Jerman, The Dream Comes True

“Koen iku lapo nang Jerman?”

Sejak lama suka Jerman, tapi bukan untuk lanjut S2 seketika, tapi hanya domisili dan jalan-jalan asyik di sana. Adakah cara bagi anak desa macam saya sampai ke Eropa tanpa harus kuliah seketika di negera yang sedikit sekali memakai bahasa Inggris, bahasa kedua yang diajarkan di negara saya? Living cost-nya pun extra mahal. Dan oh, Tuhan memberi saya jawaban, Au Pair. Apakah Au Pair? Please, googling! Setiap bulan saya diberi uang saku, makan dan tidur di sini ga usah bayar, kebutuhan primer-sekunder-tersier bahkan nyaris semua difasilitasi. Saya juga punya jatah 1 bulan penuh untuk jalan-jalan. Ya, penuh! Dan saya tetap terima uang saku dengan jumlah normal. Dan yang jauh lebih penting, selama tinggal dengan keluarga Jerman ini saya sekolah bahasa pun gratis. Hidup dengan budaya Jerman yang totalitas, kan?! Ya!

“Terus, koen urip karo sopo nang kono?”

Untuk kesekian kalinya—dan mungkin akan selamanya saya yakin bahwa Tuhan hanya mengirim orang-orang yang kita butuhkan. Kali ini, Tuhan menjodohkan saya dengan orang baik yang (mungkin) tak begitu meyakini pencipta dunia dan seisinya. Ya, saya hidup dengan seorang atheis. Dia single mother dengan dua bayi kembar. Dan yang luar biasa, dia peduli sekali dengan jadwal shalat saya, berapa kali sehari dan berapa lama yang saya perlukan. Undine, namanya, suka mengingatkan saat jadwal shalat tiba.

Soal makanan, sejauh ini tidak ada masalah. Eh, belum jauh juga sik. Jadi, ibu asuh saya seorang pramugari yang kini tubuhnya membesar pasca hamil dan melahirkan, hingga dia bekerja keras menurunkan berat badan untuk kembali mengenakan seragamnya tahun depan. So, makanan yang tersedia itu sayuran dan buah-buahan. FYI, dia ga doyan sama babi. Nah, karena rumah saya di sini dekat kampung Turki, subhanallah sekali di ujung jalan ini ada ‘Supermarket Halal’. Jika saya butuh ikan atau daging, dia atau saya sendiri pasti akan membelinya dari sana. Perfect!

Dia tahu sekali apa yang tidak boleh saya makan, apa yang tidak bisa saya lakukan, termasuk dia juga selalu menanyakan jika ada lelaki masuk rumah ini, sekedar untuk membetulkan beberapa kerusakan atau membawakan barang belanjaan, apakah saya minta diberitahu sebelumnya, barangkali saya perlu berhijab dulu atau masuk ke kamar saja. Wow!!!

Undine sedang cuti kerja dan setiap hari dia di rumah dengan saya. Ada dua mobil, satu untuk dia, satu untuk saya. Meskipun rumah ini dekat sekali dengan stasiun (FYI, kereta di sini ga berisik, sodara!) tapi dia lebih suka saya bawa mobil sendiri ke mana-mana, karena alasan cuaca di luar dan waktu tempuh selama di jalan. Lah, ngapain saya kudu bawa mobil? Ya, karena saya di sini kudu kursus bahasa dan numpang hidup sama dia, yang juga bakal berangkat ke sekolah dan membantunya belanja atau sekedar menyelesaikan beberapa keperluan di luar.

“Oke, Cak. Dadi iki pase koen kerjo, sekolah, ta yaopo?”

Apa aja iya. Hahahaha. Belajar, kerja, dan jalan-jalan pastinya. Kerja??? Hallo, manusia sejagat raya. Di belahan dunia bagian mana yang hidup itu gratis? Penjara pun yang cuma makan tidur, mereka membayarnya dengan kebebasan. Nah, saya punya kesempatan menginjakkan kaki di Jerman, belajar bahasanya, hidup dengan budaya mereka, dan tentunya uji nyali dong, ya. Saya membantu ibu asuh saya laiknya saya sebagai bagian dari keluarga. Dia menanggung beban hidup saya di sini, saya pun membantunya. Sejauh ini, Alles gut! Semoga demikian seterusnya.

“Dadi mari ngono koen kate lapo?”

Kuliah dong!!! Kuliah di Jerman kan banyak yang gratis, jadi di sini saya bisa hunting dulu gitu. Kepikiran cari beasiswa sik. Tapi, kalo emang niat saya kuliah dan tahun depan bisa dapet kampus, bukankah itu pun berkah tiada tara?! Nah, plan B-nya kerja, tetep, buat nyiapin hidup pas nanti udah kuliah. Karena hidup saya unpredictable, seperti orang-orang yang terbuka dengan banyak kemungkinan, jadi belum tahu bakal berapa lama di Jerman. Rencana 4 tahun. Nah, kalau punya uang buat pulang, mending saya tahan, biar bisa ngundang dan ngajak jalan-jalan orangtua ke Eropa—hmmm, adik-adik saya bisa ke Eropa sendiri sik, saya kira. Etapi kalo ada tiket gratis PP ke Indonesia sik gila aja kalo ditolak. Hahahha.

Jadi, karena bumi Allah itu luas, berpindahlah!!!

Jerman, waktu bagian orang lapar yang tiba-tiba dibawain bubur hangat ke kamar sama ibu asuh.

Iklan

4 Comments Add yours

    1. Novida D Airinda berkata:

      Mas Ary, abonnya berjasa sekali. Itu bubur ga enak, eh atau aku yg ga tahu enaknya di mana, dan kubiarkan abon bekerja. Yeah! Sakses yes bisnis abonnyaaa!!! Salam buat Bune Damar dan anaknya :*

  1. Ina Karlina berkata:

    cie mbak iman…
    alhamdulillah, salah satu impiannya sudah terwujud, barokallah kakak..

    ditunggu cerita2 menariknya 😀

    1. Novida D Airinda berkata:

      terima kasih, Ina. kebutuhan bercerita tetep kok, malah lebih. hahahah. semoga Ina juga segera lulus kuliahnya, dan lanjut ke impian berikutnya.

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s