Aupair itu Pembantu?

***Ngapain di Jerman? Aupair. Apa itu? Googling!

Saya tergoda bercerita setelah menemukan beberapa kesimpulan kecil. Kecil, kok. Kecil. . .

Jadi, keluarga asuh saya yang pertama tidak pernah sekalipun meminta saya membersihkan rumahnya, kecuali berpesan agar kamar mandi yang kami gunakan bersama tetap kering. Pun dengan keluarga kedua ini, sama. Mereka membersihkan sendiri isi rumahnya, hanya sesekali minta bantuan–jadinya sama-sama kerja, bukan saya yang kerja sendirian sedang mereka ongkang-ongkang. Dua keluarga saya ini asli orang Jerman. Mengapa demikian? Cekidot!!! 😀

Dua setengah bulan pertama, saat itu saya mengurus bayi kembar yang melek dan tidurnya kadang bersamaan, lebih sering bergantian. Si ibu selalu mengerjakan sendiri pekerjaan-pekerjaan dalam rumah, termasuk membuang sampah. Ya, memang kontrak yang kami sepakati begitu, saya tidak dibebani pekerjaan rumah tangga. Saya juga tidak terlalu merasa janggal jika pakaian-pakaian saya pun dia yang membereskan, mulai dari memasukkannya ke dalam mesin cuci hingga kering dan kembali dalam wujud lipatan rapi. Tapi, jika setiap pagi pun dia yang membuatkan kopi untuk saya, justru saya yang merasa (terlalu) dilayani di rumah keluarga yang saya tumpangi. Bagi anak desa macam saya, sikap seperti ini sudah termasuk level baik sekali.

Dan setelah pindah di sini, saya juga tidak diminta membersihkan rumah. Keluarga saya yang sekarang anaknya usia 9 dan 13 tahun, sedang si ibu bekerja shift di rumah sakit yang kadang masuk pagi atau siang, tapi hanya tiga kali dalam tujuh hari. Suatu malam pada dua minggu pertama saya bertanya, mengapa beberapa hari saat ia pergi pagi dan semua keperluan anak-anaknya sudah selesai di atas meja, padahal itu tanggung jawab saya. Dia menjawab, “saya terbiasa melakukannya. Baiklah, saya akan membiasakan sesuai permintaanmu.”

Apa persamaan dari keduanya? “Rumahku adalah rumahku.”

Sebelum saya berangkat ke Jerman, bahkan hingga sekarang, tidak sedikit yang meyakini saya di Jerman ini laiknya TKW, yang diperbantukan dalam urusan domestik rumah tangga. O iya, sampai ada yang bertanya, “gimana kalau punggungmu nanti distrika?” Ya, bukan salah mereka yang tidak sepaham dengan saya. Sejak usia kanak-kanak kita terbiasa hidup enak, apa-apa dilayani. Sadar atau tidak, mental orang Indonesia memang mental majikan, seperti kata @Pandji.

Konon, kalau aupair dapat keluarga asuh dari Asia–misal orang Indonesia yang menikah sama orang Jerman, kebanyakan mereka diperlakukan laiknya pembantu rumah tangga. Sebenarnya jika kita mau mengakui, umumnya keluarga-keluarga di Indonesia memang melimpahkan segala tanggung jawab kepada si pembantu rumah tangga, termasuk menyuapi anaknya sendiri. Dan, konon pula anak-anak orang (sok) kaya di sana bergaya seakan-akan ia adalah raja. Ujungnya, mereka lebih bangga memamerkan siapa orangtuanya dibanding menunjukkan apa yang bisa dipamerkan dari dirinya sendiri.

Nah, meskipun ada saya di rumah ini, Christoph dan Katharina tetap membereskan peralatan sisa makan mereka sendiri. Birgit pun mengepel dan membersihkan rumahnya sendiri. Jika si ibu tengah bekerja, Elisabeth tetap memasak untuk kami bertiga. Hans dan Jörg kiranya adalah bapak yang membangun rumah tangganya hingga sedemikian rupa.

Salam untuk negeri yang sama-sama kita cintai, Indonesia.

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s