2 Malam di Surabaya

Kabar baik dari perjalanan jiwa saya adalah ditemukannya kembali sertifikat A1 dalam selipan amplop di barisan rak buku. Artinya, saya mulai melaksanakan nadzar, berpuasa Daud mulai esok hari hingga tiba waktunya Jerman selangkah dari bandara.

Senin menjelang siang saya ke Surabaya. Karena rencana sebelumnya adalah menyembuhkan diri dari minder dan putus asa, kemudian saya berhasil membawa barang berharga warna salem berbahasa Jerman, jadilah legalisasi sertifikat agenda pertama. FYI, baru ini stempel dan tanda tangan dalam selembar kertas fotokopian dihargai Rp 10.000, dan layanan minimal 5 lembar. Untungnya masih punya uang buat beli es.

Saya meninggalkan Surabaya di awal Bulan Maret, saat hujan masih terlalu sering datang. Kemudian siang itu saya disambut dengan suhu 35⁰C dan malamnya 32⁰C. Apanya ga kebelet nangis? Panasnya mutlak. Sepulang duduk-duduk sambil ceritaan sama Fatah, saya cuma mampu tidur 1 jam. Jelang pukul 3 pagi sudah kelimpungan lalu keramas dan mendekam di kamar mandi. Seperti yang sudah, air dalam bak mandi pun jadinya panas. Kalau kepingin nyoba mandi sambil keringatan, tungguin sampai beruntung macam saya di Surabaya. Begitulah.

Hari kedua beda, lebih adem. Saya main ke kampus, nongkrong di kantin FIB—dulunya Fakultas Sastra, banyak makanan murah di sana dibanding FISIP. Ketemu teman-teman yang masih menyemat gelar mahasiswa, ngamatin mode mahasiswa zaman sekarang, dan tentunya sambil refleksi masa lalu. Kesimpulannya, saya tidak merasa asing! Mungkin karena jiwa saya tetap muda, seusia mahasiswa sarjana.

“Nov, ketemu di Keputih.”–Adi said. Dia ustadz fisika yang menjadikan saya menyukai filsafat alam. Malam itu ditemani Hayu saya niat menuntut ilmu. Ada Mas Sony juga ternyata, yang lulus dari desain interior 5 tahun lalu tapi masih mengira lirik lagu Rhoma Irama ‘piano, mari mari piano’. Ga ada hubungannya yak? Ada. FYI, kalau di komplek Unair nasi rawon harganya Rp 10.000/porsi, di sekitaran ITS cuma Rp 7.000/porsi. Nyammm!

Saya terlalu suka bertemu orang yang banyak tahu dan mau banyak bicara. Februari saya terakhir bertemu mereka. Obrolan kami tetap panjang tentang apapun, termasuk golongan darah. Sok banget deh saya, gaya tahu gitu soal karakter orang. Adi kasih pinjaman buku ‘Ayat-ayat Semesta’-nya, buku ajaib. Tapi Mas Sony? Entah dia terlalu skeptic tentang apa saja atau memang laparnya tak tuntas dengan makan sepiring penuh. Dia tertariknya sama analisis mengapa WC jadi tempat keramat buat nemu yang namanya inspirasi.

Nah, yang menarik itu bahasan soal intan dan arang. Jadi, arang mengaku sama dengan intan, karena keduanya dibentuk oleh unsur yang sama yaitu karbon. Bedanya, intan ditempa oleh banyak energy sedangkan arang tidak. Intan punya ketajaman yang digunakan untuk mengiris kaca, ia pun perhiasan mahal yang terpendar karena memancarkan energi yang pernah diserapnya sebelum dinyatakan ia mempesona. Arang dan intan memang sama-sama disusun oleh karbon, tapi keteraturan pembentuknya berbeda. Begitulah semesta menganalogikan pilihan kita tentang hidup. Mendekam dalam kenyamanan dan keamanan tak mengupayakan apa-apa atau siap didera apa saja agar berharga?

Saya pulang diantar hujan. Syukur tiada tara masih dapat dipertemukan dengan orang-orang yang saya inginkan, meskipun bertemu adik lelaki saya sendiri akhirnya belum bisa. Menjauh dari ibukota Jawa Timur itu membuat saya siap mencintai kota-kota berikutnya yang akan saya singgahi. Kok bisa? Ya bisa aja.

I love you too much, Surabaya.

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s