Sabarrrrr!!!

“Novida, kenapa kamu tampak tidak butuh lelaki? Feminis sekali.”

“Mungkin para lelaki itu tidak pernah menganggapmu perempuan.”

“Sesarkas-sarkasnya kamu, aku menunggu siapa lelakimu. Aku akan menemukan dirimu sebagai wanita.”

Saya yakin bahwa sebenarnya rasa itu bisa dibuat, mau bersemi atau mati. Saya meyakini, separuh dari pura-pura itu nyata, seperti halnya bercanda yang separuhnya serius. Sampai sekarang saya masih belajar menghargai orang berpura-pura baik, siapa pun dia. Mengelola rasa adalah pekerjaan otak dan hati, bukan cuma satu di antara keduanya. Pun begitu dengan rasa suka pada lelaki, yang saya anggap serius hanya ketika bersedia hidup mendewasa dan menua bersamanya.

Dan akhirnya Tuhan memberi saya rasa cinta laiknya wanita dewasa. Tapi, apa saya dewasa? Tidak, saya hanya kanak-kanak yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. Orang dewasa tahu bagaimana mengelola rasa, tetapi kali ini saya tidak mampu mengendalikan sendirian. Jika saya memang cukup dewasa, maka saya tidak akan pernah protes pada Tuhan mengapa saya diberi rasa yang tidak saya inginkan. Jika saya cukup dewasa, tulisan ini tidak saya perlukan sebagai pelampiasan perasaan. Bukankah idealnya cukup saya dan Tuhan yang tahu?

Ini adalah perasaan yang sejak lama saya tertawakan. Bagaimana orang bisa begitu saja menuruti instingnya? Di mana peran otaknya? Bagaimana hatinya bekerja? Sampai akhirnya apa yang terjadi pada saya saat ini telah menembus pertanyaan itu. Lolos. Jadi, pilihan apa selain mendadak gila?! Menikah? Iya, harusnya. Tapi dengan kondisi sekarang ini saya belum mampu. Lalu, bisa apa selain menahan rasa dalam doa-doa? Ujian perasaan itu susah, sebab kita harus melawan diri sendiri. Ini lho yang namanya sabar. Ini. Bukan tentang siapa orang yang menjadikan saya sedemikian rupa, tapi bagaimana saya bisa melalui ini dengan bijaksana. Bersabar.

Jika lelaki hebat karena di belakangnya ada wanita hebat, maka wanita hebat karena dirinya sendiri. Lalu, mengapa terlalu banyak wanita-wanita di sekeliling saya begitu lemah pada lelaki? Karena sebenarnya mereka melawan dirinya sendiri. Bagaimana saya menyimpulkan demikian? Inilah yang terjadi saat ini. Yeay! Tuhan Maha Penguji Perasaan.

Iklan

2 Comments Add yours

  1. savira berkata:

    Tulisanmu kali ini menohok hatiku…so deeply 😦

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s