Whatta Day!!!

Pagi

Sepertinya ini hari ketiga saya tidur malam lebih dari 3 jam, setelah lebih dari sebulan tidur 10-15 menit setiap 2 jam sepanjang malam. Rasanya? Syukur tiada tara. Apalagi, pagi ini sebelum sempat mandi sudah disambut nasi pecel yang dibungkus full daun pisang. Jarang saya bisa makan pecel dengan packaging keren begini sekarang. Heheee.

Polsek

Niat bikin SIM A masih saya urungkan, belum siap mental. Sekarang cukup perpanjang SIM C saja, yang tahun ini adalah masa akhir berlakunya. Sepanjang jalan otak saya berpikir, mencari siasat. Bagaimana agar tidak terjebak antrean panjang, yang berurusan dengan kepolisian.

Pernah lihat orang tes mengemudi motor? Saya bisa ngakak sendiri lihat mereka. Saya suka scene yang meliuk-liuk sambil mukanya tegang. Hahaha. Batin saya, mereka mau aja ya dikerjain polisi. Emang ada gitu medan nyata yang bentuknya se-zig-zag itu? Apalagi kakinya ga boleh turun. Harusnya terserah kita dong ya, masa kaki turun berarti gugur? Itu tes ga manusiawi. Apalagi yang mobil. Seorang sopir truk yang malang melintang 8 tahun aja ga lulus tes sampai 5 kali. Entahlah, apa maunya tes praktik yang lucu ini. Keberuntungan?

Seluruh proses sudah saya jalani, tinggal menunggu antrean loket 5. Foto. Masih ada 10 nomor untuk sampai di urutan saya, 096. Mata saya mulai jelalatan. Pelayan berseragam biru di loket itu gantengnya lumayan, dan mbaknya juga cantik. Mereka mencoret-coret kertas dengan cepat dan mantap, yang jumlah tumpukannya sungguh subhanallah. Kemudian, memanggil nama pemilik kertas itu satu persat, lalu memberi pesan yang bunyinya selalu sama. Kadang pakai senyum, kadang tidak. Apa yang mereka pikirkan saat melakoni aktifitas hariannya, dari pagi sekali sampai menjelang sore? Apa mereka tidak bosan kemudian berpikir bahwa hidupnya tidak berkembang? Ah, saya sok tahu dengan perasaan orang.

Di sebelah saya ada sepasang suami istri, yang saya taksir berusia 55-60 tahun. Rumahnya 2 jam dari kecamatan Nganjuk, lupa desanya apa. Dan, pukul 8 pagi mereka sudah berjubel dalam antrean. Berangkat pukul 6, dan sekarang nomor antrean kami tidak jauh beda. Si bapak 094 dan saya 096. Padahal, jarak tempuh rumah saya dan polres hanya 8-10 menit. Saya hanya tidak tega, dan heran kenapa di Nganjuk tidak ada program SIM keliling? Atau, setiap polres diberi wewenang melayani SIM yang kemudian diproses oleh petugas sampai ke polsek, jadi orang-orang dari jauh itu tidak perlu susah begini.

Bioskop

Kemarin malam Saya, Salim, dan Aniq sepakat nonton Habibie&Ainun. Kedua teman lelaki saya ini orang sinting, dan mereka belum saling kenal. Saya penasaran saja, kapan ada kesempatan mempertemukan? Hahah. Akhirnya, kami nonton! Eits, saya ngajak teman. Namanya Pipit. Setengah jam sebelum jadwal tayang yang ditentukan, Aniq cancel karena tuntutan profesi. Tapi, dia mempersilakan kami main ke rumahnya.

Setting tempat duduk di Golden, Kediri, memang beda dengan XXI dan cinema 21. Di Golden ada 3 banjar, yang saya tidak tahu ketika memilih nomor, bagian atas di layar adalah bawah, dan bawah adalah atas. Sedangkan di XXI dan cinema 21 hanya ada 2 banjar, dan atas tetaplah atas, bawah tetaplah bawah. Dulu, saya suka di posisi tengah paling atas. Tapi, kondisi mata saya sekarang mengharuskan obyek berada lebih dekat. Jadilah saya memprediksi kursi bawah mana yang kosong, untuk kemudian saya duduk khusyu’ di situ.

