Memotong Jawa

Rentetan rencana dibuat bukan untuk mendahului kehendak Sang Kuasa dalam menentukan takdir-Nya. Ia hanya satu tingkat di atas niat. Selanjutnya, hati yang paling keras bekerja. Karena ketidakpastian adalah seni perjalanan. 

~> Baluran – Papuma dalam catatan Oktober 2012. Kata peta, perjalanan kita menggaris Jawa sebelah utara menuju ujung timur. Lalu turun ke selatan, memotong Pulau Jawa.

Kami, yang baru berkenalan ini ke Baluran

Jumat pagi saat masih di kereta api saya menerima kabar bahwa semua sudah siap. Apa saja? Mobil, penginapan, dan teman jalan. Nah, dalam menentukan siapa teman  yang akan kami tawari rezeki nomplok ini, saya dan Tika punya 3 kriteria: 1). Tampan dan dermawan, 2). Fotografer kece, 3). Lelaki sederhana yang paham betul tentang jerohan mobil. Cuma kenapa pada akhirnya saya memungut Salim, yang setelah diidentifikasi ia masuk kriteria tak tertulis, -1. Ya, dia orang gila yang dipastikan dapat mengimbangi kejiwaan kami bahkan pada saat kritis sekalipun. Hahahaha.

Perjalanan Jakarta – Surabaya menemui akhirnya pada pukul 11 siang, dan satu keluarga kecil di Medokan Semampir sana tengah menunggu kedatangan saya sore itu juga. Malamnya, saya bertemu dengan Febri dan Adi, duo driver yang ternyata sepanjang perjalanan 2 hari ke depan akan buka mata lebar-lebar bareng saya. Mereka gantian, sayanya tetap kerja di depan. Terasa dramatis karena hari itu juga saya belum istirahat, sedangkan kami berangkat pukul 2 pagi. Ya, bagaimana pun navigator adalah pekerjaan mulia. Karena harus rela mendengarkan suara ngorok dan nafas-nafas lelah yang begitu bangun mereka curhat “Ih, badanku pegal. Capek, ya.” Hallo, situ tinggal duduk – merem – sampai tujuan. #Nahloh!

Ahay! Ternyata mobil yang kami bawa adalah avanza seri terbaru. Si Vina, juragan nasi padang dan rental mobil ngasih gratisan ke kita semua. Eits, Vina ini serius baik hati dan selalu jadi sasaran orang gila, Salim. Hahaha.

FYI, beberapa orang di sini memang baru kenal saat itu juga. Termasuk saya pun baru kenal Febri, driver handal yang sudah malang melintang di tanah Jawa sejak SMA. Alhamdulillah-nya, dia juga punya bibit gila. Jadi sepanjang jalan nyambung aja nemenin anak ini berkendara dengan kecepatan 80-110 Km/jam.

“Perjalanan kamu bilang berapa jam? 4 jam?”

“Dan ternyata 6 jam. Hahahaha”

Penginapan di Bekol sudah disiapkan. Kami tidur siang sebentar setelah dibuat heran dengan jarak gerbang TN Baluran ke penginapan sepanjang 12 Km, yang harus ditempuh selama setengah jam. Ada 3 kamar, tapi kami sewanya 2 kamar, dengan tarif per-kamar Rp 100.000,-. Minta tambah 2 bad, jadi jumlah yang harus kami bayar adalah Rp 250.000,-. Nah, harga ini ditawar lho! Jadi, tak ada harga mati buat traveler kere macam kami, yang air saja bawa galon kosong sendiri kemudian diisi air isi ulang. Hahahah. Bukannya apa, tapi memang daerah Tapal Kuda fanatik dengan AQUA, padahal galon yang saya bawa itu Club. Ini nih hashtag #barutahu.

Satu teman yang paling atraktif tapi hemat suara itu namanya Ubay, cuma saya seringnya panggil Ubet. Walau digodain Salim, ia tak kunjung keluar dari “diam”-nya. Contoh dialog mereka:

“Bet, kamu jurusan apa?”

“IIP. Perpustakaan.”

“Oh, pantas sekali itu jurusan sama kamu. Tepat. Kamu tahu kenapa?”

“Kenapa?”

“Soalnya kamu itu perpustakaan banget. Tenang dan sunyi. Pas kuliah dulu ada pelajaran biar gak berisik kayak di perpustakaan, ya? Hahahaha.”

