(Akibat) Seloyang Kue Panggang

Oma menegur saya setelah mami bilang kue seloyang kemarin itu dibuat Katharina spesial untuk saya. Ya, kemarin memang dapur kotor setelah mami berangkat kerja. Oma yang perutnya masih penuh berpesan agar saya ng-coffee time barengan sama papi, juga Christoph dan Katharina, berempat. Tapi, karena saya lebih sayang wese, jadinya saya ga ikutan acara rutin harian itu, juga tidak menyusul kemudian setelah hajatan saya tertunaikan. Alhasil, seloyang kue panggang kemarin masih utuh sampai hari ini. Kenapa ga bilang juga sih kalo itu sebenarnya spesial buat saya. Ya mana saya tahu, sampai akhirnya ga ada yang mau makan duluan.

Semakin ke sini semakin terasa bahwa jauh itu benar-benar jauh. Saya mulai terbiasa menyapa dengan “morgen”  dan “bis morgen” setiap pagi dan malam kepada semua. Mereka yang mengajari saya. Tepatnya, saya meniru bagaimana cara mereka berlaku pada saya. Budaya Eropa yang hangat. Keluarga ini benar-benar seperti nenek-kakek, bapak-ibu, dan adik-adik saya sendiri. Sedangkan yang di tanah air tidak beda sebelum saya di Jerman dengan sekarang, biasa saja. Di sini dan mereka di sana, kami tetap sama, melanjutkan kebiasaan yang menahun.

Dari kejadian barusan, pikiran saya random serandom-randomnya.

Tiba-tiba saya menyimpulkan bahwa orang yang kita cintai adalah teman terbaik. Dia menjadi pilihan kita untuk berbagi apa saja dan dia juga akan selalu jadi yang utama, meski bukan pertama–utama itu nilai dan pertama itu urutan. Saya menganalisis perasaan saya, karena Tuhan tengah mengajarkan pada saya tentang ini. Jadi, tidak ada yang salah dengan mencintai teman sendiri. Toh orang yang kita nikahi itu disebut juga teman hidup–juga semati bila perlu.

Konsepnya simpel, jika dia adalah teman terbaik saya dan saya pun teman terbaiknya, maka kami adalah teman hidup satu sama lain. Sebagai teman terbaik sudah pasti pula sebagai yang utama, maka tidak pernah perlu ada rasa minder pada teman lainnya–bahasa gaul untuk kata ini adalah cemburu. Asyik, kan?! Bahwa menikah adalah janji agung yang mengikutsertakan Tuhan dalam pertemanan–antara saya dan teman terbaik saya. Ini random tapi serius. Tapi sebenarnya mau ngomongin apa yak? -______-”

Kemudian saya berpikir tentang anak-anak yang lucu, meskipun sampai sekarang saya masih takut sama rasa melahirkan. Saya ingin sekali makhluk-makhluk kecil di masa depan itu merasa beruntung punya orangtua seperti saya dan bapaknya. Saat ini saya berpikir bahwa anak-anak unik itu harus merasa dirinya unik mulai dari nama. Abjad awal pada nama masing-masing berdasarkan urutan lahir. Misal, nama dengan awalan A untuk anak nomor 1, awalan B untuk anak nomor 2, awalan C untuk anak nomor 3, dan seterusnya. Panggilan mereka pun akronim dari nama lengkapnya. Betapa beruntungnya saya jika diizinkan berkreasi begini. Serius, ini random yang bisa serius bisa tidak, tergantung kebutuhan.

Yak! Sesaat lagi seloyang kue panggang akan disantap bersama beberapa cangkir kopi, sekuatnya.
Selamat sore dari Jerman ujung selatan 🙂

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s