Musim Dingin

Hidup di Surabaya yang panasnya membara, jika perlu saya bisa menangis saking ga kuatnya, tidak terbayang bagaimana itu rasanya salju. Titik terendah yang pernah saya rasakan di Indonesia berada di Dieng, 10°C waktu musim kemarau. Pernah kan, tidur sampai gigi atas dan bawah saling serang dan adu hebat? Sensasi begitu pernah saya dapat juga di Ranu Kumbolo pas musim hujan, 12°C. Saya kira keduanya sudah yang paling menyakitkan. Kemudian, di Jerman ini saya ditempa musim dingin hingga -9°C. Sedihnya, kalau pas begitu bertepatan dengan kondisi saya yang harus jalan kaki dan kadang masih ditambah menunggu bus. Rasanya ga karuan, stress. Mungkin juga karena kita dari negara tropis, makanya imajinasi sama salju sebelum bertemu justru mau bikin es teh.

Sebenarnya di akhir musim gugur kemarin pernah sampai -2°C, sih. Tapi tidak ada salju, cuma embun-embunnya membeku, hanya sekedar kaku. Saya mengira itu masih di musim gugur karena cuacanya labil dan anginnya gila. Nah, begitu takdir membawa saya ke lembah Alpen ini, saljunya datang sehari setelah saya tiba, maka musim gugur saya pun berlalu. Kalau dihitung, hari ini tepat satu bulan–saya mulai belajar menghitung waktu. Apa yang terjadi di tiga minggu pertama? kulit muka lecet termasuk bibir, bagian punggung tangan seperti terbakar, siku juga lutut dan sekitarnya luka, dan saya mimisan. Itulah musim dingin. Itu!

Indonesia yang tropis punya kelembaban tinggi, jadi di sana saya merasa tidak pernah perlu pakai henbodi. Dan, itu semua tidak akan pernah sama ketika saya ada di musim yang muka berminyak saja tidak akan kejadian. Nah, terbayang keringnya udara di sekitar saya? Makanya, nasi tiga hari juga ga basi. Heran itu saya dulu, kenapa makanan saya awet tapi badan tidak. Maka, kesalahan saya adalah merasa baik-baik saja dengan musim baru, karena gejala perubahan di awal itu tidak dirasa hingga akhirnya jadi begini ini. Etapi kulit-kulit itu sudah kembali ke sedia kala, kok. Tinggal mimisan aja, ga bahaya juga. Uniknya, kalau dari dulu saya suka dingin, dengan kipas angin atau AC, sekarang ini malah sukanya meluk mesin pemanas.

Dan ternyata di musim dingin masih ada matahari. Salju tidak setiap hari turun, dan juga masih ada hujan air. Salju buat saya menyenangkan, tapi susah juga kadang. Jika turunnya deras dia sering kali mengganggu, menutup permukaan jalan misalnya, maka akan disingkirkan pakai alat berat–ada petugasnya. Nah, salju yang menumpuk di pinggiran jalan begini ini warnanya tidak lagi putih bersih, bisa hitam bisa coklat, kotor. Di desa saya terakhir salju Jumat lalu, hingga jika sekian lama tidak ada salju baru, es-es itu mencair. Nah, barang baru kan asyik, tapi kalau sudah jadi lapisan es dia bahaya, bisa terpeleset. Jangan dikira musim begini ini suhu minus terus, kemarin siang masih bisa 10°C. Asyik, kan?! Norak-norak bergembira begitu lah saya.

Eiya, satu lagi yang oke di musim dingin. Pagi tadi saya masih bisa shalat malam pukul 05:45.

Iklan

2 Comments Add yours

  1. ihwaniqbal berkata:

    wuahh,,bagaimana dengan badan saya yang kurus kerempeng, pasti tulang-tulang pada bergetar-getar..wkwk

    ehh kok bisa sholat malam jam 5.45..??emang shubuhnya jam berapa??

    1. Novida D Airinda berkata:

      Subuhnya jam 6:04, Wan. Dan itu jadwalnya bakal geser mundur terus.
      Etapi musim dingin itu kalo badan udah adaptasi, ga sedingin yang dibayangkan. Sekarang kena 7° C bisa kepanasan. Hahaha 😀

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s