*Terus Si Ubay senyum dan yang lain ngakak*

Walau saya, Salim, dan Esti nyanyi lagu-lagu Betharia Sonata, Freddie Mercury, Tommy J Pisa, sampai Ebid G Ade pun Ubay tak terketuk hatinya ikut bernostalgia bersama. Lainnya sih, nyamber aja. Kadang kami nyanyi Didi Kempot, juga dangdut jadul jaman SD yang bintangnya masih Evi Tamala dan Manis Manja Group. Malaysia-an juga, sih. Hahahaaa. Tapi, Ubay-lah fotografer itu. Nasib kita ada di tangannya. Kalau dia ga mood foto kita, ya kita akan benar-benar pulang tanpa apa-apa! 🙂

Tas paling berharga dicuri Monyet

Sore kami sepakat ke Pantai Bama. Sekitar pukul tiga. Main air, ambil video. Terus, tasnya Adi dicuri. Ia ceroboh dengan meletakkan tak pinggang mungilnya di pasir. Di bawah. Dan si monyet membawanya lari. Menurutmu, dengan apa kami bisa menghadang tukang iseng yang lari di antara hutan bakau selebat itu? Yang kemudian satu persatu benda dijatuhkan dari ranting teratas. Pertama, parfum. Kedua dan seterusnya ia berpindah tempat dan membuangnya di titik yang berlainan.

Ada pengepungan monyet kali ini. Saling berlarian dalam deretan akar bakau lalu memencar. Agar si monyet tak pergi jauh menggondol tas keramat itu. Berhasil? Ya, Tuhan melindungi kami. Tas itu ditinggal dan mencurinya lari. Bagaimana dengan isinya? Kosong! Semua sudah dikeluarkan dan dijatuhkan. Isi dalam tas itu adalah parfum, dompet yang isinya komplit, ATM, SIM, flashdisk, handphone champ, ear phone, beberapa lembar catatan, dan kunci mobil. Mennn, kunci mobil?!

Semua barang jatuh di air, dan beberapa nyangkut di akar bagian atas. Satu persatu bisa ditemukan di tengah air yang kian pasang. Sore, hampir petang. Kunci mobil belum ketemu. Akar bakau yang terendam air berwarna hitam, gantungan kuncinya juga hitam. Air semakin tinggi. Satu jam nyaris berlalu. Ah, kami mulai berpikir macam-macam gimana cara untuk pulang.

Teman, percayalah bahwa semua akan tetap baik-baik saja. Kunci itu ketemu! Bagaimana mungkin? Ini hanya terjadi atas kuasa Tuhan. 

Main Kartu Remi Syar’i

Tika berniat bawa permainan ini sejak awal. Kami menyepakati aturan mainnya: Kalah, baca Al-qur’an! Sholat saja kami berjamaah. Saling menunggu, kemudian berbaris rapi. Setelah selesai, main lagi. Hehehe.

Papuma, (dipaksa) Raja Ampat-nya Jawa

Satu dari sekian bukti bahwa laut selatan itu penuh kejutan. Naik ke bukit, mencium aroma laut, kemudian meyakini bahwa inilah Raja Ampat versi Jawa. Hahahaha. Rugi jika tak menanggalkan malu kemudian berbasah-basahan sambil teriak, “awas, ombak datang, ombak datang, kita diserang!”

Dan yang bodoh adalah saya menantang ombak dengan mengandalkan tali jangkar, tapi kemudian tubuh saya malah terombang-ambing hebat hanya dengan dua kali ombak susulan. Sensasinya? Seperti nonton live adegan peselancar yang separuh dirinya ada di antara ombak hebat. Bedanya, saya megap-megap. Tak usah panik, harusnya. Karena ini kelakuan 3 teman gila yang bersekongkol menenggelamkan saya dengan mengendalikan tali penyelamat. Kampret!

Apakah Tika dan Vina merasakan kebahagian kami kemudian menyesal karena tidak menguyupkan diri? Wallahua’lam.

Sore, dan kami berjalan menyusuri pantai. Mengagumi bebatuan. Memperhatikan sepasang lelaki. Mengintai gulungan ombak yang akan datang lalu berharap masih bisa saling serang. Papuma, setidaknya bisa mewakili penampakan kecil dari Raja Ampat di Papua.

Pulang kali ini terasa beda, bagi saya juga bagi yang lain. Bagi Febri? Jelas. Macetnya malam Senin, lelahnya bermain, dan kami berdua lagi-lagi tak boleh lengah. “Kiri kosong!” Kecepatan lebih dari 110 Km/jam. “GPS goblok, Feb!” Putar haluan, cari jalan besar. “Nov, aku lesu.” Mie instan dihancurkan. “Iku sing ngorok sopo, rek?” Tak ada jawaban.

Apapun, justru perjalanan yang mengajarkan kita banyak hal. Destinasinya? Itu hanya sedikit, dan sebentar. Semoga dipertemukan kembali, teman-teman. See you!

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s