Seputar Persoalan Makanan

Ibu saya masih saja suka bertanya saat kami chatting atau telpon, makan apa dan kenyang atau tidak. Itu pertanyaan berpasangan. Terus, ujungnya tanya berat badan. Saya yang semula baik-baik saja ditanya, dan ending pertanyaannya selalu sama–yang sebenarnya juga tahu itu bakal penutupnya–harus semakin memperbesar perasaan. Ya, emak-emak emang begitu sik.

Ibu saya dan orang kebanyakan menganggap yang di Eropa itu makannya cuma roti. Jadi, memang tidak selalu kenyang makan dua lembar roti tawar dengan isian apa saja–itu saya. Kalau saja kenyang, maka tidak lama. Biasanya menu roti itu disajikan pagi, sedangkan untuk siang makanan berat, dan malam lebih fleksibel. Awalnya canggung, saya merasa ada yang salah dengan siklus makanan dalam tubuh. Tapi, ‘food lag’ itu berangsur-angsur selesai setelah tiga bulan ini. Maksudnya, bulan ini masih mengangsur, belum selesai juga prosesnya.

Setiap pagi, selama ini menu sarapan cuma roti. Rotinya pun macam-macam, tinggal pilih. Tapi, apapun pilihannya, namanya tetap saja roti. Karena niat saya di awal menyesuaikan diri dengan siklus hidup keluarga di rumah ini, termasuk makanannya, jadi saya harus punya trik mengatasi masalah sarapan roti. Apakah itu? Minum kopi 2 mug sebelum melahap roti, dan 1 mug lagi setelahnya. Nah, saya bisa 2 mug sekali minum karena kopi di sini itu bukan kopi tubruk. Maksudnya, biji kopi yang keluar dari coffee machine masih harus ditambah susu. Kuat aja gitu sayanya. Barulah setelah 2 mug habis, anggap ini minum susu rasa kopi, bikin sekali lagi sambil makan roti. Ini yang disebut sarapan. Mau diisi salami, selai buah, atau coklat krim, terserah. Apakah sebelum makan siang bakal lapar? Iya. Dan, jam 10.30 di rumah ini ada acara ngopi lagi. Mirip tea time gitu.

Menu makan siang sangar, karena itulah makan yang sesungguhnya. FYI, semua jenis daging yang terhidang tidak ada yang segar. Jangankan ikan laut, daging ayam saja frozen. Nasi dan kentang pun kadang terhidang bersamaan, tergantung menunya apa dan lagi selera pakai yang mana. Memasak menu makan siang cuma ada dua, simpel atau ribet. Tapi yang pasti menunya selalu oke, walau saya selalu lupa apa namanya. Satu main course yang bikin saya pede sejagat raya buat pamer masakan-masakan Indonesia, sayur lodeh. Beritanya sudah sampai Swiss pula, cuma karena Christoph doyan makan masakan itu. O iya, pan cake dan waffle masuk pilihan makan siang, pasangannya sup. Saya ga ngerti kenapa bisa begitu, belum sampai sana mikirnya.

Nah, begitu malam tiba, roti lagi. Hahahaha. Ga juga sih, suka-suka mau apa. Makan malam tetap barengan di meja yang sama, hanya saja pilihannya beda-beda. Seringnya saya makan makanan olahan, yang tinggal memanaskan dari frozen. Atau masak nasi sendiri kalau memang sedang lapar tak terkira. Di sinilah (hampir) pentingnya peran indomie dan mie instan merk lain. Btw, saya ini lagi kepengen nyoba indomie rasa baru: bulgogi, laksa, sama tom yum.

Prestasi buat saya setelah satu bulan hidup di desanya Jerman ini yaitu sukses mengenalkan nama sayur lodeh, semur, dan bubur ayam. Nah, berhubung masakan saya selalu enak dan unik buat mereka, padahal saya ngarang juga bumbunya, Senin besok bakal kembali belanja di toko Asia. Buat saya, yang penting masakan itu termakan dan improvisasi bagian dari seni. Toh mereka kan tidak tahu rasa sebenarnya bagaimana. Hahay!!!

Dan yang saya tanamkan sejak beberapa bulan lalu, apa pun kondisi saya, tidak seharusnya saya gundah perihal makanan hanya demi kepuasan. Di saat saya masih bisa memilih ingin makan apa, di belahan dunia lainnya justru tidak tahu harus makan apa. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pemurah.

Iklan

2 Comments Add yours

  1. nah ini lah yg jd salah satu tujuan saya jd au pair yaitu ngenalin masakan khas indonesia.
    first time pengen jd au pair itu dari tahun 2011 smpet saya kubur keinginan itu krna saya sibuk ngajar di sekolah sd dan tahun ini gairah itu balik lagi.
    mau nanya dong apa saya harus punya sertifikat A1 dulu ya baru bisa berangkat?
    mba bisa jd au pair dari web apa sih mba?
    aq suka sedih dan hampir nyerah deh pdhl pngen bgt prtukaran budaya sm negara kain apalagi jerman wlwpun aq tau bakalan sulit.

    1. Novida D Airinda berkata:

      Googling dulu syarat urus visa Aupair di Jerman. Aku sih dulu daftar ke semua web yang ditemukan. Hahaha. Untung-untungan, ga ada jaminan cepet dari web manapun. Aku nunggu sampe setahun kok. Sukses yes 😀

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s