Ramadhan 2013

Tak pernah ada yang sama. Tak pula ada yang tiba-tiba. Kali ini bulan puasa mengajarkan pada saya, bahwa sebenarnya kita dekat dengan apa saja. Termasuk keberuntungan.

Bedanya Ramadhan 2013 ini, saya harus membagi jumlah harinya di 4 tempat. Pare, Jakarta, Nganjuk, dan Surabaya. Bukan kotanya yang istimewa, tapi apa yang terjadi pada saya selama di sana.

Pare

Saya punya potongan hidup di Kampung Inggris. Kedatangan saya yang pertama ditampung oleh teman SMA, Ruli. Dia bilang, keberadaan saya menyambung kembali hubungan kami, juga dia dan teman-teman kami. Hebatnya lagi, saya bisa mengunjungi beberapa teman-teman baik saya yang lama absen kabarnya semenjak lulus SMA. Dan sungguh, Allah itu memberi pelajaran manusia dari cerita-cerita. Teman-teman saya menapaki jalan hidupnya dengan cara yang tak biasa. Incredibly proud of them!

Desa sederhana itu memfasilitasi saya bertemu orang-orang baru yang tak terduga, teman-teman seusia saya yang beragam. Pengusaha, pengejar beasiswa S2, pekerja freelance, bahkan ada juga yang menamai diri mahasiswa Pare karena saking inginnya menguasai ilmu di sana. Etapi, kenapa semua teman saya itu laki-laki? Kesimpulan saya, ada jawaban yang hampir tepat kenapa saya tidak bertemu perempuan seusia saya yang seloyal mereka. Well, bisa jadi karena perempuan seusia saya harusnya sudah berkeluarga. #eh 😀

Selama di Pare saya pindah rumah sekali. Setelah pindah dari Ruli karena ingin ganti suasana hati, maka saya menemukan Camp ‘Seruni’. Dua minggu pertama saya sekamar dengan dua anak SMA, yang mereka kira saya juga seusia mereka. Keduanya penghafal Qur’an. Tahu apa yang banyak mereka tanyakan? Bagaimana rasanya berteman dengan lelaki. Subhanallah.

Puasa di Pare mirip di pesantren. Pukul tiga pagi dibangunin, shalat subuh wajib berjamaah, pukul lima harus kumpul untuk program. Malamnya, tarawih di masjid. Btw, karena teman-teman saya banyak dari Thailand Pattani, mereka baca Al-Qur’an selalu rutin, dan bacaannya juga bagus.

Nah, di minggu ketiga saya sekamar dengan anak Thailand. Karena dia, saya merasa harus kembali banyak belajar bahasa Indonesia. Kenapa? Karena Sareefa, namanya, selalu menanyakan kosa kata yang sederhana tapi perlu dimengerti lebih, karena keterbatasannya berbahasa Indonesia. Bayangkan saja, bahasanya adalah bahasa Thai, sedangkan dia harus belajar bahasa Inggris dari bahasa Indonesia yang baru dikenalnya 10 bulan.

Sareefa: Kak, sandera itu apa?
Saya: Disembunyikan, disandera.
Sareefa: Sembunyi? Ga kelihatan?
Saya: Hmmm. Contoh nih. Aku bawa kamu ke tempat yang sepi atau gudang kosong, biar gak ada orang yang tahu kamu di mana. Nah, itu namanya kamu disandera sama aku, Kak.
Sareefa: O, oke. Aku tahu. Terus, kalau melarikan diri itu apa???

Jakarta

Empat hari saya di Jakarta. Bulan puasa kali ini adalah kali kedua saya ada di depan kantor Kedutaan Jerman. Datang seorang diri yang tanpa merasa asing. Saya antre sambil berdiri membelakangi Mall Grand Indonesia dan Bundaran HI. Masih sempat juga jalan kaki karena bus way membawa saya agak jauh, sayanya ngantuk. Ah, tapi tidak harus jalan sampai Sarinah, seperti kali pertama saya mengantar teman urus visanya untuk tinggal di Muenchen.

Dan penantian tuntasnya visa seperti sebahagia dan sesedih saya membaca tulisan gedung-gedung perkantoran di Jakarta, REPUBLIK INDONESIA.

Nganjuk

Hanya rumah yang mewajibkan saya makan sahur, tanpa ikut menyiapkan, tugas saya hanya bangun dan makan. Bulan puasa di rumah sangat terasa, setidaknya menjelang berbuka. Tapi, yang sangat berbeda dari beberapa belas tahun terakhir, Ramadhan tahun inilah waktu yang paling lama saya ada di rumah. 4 hari.

Selama puasaan di rumah, ada yang terasa lebih, karena serunya menyiapkan dokumen untuk visa, sintingnya ujian SIM A, dan lucunya mengemudikan sendiri mobil rentalan sampai ke area persawahan tanpa permukiman–yang saya tidak tahu itu ada di desa apa dan wilayah kecamatan mana.

Dan, saya akan menambahkan lagi 3 hari terakhir sebelum hari raya agar ada rumah. Rumah orangtua saya, yang hanya menjelang hari raya anak-anaknya dapat berkumpul di sana. Ini tahun pertama yang terlalu awal saya pulang sebelum lebaran. Tahun lalu saya pulang tepat di malam akhir Ramadhan, dan sebelumnya saya pulang di hari pertama setelah lebaran dirayakan.

Surabaya

Semoga proses yang harus dilewati di bulan ini berkahnya seberkah Ramadhan. Adik pertama saya tengah menuntaskan skripsi dan persiapan sidang, sedang adik kedua saya kelabakan memenuhi persyaratan student exchange. Tapi, sebenarnya bukan itu alasan satu-satunya saya menyisakan beberapa puasa di Surabaya.

Hampir tujuh tahun hidup di kota ini, yang justru terasa lebih homy dibanding rumah sendiri, susah dilewatkan begitu saja. Bertemu dengan teman lama, bertamu untuk ikut buka puasa, dan bersama untuk saling bercerita.

Selama di Surabaya, selalu ada teman untuk menutup ibadah puasa dari hari ke hari. Ajaibnya lagi, makanan-makanan itu gratisan. Sumpah! Apakah ini istimewa? Mungkin, jika buka puasa berarti adalah makan seperti hari biasa, maka tak ada yang membuatnya istimewa. Tapi, berbuka puasa beda karena sama-sama puasa. Dan sejak kedatangan saya minggu lalu hingga kemarin sore, belum ada satu pun buka puasa yang saya lewatkan sendirian. How lucky I am!!!

Malamnya Surabaya selalu tak beda dengan sorenya. Apalagi Ramadhan. Entahlah, tapi itu rasa yang sampai ke saya. Saya bisa melek untuk i’tikaf beberapa malam, ngobrol dengan teman di pinggiran jalan sampai pukul 3 dini hari, dan tentunya ritme itu butuh kompensasi dengan tidur pagi hingga menjelang siang :p

Setiap Ramadhan pasti tak pernah sama dengan Ramadhan sebelumnya. Jika dulunya saya masih kerja sampai akhir bulan puasa, sok sibuk pula dengan skripsi saya, atau jauh sebelumnya, karena kuliah baru diliburkan H-2, maka di tahun ini saya melewatkannya dengan kondisi dan lokasi yang berbeda. Tahun-tahun kedepan pun akan sama sekali beda. Bersiap saja! 😀

Semoga Ramadhan ini penuh berkah dan ampunan yang berlimpah.

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s