Habibie&Ainun buat saya sangat istimewa. Lebih dari semuanya, setting Jerman-lah yang membuat terharu lebih dulu. Hamburg, Dusseldorf, Aachen, dan Muenchen! Yap, Muenchen adalah kota ter-impian saya. Sepanjang cerita saya berdoa, semoga takdir segera mengirim saya ke sana. Mungkin ini lucu, tapi saya dengan kesadaran penuh melakukannya. Sensasi siang tadi melebihi bagaimana ekspresi saya ketika jatuh cinta. Adakah kata yang memberi arti untuk kondisi melebihi jatuh cinta? Itulah yang terjadi pada saya.

Mungkin, saya pun tengah menunggu seperti apa yang terjadi pada Ainun #uhuk. Ainun menaruh hati pada Habibie saat bertemu kembali sebagai orang baru. Perasaan baru saat mereka baru bertemu, walau keduanya adalah teman lama. Sumpah, kerennn! Bagi saya, itulah awal untuk akhir yang sempurna. “Baru”!

Prinsip dan nasionalisme yang dikisahkan dalam film ini membuat saya kembali berpikir, apa yang bisa saya beri untuk negeri? Memang, ini pertanyaan retoris.

Rumah Aniq

“Mbak, sampean kok tetep seger?”

“Hehehe. ”

Ibunya Aniq yang cantik itu harusnya tidak bertanya begitu. Harusnya dia bilang, “kok tambah gendut?” Hahaha. Ini kedatangan saya yang kedua, setelah terakhir bakar ayam umur 20 hari dan ngobrol semalaman sama teman-teman antropologi. Aniq adalah juragan ayam yang kini meluaskan investasi di kolam lele.

Aniq dan Salim berkenalan. Dua teman tersinting saya sedang bertemu. Ini waktunya gila. Obrolan kami masih seperti biasa, dengan tagline “bodohlah yang cerdas”. Kami bicara tentang hidup, teman, dan utang. Sore tadi saya dan Salim sepakat akan membantu survey untuk skripsinya Aniq, di sebuah desa di Ponorogo yang warganya mengidap downsyndrome.

Tuhan, terima kasih sudah memberikan waktu dua jam utuh menjelang petang untuk kami bertiga.

Gramedia

Saya baru tahu, Kediri punya Gramedia. Hahahha. Pas baru masuk, saya kaget. Ini Gramedia apa Hartono? Barang elektronik ter-display sesak. Saya tidak menemukan buku. Nah, baru pas liat tangga, ada petunjuk arah yang tulisannya Gramedia. Jadi, lantai yang saya injak itu disewa UFO. Keduanya ada di gedung yang sama. Gramedia Kediri lumayan besar, walau tak sebesar Gramedia mana pun di Surabaya. Entahlah, tapi di sana itu panas sekali. AC berada di titik yang tak kasat mata.

Pecel A. Yani

Pipit menangis. Saya tahu, ini karena Ainun siang tadi yang meninggal disebabkan kanker. Seperti yang terjadi pada ibunya, Pipit pernah berduka luar biasa setahun lalu. Dan, yang lebih menyedihkan lagi karena dia ingat, ibunya masih sempat menitipkan maaf kepada saya beberapa menit sebelum tiada. Sekarang, Pipit sedang bersama saya. Itulah penyebab teman saya ini bersedih yang terlalu lama.

Kami yang sampai lagi di Nganjuk pukul 20.40 mampir makan. Pecel pincuk andalan saya jadi pilihan, depan pasar wage. Obrolan yang tak terduga, tiba-tiba saja temanya pernikahan. Hahaha. Wajar, sih. Usia saya dan Pipit terpaut 2 tahun, dia lebih tua. Walau kami teman seangkatan, tapi tuntutan lingkungan tidak sama. Saya memahami kegalauannya. Tapi, saya ragu. Mungkin kali ini ia tak sepenuhnya galau. Apa yang kami bicarakan hanya untuk mengalihkan perhatian. Pipit masih merindukan ibunya.

Rumah

Rumah bukan tujuan. Pulang ke rumah hanya singgah. Beberapa jam lagi saya akan kembali ke Surabaya. Hari ini saya bisa melakukan banyak hal lebih dari biasanya. Di rumah, ruang gerak saya memang tidak banyak. Bukankah hari ini mempesona? Mungkin kau akan menjawab bukan. Tapi, saya iya.

Tuhan Semesta Alam, segala puji bagi-Mu…

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s