Wow, Saya Nangisnya ke Mama!

Sejak lama saya malas mendengar orang-orang di sekitar saya memuja-muja ibunya. Pun, saya tidak pernah tertarik untuk bercerita tentang keluarga. Buat saya, dalam hal ini saya pasti jauh dibanding teman-teman. Saya dan orangtua saya biasa aja, tapi kenapa yang lain lebay semua? Hmmm, oke, kalau semua begitu artinya kesalahan ada pada saya. Mbak Citra, manajer HRD di kantor saya dulu pernah tanya, siapa wanita idola saya. Berhubung itu hari Kartini, saya jawab, ‘tidak ada’. Ga ada hubungannya juga sih, mau hari Kartini ato bukan, jawabannya memang begitu.

Keluarga saya bukan tipe menye-menye dan saya tidak dibesarkan dengan dongeng-dongeng pengantar tidur. Saya juga tidak tumbuh dari orangtua yang memanjakan anaknya, pun tidak dididik dengan cengengas-cengenges. Lalu, saya heran dengan kebanyakan teman-teman yang keluarganya tidak lagi utuh, mereka cenderung membanggakan diri dengan memamerkan penderitaannya, kemudian secara tersirat menganggap anak-anak dengan keluarga sempurna itu lebih manja dari dia. Eh, maaf, curhatnya kebablasan. Jadi, sejak kecil saya tidak punya kecenderungan berbagi dengan orangtua, khususnya ibu saya. Sampai umur sekian pun masih demikian.

Kecewa, sakit hati, takut, ragu, dan cemas adalah kumpulan rasa yang melemahkan apa saja. Apa yang baru saja saya alami, proses mencari keluarga baru, adalah gemblengan terberat dalam hidup. Buktinya, itu menjadi momentum kali pertama saya cerita segalanya ke ibu saya hingga berderai air mata, nyaris setiap hari selama satu minggu. Dan ini belum pernah terjadi sebelumnya!!!

Sebenarnya ada ragu yang membuat saya enggan menceritakan tentang keharusan segera berganti keluarga asuh, karena saya khawatir dengan kekhawatirannya. Tapi, ternyata saya salah, ibu saya sudah berubah. Dia lebih tenang dan berpikir positif. Dan, yang lebih hebat adalah dia lah yang selalu meyakinkan saya bahwa semua akan baik-baik saja. “Apa yang menjadi ujianmu sebenarnya tidak lebih berat dari besarnya kekuatanmu. Allah hanya menguji untuk menaikkan derajatmu. Semoga kamu sabar, terus berdoa dan berbaik sangka.”

Akhirnya, menangis dan mengadu pada ibu saya adalah hikmah terbesar. Setiap hari saya menelpon hanya untuk bicara dengan ibu saya. Saya masih ingat benar bagaimana cara saya sesenggukan sambil bilang, “tapi aku takut, Ma.” Dan, tidak sekali saja saya ingat kapan bibir si anak ini pernah merengek begitu pada ibunya sendiri.

Terima kasih, Tuhan. Ternyata saya tidak harus selamanya jadi anak yang kasihan.

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s