Ini Rumah?

“Aku mau di rumah aja. Sambil nunggu takdir membawaku ke Eropa.” Dan kalian kaget. Heran maksimal. Mata-mata menyipit dan dahi-dahi itu mengernyit. Iya, kah? Yakin, kah? Di rumah untuk waktu yang belum tentu?

Hallo. Saya sedang berjuang, mencari ridha orang tua. Mungkin, kekurangmulusan perjalanan hidup saya sedikit banyak berhubungan dengan mereka, bapak dan ibu. Sejak tahun 2000 hingga 12 tahun kemudian ini, sayalah yang paling jarang mengunjungi rumah. Saya kira, bukan permintaan berat jika anak diminta orang tuanya untuk tinggal. Walaupun, saya sendiri ragu, saya mampu.

Analisisnya simpel, sih. Jika dalam satu tahun saja saya bisa menghitung berapa kali pulang ke rumah, yang masing-masing tak kurang dari 3 hari, maka sebesar apa saya membutuhkan rumah sebagai tempat pulang? Jika saya rela melewatkan libur panjang bukan untuk bertemu orang tua, tapi justru jalan-jalan dengan teman, seberapa besar saya butuh rumah? Dan, jika diri saya baik-baik saja saat takbir Idul Fitri di hari pertama masih di Surabaya, tanpa kewajiban yang harus ditunaikan di sana, demi apa? Intinya, saya tidak ketagihan ada di rumah. Apalagi untuk berlama-lama.

Lalu, apa yang membuat saya bisa begitu? Saya belum pernah berpikir serius saat teman-teman di kontrakan menanyakannya. Yang jelas, ini terjadi terlalu lama. Saya lebih memilih pulang ke rumah teman daripada rumah sendiri. Lebih baik, jika saya pulang kemudian langsung bosan, maka pagi sampai sore saya ada di luar. Entah, ke mana saja. Sampai bapak saya pernah bertanya, “Kamu itu pulang untuk main ke temanmu apa untuk pulang ke rumah betulan?”

Waktu pun telah membuktikan. Saya bisa gila jika bertahan lama di rumah. Tanpa teman, tanpa kebebasan, dan tanpa ada yang bisa diajak bicara. Setiap pagi buta saya harus mendengar mereka marah karena anaknya susah dibangunkan. Saya salah? Iya. Begitu siang sepulang kerja, marah lagi karena rumah tak serapi yang mereka harapakan. Saya salah? Iya. Malam, marah lagi karena adik saya, Si Akbar tetap tidak bisa berperilaku dengan benar seperti yang mereka harapkan. Saya salah? Iya. Maka, saya pun tahu bahwa penyebab orang tua saya begitu, karena apa pun yang mereka ucapankan adalah kalimat perintah. Tidak puas? Salah. Tidak dilaksanakan? Salah, dong. Dilaksanakan? Belum tentu benar. Ini terjadi setiap hari, setiap kali. Bisa betah gimana? Saya itu tak pernah tega melihat orang tua marah. Tapi, gimana lagi kalau sayanya selalu salah? Standar-nya beda sih.

Mungkin, cara paling benar untuk mengurangi marah mereka adalah saya pergi dari rumah. Saya batalkan kesanggupan saya tinggal. Seorang teman SMP pun sampai sekarang menyangsikan saya bisa betah seminggu di rumah, padahal saat itu momen lebaran. Sungguh, dia tidak sedang sok tahu. Tapi, memang nyatanya begitu. Gimana sih, kalian yang bisa rindu dan berlama-lama di rumah???

Eh eh, bagaimana saya bisa ng-blog di sore begini? Hahaha. Tentu, karena orang tua saya sedang tidak ada. Ini termasuk aktifitas pengangguran, sedang cucian di belakang numpuk tak karuan. Saya yakin, tulisan ini akan membuat saya rindu rumah. Kelak.

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s