Sensasionalnya Salju Pertama

“Novida, guck mal. Schnee is coming down!!!”

Birgit, ibu asuh saya yang baru, membukakan jendela dan menunjukkan butiran salju yang lembut itu. Selasa, hari kedua salju datang itulah saya baru tahu bagaimana sensasi melihat langsung cara mereka turun ke bumi. Mirip di tivi, seperti yang pernah saya tonton. Sorenya, salju lebih deras. Seluruh indera saya takjub setelah merasakan salju jatuh di tubuh, lalu percaya bahwa kristal-kristal air yang ada di gambar-gambar itu nyata, bukan rekaan manusia. Mata telanjang saya bisa melihatnya, sama persis.

Kamar saya di depan, hingga setiap pagi bisa melihat setebal apa dia memutihkan bumi semalaman. Sabtu pagi tadi adalah salju paling tebal dari sebelumnya, kurang lebih 10 cm, hingga siang saya tidak bisa melihat lagi di mana batas langit dan bumi. Akibat -10°C semalam, yang sekeliling rumah ini adalah hutan cemara dan gundukan pegunungan hingga siang ini tidak terlihat sama sekali. Semuanya putih, berkabut, dan tanpa matahari.

Jika sebelumnya saya berpikir musim salju itu saatnya bersenang-senang, maka sekarang tidak sepenuhnya benar. Bibir saya mengering hingga berdarah, kulit muka saya luka, punggung tangan pun lecet-lecet. Bisa membayangkan sakitnya? Belum lagi jika keluar ruangan tapi apa yang kita kenakan tak cukup menghangatkan, bagian badan bisa mati rasa yang sensasinya harus melewati tahap kesakitan, seperti kita menggenggam es batu tanpa mampu melepasnya dengan segera. O iya, di musim begini ini beberapa orang akan mengalami mimisan, termasuk saya.

Dua bulan sebelumnya saya tinggal di kota, gedung-gedung dan keramain membuat saya mengagumi manusia, dan sekarang saya ada di antara bentangan ciptaan Sang Maha Segalanya. Hidup di desa, di lembah pegunungan Alpen ini, saatnya saya menyerap energi alam sebanyak-banyaknya. Akhirnya, buat saya salju itu lebih dari indah. Putihnya bersih dan ajaib. Setiap kali melewati hutan cemara yang daun-daunnya tetap berjaya di musim gugur, dan melihat gundukan salju ada di setiap ujung-ujungnya, bisa bilang apa selain pujian untuk Tuhan?

Iklan

2 Comments Add yours

  1. mariskaajeng berkata:

    Waah udah saljuaan, tinggal di mana? di sini belom, kalo perlu ga usah turun salju juga gak apa :p

    Selamat menikmati indah dan dinginnya salju 🙂

    1. Novida D Airinda berkata:

      Di Jerman sisi selatan, Kak. Udah seminggu saljunya. Hehehe. Lagi norak-noraknya nih 😀

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s