Waisak dan Penontonnya

Saya kira, 1000 lampion adalah tujuan ribuan orang datang. Bukan waisak.

Pukul 13 saya standby di 2 Km dari Candi Borobudur, ‘nyegat’ rombongan Buddhis dari arah Candi Mendut. Saya turut menunggu bersama ribuan orang di pinggir jalan. Para biksu dan biksuni di perayaan ini akan kami sambut bak model tunggal di pelataran jalanan, memang untuk ditonton, difoto. Jika saya dan lainnya yang ada di sana adalah penonton, maka perbedaan dari masing-masing kami adalah yang tahu apa itu etika dan toleransi, atau yang sama sekali tak tahu diri sekaligus masa bodoh. Identitas orang-orang seperti saya pun macam-macam, dari kamera handphone dan tablet yang digenggam, panjangnya moncong kamera yang dilepaspasangkan, juga macam-macam atribut ‘fotografer’ yang dikenakan. Datang tanpa kamera? Saya rasa hampir tidak mungkin. Akhirnya, acara-acara seperti ini memang mirip pertemuan para ambassador berbagai merk gadget.

VW Caravelle datang di depan mobil ambulance dan mobil patroli polisi. Marching band ada di barisan sebelum gunungan sayur dan buah-buahan. Hingga akhirnya rombongan terbelakang, saya ikut berjalan di barisan terluar ibu-ibu dan bapak-bapak berkaus kuning dan bertopi, yang menggenggam sebatang bunga sedap malam sambil membaca doa (atau mantra namanya?). Saya berpakaian hitam dan berkerudung kuning. Kehadiran saya tidak mencolok, saya rasa. Saya ingin jadi bagian mereka yang tengah melantunkan nada-nada tak saya kenal, tapi saya bilang suara ini lebih seperti lantunan shalawat dalam Islam.

Jalan bersama mereka tanpa ikut memfoto meski ada kamera, saya melihat ke kiri dan ke kanan, dan saya merasa benar-benar jadi tontonan. Mata-mata yang menunggu arak-arakan ini sepanjang siang, tubuh-tubuh yang berdiri kepanasan, orang-orang itu menaruh heran. Ketidakwarasan pertama yang saya rasai sendiri, ketika prosesi menuju Candi Borobudur ini sangat berlimpah cahaya matahari, ternyata ada fotografer goblok yang menyalakan flash tepat di depan wajah seorang biksu. Entahlah, apa kabar otak milik tukang foto itu. Apa boleh saya pastikan nanti malam orang ini akan brutal? Bahkan zoom in dan zoom out saja dia tidak paham, lho.

Sore saya habiskan dengan jalan-jalan keliling area berkumpulnya para jamaah di pelataran Candi Borobudur. Di sana memang tidak ada tempat khusus yang disediakan untuk penonton, tapi penonton bisa nyerobot tempat duduk untuk para Buddhis. Kok bisa? Saya sendiri heran. Bahkan di panggung utama anak-anak muda nongkrong sekenanya, ngakak, teriak , dan sesekali ada yang antre spot untuk take foto. Padahal, di tempat mereka berdiam diri itu adalah tempat suci, dilarang naik, apalagi cuma sekedar berfoto. Siapa pun bisa mengaku dirinya fotografer, yang berprinsip akan melakukan apa saja demi mendapatkan momen. Jika setiap tukang foto disebut fotografer, maka ada yang pakai otak dan ada pula yang tak tahu bahwa sebenarnya otak itu ada. Mendadak saya mual, pertanda harus segera pergi.

Saya naik ke candi. Rupanya, ada satu biksu tengah berdoa di tingkat Arupadhatu. Kerumunannya kecil, mereka memfoto dari depan dan belakang. Saya mengambil foto dari samping agak jauh. Menurut saya mereka yang memfoto cukup sopan, tidak berisik, tidak memilih low angel atau high angel naik ke stupa di sebelah kiri kanan si biksu, mereka juga memotret tanpa flash di cuaca yang mendung–tapi saya tidak lama di sana. Beberapa menit kemudian saat ada intruksi agar semua pengunjung turun, saya sempat melihat kembali biksu tersebut terjebak dalam kerumunan. Saya amati dari jauh, seorang yang baru dikerumuni pemburu gambar tersebut tidak sedang bicara dengan siapa pun. Apa si biksu itu sudah mendapat ucapan selamat waisak dari orang-orang di sekelilingnya?

