin. Bali, dan malam itu dia belum buka puasa lalu minta minum ke aku. Karena mengingat penderitaan mas inilah, maka aku menawarkan numpang tidur di kost-nya. Biar dia cari kamar tidur lain. Seperti yang diduga, boleh!!!

Malam itu, setelah boyongan keempat aku bilang ke satu teman yang rela menggantungkan carrier ku dipundaknya dalam tragedi pindah penginapan, bahwa seseorang tidak akan pernah tahu kebaikan mana yang pernah ia lakukan, hingga orang lain merasa punya utang kebahagiaan. Dan, dengan demikian maka aku wajib membayarnya, pada orang yang sama atau pada orang yang mungkin sama sekali tak ada hubungannya. Kebaikan itu harus diteruskan, kawan.

Jumat malam, mood-ku kembali sempurna. Aku menyambut pagi dengan jiwaku seutuhnya. Hati dan otakku waras. Uang dan penginapan bukan perkara yang berarti. Aku ada di Bali memang penuh konsekuensi, yang pasti butuh pertanggungjawaban. Aku menikmati sisa-sisa hari, penuh. Denpasar – Ubud melaju super santai cuma satu jam. Tinggal duduk aja, lho, udah sampai tujuan gitu. Hore banget! :D~

Dan Sabtu itu, aku menyayangkan Hari Minggu yang sudah closing party. UWFR 2012 akan berakhir besok. Bali, aku tidak menyesal telah menyelami sudut terdalam diriku pada 5 hari pertama. Tuhan, Engkau Yang Maha Baik masih menyisihkan 4 hari untuk aku syukuri. Maha Pembolak-balik hati memenuhi keinginanku datang ke Bali, untuk belajar, bekerja, dan bersenang-senang.

Aku sedang merindui kamu, Bali.

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s