Kilas Balik Perjalanan ke Benua Seberang

Indonesia–Malaysia–Jerman

Jumat dua minggu lalu saya diantar sekeluarga ke Juanda, bandar udara Surabaya yang lokasinya di Sidoarjo. Sepanjang jalan saya merasa biasa saja, tidak senang juga tidak sedih. Aneh. Kan harusnya saya euforia karena besok Sabtu sudah ada di Jerman? Atau sedih gitu karena akan meninggalkan banyak orang di tanah air? Ya, barangkali keduanya seimbang, jadinya pas, biasa aja. Saya berangkat dari Juanda ke Soekarno-Hatta via citilink, jadwal keberangkatan pukul 13.15, tapi dia telat sampai pukul 3 sore. Pesawat tujuan Jerman–transit Malaysia berangkat 19.35 dari Jakarta, yang ini tepat waktu.

Ada beberapa episode yang tak terbayang akan terjadi pada saya. Apa saja?

Duit

TKP pertama terjadi saat check in, nimbang barang bawaan yang ternyata kelebihan 9 Kg. Dan, tarif kelebihan bagasi perkilo di citilink itu Rp 15.000, Sodara! Tambah pajak bandara Rp 40.000 jadinya Rp 175.000. Matek! Saya kan sudah ga ngantongin uang lagi. Tadi pas pamitan sisa uang sudah saya kasih ke Dinda semua buat disedekahkan, karena saya pikir saya ga butuh rupiah lagi.

“Ya Allah Sang Mahakaya, beri saya uang.” Buka dompet, clinggg, ada uang Rp 200.000, mungkin ini uang dari Pakpuh tadi, tapi saya tidak tahu gimana bisa masuk dompet, ya?

Balada perduitan selanjutnya terjadi di Soekarno-Hatta, di terminal 2 keberangkatan internasional. Bisa-bisanya saya ga nyiapin duit buat pajak bandara?! Sinting. Tarif untuk penerbangan internasional Rp 150.000, Kakak. Pengen pingsan! Dan, Allah kasih saya pertolongan dengan mendatangkan Rizky sama Asih, saya dapet uang dari mereka. Asih juga kasih saya 10 euro, buat sangu kalo di jalan nanti ada apa-apa, katanya.

Barang bawaan

Kata Undine saya tidak perlu bawa banyak baju dan sepatu dari Indonesia, dia sudah menyediakan selemari untuk saya. Ukuran kami hampir sama, memang. Etapi besaran dia, kok. Intinya, jadilah saya kepedean bawa barang-barang keras, seperti buku—ahay, contohnya buku!!! Jatah bagasi di citilink itu 20 Kg, dan di Malaysia Airlines 30 Kg. Eh bentar, saya heran, kenapa sama-sama kelas ekonomi tapi Garuda Indonesia cuma kasih bagasi 20 Kg buat penerbangan internasionalnya, ya?

Ada dua yang saya kasih ke bagasi, satu koper—ga tahu pasnya berapa inch, berat 21 Kg, satu lagi tas batik ukuran lumayan beratnya 8,5 Kg. Nyaris 30 Kg. Saya juga bawa beban di punggung, carrier 28 liter yang di dalamnya ada laptop dan kamera. Itu carrier kan ada rain coat-nya tuh, saya pasang terus masih saya isi lagi. Ada buku, beberapa barang kecil dan sepatu yang belum masuk ke tas. Jadi penampakan dari luar banyak tonjolan-tonjolan yang tak semestinya, dan kira-kira berat total mendekati 10 Kg. Di leher saya masih ada tas rajutan yang isinya juga buku-buku, nyaris 5 Kg waktu saya timbang tadi—kepikiran naruh bagasi. O iya, satu lagi, saya ngalungin tripot.

Asessoris gemelantung ini bikin dilema tiada tara. Saya sempat mikir buat ngebuang salah satu isinya. Tepat di bawah eskalator sebelum naik ke gate 7 saya ngesot. Baca ulang baik-baik, dilarang membawa barang dengan jumlah sekian, ukuran sekian, berat maksimal 7 Kg. Pengen nangis, sumpah. Selama ini saya ga pernah bawa banyak barang, ga pernah juga bermasalah dengan kelebihan bagasi, tapi masa iya sekarang harus ninggalin beberapa barang karena ga semua bisa masuk kabin? Saya tolah-toleh, adakah penolong yang akan meringankan beban jika nanti saya tidak lolos screening menuju ruang tunggu? Akhirnya, saya bongkar lagi, saya tata lagi. Hasilnya? Sama.