Di bawah, api abadi siap dinyalakan. Dan, belasan tripot para fotografer pun sudah dipasang berjajar.

Gerimis jadi hujan, saya tidak bawa jas hujan, juga tidak sewa payung. Lalu, saya ambil tempat untuk berteduh di bawah panggung utama. Baru sebentar saja dari atas terdengar suara keras, “Duk duk duk… dukdukduk…”. Saya pernah membaca artikel kritikan soal prosesi perayaan waisak yang tiap tahun masih selalu mengeluhkan hal yang sama. Sore tadi saya lihat sendiri altar dipenuhi orang-orang tak tahu diri. Maka, saya pastikan yang masih terus terjadi adalah suara hentakan kaki para penonton gila yang berlarian di atas panggung utama. Apalagi yang mereka lalukan selain berjuang mendapatkan gambar tanpa etika?

Pukul 19 pengeras suara mengumumkan bahwa panitia masih menunggu datangnya menteri agama, Suryadarma Ali. “Huuuuuuuuuuu”. Menteri agama datang, tetap “huuuuuuuu”. Isi sambutan yang tidak saya dengarkan itu kalah keras dibanding gema orang-orang di sekitar. “Lampion, Pak. Lampion. Nyalain lampionnya.” Pelepasan 1000 lampion dijadwalkan pukul 19, tapi pukul 20 masih hujan, dan para pemberi sambutan masih dalam antrean.

Kemudian saya melihat orang-orang di depan saya pada berdiri. Rupanya biksu-biksu tengah melakukan ritual ‘thowaf’, mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali. Penonton tidak hanya sekedar menonton, tapi turut berebut tempat dan masuk dalam barisan. Nah, di sinilah tragedi beberapa kaki biksu terinjak. Area ini hanya diterangi api abadi dan lampu sorot yang nyalanya tak banyak mengubah suasana. Blitz! Sinting.

Pakaian saya basah, suara penonton yang berisik dan ibadah yang terusik, juga sepanjang kejadian yang nyesek membuat saya ingin pergi. Saya jalan ke mushola. Dari kejauhan terdengar pengeras suara berulang mengucapkan kalimat yang sama, “Tolong kepada pengunjung untuk tidak naik ke altar. Silakan turun. Jika ingin foto, mohon agar mengambil dari jauh saja. Kami minta tolong. Sekali lagi, blablabla.” Tak terhitung berapa kali diingatkan, sampai suara itu hilang dari pendengaran saya. Lantunan doa masih terdengar samar dari pengeras suara, semacam back sound.

Pukul 23 saya terbangun dan mendapati di mushala ini tersisa 5 orang. Dan, menjelang tengah malam itu saya baru tahu bahwa pelepasan 1000 lampion ditiadakan. Saya keluar area Candi Borobudur diantar oleh kuda putih, nama mobil patroli di sini. Di luar sepi. Keramaian beberapa jam lalu seperti hanya mimpi. Apa kekecewaan pembeli lampion seharga Rp 150.000 yang dinyatakan habis stock-nya pukul 17 sore itu lebih parah dibanding para Buddhis yang ingin khusuk di tengah perayaan waisaknya?

Ini antara wisata dan ritual sakral. Tahun lalu, ketika hanya membaca artikel serupa tentang apa yang saya tulis saat ini, saya bisa ikut marah. Kali ini saya alami sendiri. Nulis sambil nangis. Saya berpikir, hati saya yang terlalu perasa atau memang manusia yang saya katakan tak beretika di sana memang sedang sakit jiwa?

Tulisan bisa dibaca berulang. Dan, banyak pengunjung juga menuliskan mengalamannya di sana. Tapi sayang, di mana-mana ababil alay tidak pernah mau membaca dan memahami tata krama, berapapun usia mereka. Silakan tunggu, siapa saja orang yang punya foto jajaran meja ‘cantik’ tempat sembahyang berlatar Candi Borobudur, sukses membidik biksu dengan cahaya ‘sempurna’, juga bergaya gila di atas panggung utama.

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s