Tentang beberapa #-Lag (Bag. 1)

Sabtu pekan lalu saya tiba di Jerman, dijemput Undine di bandara Frankfurt am Main. Apa yang dia lakukan pertama ke saya? Cium pipi. Dia pun tanya, “kowe apik-apik ae, Nduk?” dan saya menjawab, “awakku ambu banget, Undine.” Kali pertama melihat si ibu ini, terasa sekali dia orang baik hati. Lalu, 10 menit kemudian sampailah saya di kamar lucu, asyik, dan nyaman. FYI, perlengkapan tidur saya di-set pink semua. Hmmmm.

Baiklah. Di postingan kali ini ada beberapa #-lag yang akan saya ceritakan, sejauh habisnya hari ketujuh kemarin.

#CulturalLag – Kamar Mandi.

Di rumah ini kamar mandi laiknya tempat ber-make up. Apa saja yang berbau kecantikan ada di sana, termasuk cotton bud. Settingnya oke banget, cantik. WC duduknya dikasih sarung berbulu, semacam handuk yang diikatkan ke penutup WC. Berbagai jenis shampoo dan sabun dipajang rapi. Di kamar mandi itu juga ada wastafel dan bathtub. Gulungan handuk tersusun tinggi, mungkin jumlahnya ada sekitar 10 sampai lebih sedikit. Aturan yang tak terbantahkan adalah lantai kamar mandi harus kering.

Sebelumnya saya bilang ke Undine, jika setiap kali beribadah saya butuh air untuk wudhu. Ya, setidaknya dia harus tahu saat saya masuk kamar mandi bukan berarti sedang mandi, eek, atau pipis. Nah, karena lantai harus tetap kering maka saya siasati dengan ambil wudhu dari air wastafel. Susah? Tidak juga. Tinggi wastafel normal, seperti di Indonesia, yang jika disejajarkan maka setinggi perut saya. FYI, perut saya ga besar kok, jadi tetep bisa dong angkat kaki bergantian kanan dan kiri. Cieeee!

Nah, di sini alam bawah sadar saya otomatis menyetel ulang ritme dan tempo eek. Jika biasanya sekali bisa 3 sampai 5 kali, di rumah ini diakumulasikan jadi sekali saja. Cukup. Masalah eek, selama ini saya tetap butuh air untuk bersih-bersih, jadi saya tetap aja larinya ke bathtub, ga bisa cuma pake tissue. Hehehe. Jerman juga sangat cocok bagi orang yang tidak mewajibkan diri untuk mandi tiap hari. Ini hari keempat saya tidak mandi. Bukan karena ga ada gayung dan air sebak penuh, bukan, apalagi kalo cuma kudu ngepel buat ngeringin lantai. Di sini dingin, saya ga bau meskipun berkeringat, dan memang ga hobi mandi. FYI, kamar mandinya lebih rapi dan wangi dibanding kamar tidur saya sendiri. Hehehe.

#Foodlag – Menu makanan yang terhidang

Kali pertama saya datang, Undine menyiapkan sepotong roti yang disilakan mau diisi dengan apa saja dan seberapa saja banyaknya. Kenyanglah saya dengan roti segitu. Cuma ya, statusnya itu cemilan, bukan sarapan, apalagi jadi makan siang. Dan selain roti, di rumah ini berlimpah buah. Beberapa hari saya (cuma) makan apel, pisang, anggur untuk tenaga 24 jam penuh. Oke aja sik.

Sebenarnya saya bawa beberapa bahan makanan juga. Ada bawang merah putih goreng, indomie, abon, dan cabai kering. Tapi, saya perlu berpikir panjang untuk mempekerjakan mereka, takut habisnya terlalu cepat. Hahaha. O iya, saya dikasih stok daging dan ikan di lemari es, juga beberapa bahan makanan lainnya, termasuk saus pedas. Yeay! Undine juga punya banyak jenis beras. Jadi sebenarnya tak ada yang perlu dikeluhkan dari makanan. Cuma kan, saya kudu ngikuti gaya makan si Undine dulu gitu. Belajar, kan?! Heu.

#Jetlag – Beda zona waktu

Jika jetlag berarti termasuk gangguan tidur, saya ragu, ini sungguh terjadi pada saya atau tidak. Jam biologis saya ekstra fleksibel, alias ga punya jam tidur. Di sini pun demikian. Tapi yang jelas, saya punya masalah pada perbedaan zona waktu di Jerman dan Indonesia. Contoh, untuk menentukan waktu, saya harus menghitung dulu jatuh di angka berapa setelah ditambah atau dikurang 5 jam, antara jam di Indonesia dan jam saya saat ini di Jerman. Masih sering bingung kalau ada teman cerita yang ada sisipan ‘tadi’. Misal nih, kapan hari teman saya ada yang cerita kalo sore dia ditelpon kedutaan Jerman, visanya udah jadi. Sore? Padahal di sini siang aja belum selesai.

Jadi, begitu dulu cerita saya. Perut lagi ga oke, dismenore.

Salam.

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s