Psikologis saya tertekan, tapi, ya mau gimana lagi. Saya gontai, tapi tetap berdoa. Dan, ajaib, lolos!!! Petugasnya cuma ngeledek, “pindahan rumah, Mbak?” Hyaaaa, alhamdulillah. Tapi ga lama kemudian saya was-was, ada himbauan agar nimbang ulang dari pengeras suara, karena maksimal beban yang boleh masuk kabis 7 Kg. Saya doa, “Ya Allah, selama ini saya belum pernah ambil jatah kabin sampai 7 Kg. Izinkan jatah itu saya akumulasikan sekarang. Uang kembalian tadi cuma dua puluh lima ribu, kalau dua kilo saja yang ditambah ke bagasi masih kurang lima ribu. Tolong.” Ini perjalanan paling berat.

Perjalanan lancar. Hanya saja, pas tiba di bandaranya Jakarta baru tahu kalau tuxedo dari bapak saya ga kebawa. Sedih. Di situ ada syal rajutan dari Dinda sama ibu saya juga soalnya.

Nah, setelah ambil bagasi saya ambil trolly sambil keluar nyari terminal 2, baru tahu juga kalo jauh, saya di terminal 1. Ternyata ada shuttle bus segala, warna kuning, gratis. Dan beberapa saat saya merasa jadi pusat perhatian. Trolly penuh euy. Hah, emboh! Pokoknya Asih sudah menunggu saya di terminal 2 D.

Tahu apa yang saya lakukan begitu ketemu teman seangkatan yang mengabdi di Kementerian Luar Negeri RI tapi mengaku belum punya paspor ini? Setting ulang barang bawaan! Saya tidak tahu aturan apalagi yang berlaku di kabin pesawat selanjutnya. Jika domestik 7 Kg maka internasional berapa? Nah! Sama saja ternyata. Maka siasat selanjutnya, kamera dan laptop keluar dari carrier, karena keduanya dianggap sah ada di kabin. Total berat carrier? Doa saja. FYI, aturannya, tas yang boleh masuk kabin itu maksimal 2 dengan total berat 7 Kg.

Selamat! Sekian banyak barang dengan berat yang aduhai, padahal pakaian hanya bawa beberapa helai, saya seret semua dari pengambilan bagasi di bandara Frankfurt am Main sampai pintu keluar. Tahu kenapa? Karena kalau mau pakai trolly bayar 2 euro, Cak. Saya pikir, inilah momen penghematan pertama saya di Jerman. Lagian, saya juga ga punya koin. Hehhe.

Estimasi waktu

Sebelum memutuskan untuk memilih citilink pukul 13.15, saya hampir pilih maskapai lain yang berangkat pukul 15-an. Flight saya kan 19.35, ngapain lama-lama di Soekarno-Hatta? Ya, kalo saya sekedar mau main Surabaya-Malang gitu boleh lah ya pilih jam berapa ini. Ini ke Jerman, ga lucu kalo ketinggalan pesawat gara-gara salah pilih jadwal yang tidak ada jaminan berangkat kapan tibanya kapan.

Saya check in di Soekarno-Hatta hampir pukul 18, ditemani Rizky yang memang dia punya free pass sampai ruang tunggu–dia petugas imigrasi sik. Menurut jadwal kan saya baru berangkat 1,5 jam lagi, tapi saya tidak tahu ada sederet apa yang harus saya jalani di penerbangan internasional ini.

Yak, pertama dicek paspor terus kasih stempel. Diraba-raba stiker visa-nya juga. Terus ditanya, “ini mau langsung ke Frankfurt? Oke. Silakan.” Katanya Rizky, untuk jadi petugas raba-raba begituan sekolahnya 3 tahun. Hwih!!! Gate D4, ruang tunggu saya, akan ditempuh dengan jalan kaki santai selama hampir 20 menit. Lalu antre, cek barang lagi dan cek paspor lagi.

