Selamat Jalan, Om Harto

“Man, aku susah dikasih izin keluar sama ayah. Tapi, kalo aku bilang keluarnya sama kamu, langsung boleh.”

“Kenapa gitu? Kan aku belum kenal ayahmu.”

“Aku sering cerita soal kamu. Hehehe. Gitu aja sih.”

“Ayahmu memang ga salah. Percaya padaku sebelum bertemu denganku. Hahah.”

Dia teman sekelas saya selama di SMP. Namanya Susi Ningdyah. Dan, nama saya masih sering dia bawa sampai kami SMA, walau sekolah kami di kota yang berbeda. Sampai tamat SMA pun kami masih sering main bersama.

“Kamu ke rumahku jam berapa? Ayahku nunggu, lho. Udah rapi.”

“Rapi? Mau ke mana?”

“Nunggu kamu, sama teman-teman lainnya.”

Dan, sesampai di rumahnya, ayah teman saya ini menyalami kami satu persatu. Penampilannya hari itu memang rapi. ”O, ini to Mbak Iman,” ungkapnya. Tiba-tiba kami larut dalam ngobrolan panjang. Om Harto, namanya. Sepuluh tahun lalu ia masih tampak muda. Seusia bapak saya, yang sekarang keduanya menuju separuh abad.

“Man, bapaknya Susi meninggal.”

“Ha?”

Heran. Kaget. Sedih. Berusaha menyangkal. Akhir tahun lalu kami masih bertemu. Ternyata, satu tahun setelah itu dia meninggal dunia. Malam ini, seorang bapak yang pernah mempercayai saya sebelum bertemu dengan saya telah tiada. Dia satu di antara sekian orang tua teman saya yang saya anggap seperti bapak saya.

Om Harto, selamat jalan.

Salam hormat,

Iman

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s