FYI, saya cek kembali di boarding pass, jadwal kedatangan di bandara Malaysia adalah pukul 22.35 waktu setempat, dan keberangkatan berikutnya adalah pukul 23.59 waktu setempat. Selisih 1,5 jam, kan?! Jangan santai dulu.

Cita-cita saya setelah nanti tiba di Malaysia adalah ganti baju. Jadi, melenggang indahlah begitu nemu toilet. Santai sayanya. Nah, begitu keluar, liat ke sekitar sepi, liat atas ada jam, ternyata sudah menunjukkan pukul 23.25 loh. Lariiiiiii. Gate saya di C35. Di mana? Drama banget ini, sumpah. Jalannya sungguh panjang nan sepi. Saya lihat petunjuk arah, saya harus naik sepur. Wih, kalau di Indonesia shuttle bus, di Malaysia sepur. Setelah turun masih harus lari lagi, arah panahnya dalam menuju C35. Dan saya dibalap sama segerombolan bule. Mungkin pesawat kita sama, Mas. Terus saya senyum-senyum sendiri, gini amat jeda transitnya.

Makanan

Saat panik dan nelangsa karena pemberian keluarga saya ilang di bandara, saya ga nafsu makan. Tapi di pesawat kedua yang cuma Jakarta-Kuala Lumpur itu saya bisa makan, dan Kuala Lumpur-Frankfurt am Main juga tetep makan 2 kali. Hahahaha. Insyaallah ga mungkin kelaparan, kok. Nasinya memang ga seberapa, tapi embel-embelnya itu lho. Yogurt aja dikasih 2 cup. Masih ada roti sama pastanya, coklat juga. Kalau kurang air, bilang aja ke pramugarinya, dikasih gratis. Air saya yang isi ulang dari bandara Malaysia aja baru terminum pas perjalanan ke rumah Undine. Pisang goreng coklat keju dari Ratih baru saya makan pas nyampe kamar. Hehhe.

Ah, senangnya bisa nulis ini. Rasanya sudah lama pengen cerita sejak lolos pemeriksaan di imigrasi bandara Frankfurt am Main. Ya Rabb, saya sudah di Jermaaaaaaaaaan!!!

Iklan

6 Comments Add yours

  1. ndutyke berkata:

    Haloooo… *lambai tangan*
    salam kenal yaa… arek Suroboyo juga? Skrg masih di benua seberang pastinya ya?
    Aku juga rencana akhir bulan ini mau pindahan rumah (mengutip kata petugas bandara, hahaha) ke benua seberang tp di bawah sana….. mampir kemari hasil dari googling ttg brp maksimal berat koper untuk penerbangan internasional Garuda. Insyaalloh ruteku nanti Surabaya- Denpasar (transit 4-5 jam), lalu Denpasar- Sydney.
    Thanks for sharing ya. Semoga perjalananku nanti selancar perjalananmu

    1. Novida D Airinda berkata:

      Haiii. Terima kasih salam kenalnya 😀
      Semoga kita bisa saling mengunjungi di perantauan yang berjauhan. Selamat yaaa 🙂

  2. ludvinanessa berkata:

    Haloo, salam kenal mba 🙂
    Saya mau tanya nih, saya mau pulang ke indo dari amsterdams via malaysia airlines sabtu ini..
    Yang mau saya tanyakan, bolehkah saya bawa 2 koper ukuran sedang dan besar ke dalam bagasi dgn berat 30kg?
    Soalnya agak takut ga boleh.
    Makasih infonya yaa mba 🙂

    1. Novida D Airinda berkata:

      jatah bagasi emang 30 Kg, Mba. jadi ya boleh aja bawa berapa koper, asal total beratnya ga lebih 😀

      salam buat Indonesia ya, Mba 😀

      1. ludvinanessa berkata:

        Oo begitu, oke deh mba terimakasih banyak loh infonya 🙂
        Lalu klo ternyata bagasi lebih dr 30kg itu boleh ga? Kena biaya brp yaa mba kelebihan per kg nya?
        Thank’s

      2. Novida D Airinda berkata:

        maaf, Mba, saya ga tahu per kilonya berapa. http://www.malaysiaairlines.com/my/en/plan/baggage.html Mba bisa cek atau tanya gitu ke CS-nya. Heheh.

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s