Waspada!

“Novida. . . Spielst du mit mir?”~> Novida. . . maukah kau bermain denganku?

“Entschuldigung, aber nicht jetzt, Christoph. . . “~> Maaf, tapi ga sekarang, Christoph.

“Magst du mich nicht?”~> Kamu ga suka aku?

Sebenarnya saya sibuk. Halah. Terakhir bergelut dengan deadline November lalu, itu pun soal cari keluarga baru. Hahaha. Jadi, akhir pekan ini saya menjanjikan mengirim artikel untuk majalah punya teman, seputar jalan-jalan. Sekarang saya berharap agar Minggu pagi tidak datang terlalu cepat. Saya diteror deadline tulisan itu terakhir pada masa-masa skripsi, tahun 2012 lalu. Otak tak lagi selancar dulu. Loh, aslinya sih saya bukan mau curhat soal ini. Jadi, seharian Christoph ada di kamar saya, numpang main.

Enam bulan sudah saya di Jerman. Maka saya harus segera menindaklanjuti skenario berikutnya, menjual diri untuk bergabung dalam Freiwillinge Jahr der Denkmalpflege (FJD). Birgit tahu sejak lama, tapi dia baru memberi tahu Katharina dan Christoph dua minggu lalu, sebelum saya keluyuran semingguan. Dan, saat itu pula saya baru pertama melihat mereka sok sedih, ingin saya tetap ada di rumah ini. Maka, sejak kembalinya saya ke rumah ini, mereka berdua jadi lebay.

Anak-anak ini dibesarkan dengan sepenuhnya rasa kasih dan sayang. Gimana engga, kalau rumah ini saja jumlah piaraannya sudah mirip kebun binatang. Sesayang itu ibunya pada hewan-hewan, apalagi anaknya sendiri. Semarah-marahnya orangtua ke anak, pun sebaliknya, maksimal hanya kerasnya suara tanpa ayunan tangan atau anggota tubuh lainnya. Tapi, setelah saling membentak, polanya sama, masing-masing menangis. Terus, besoknya sayang-sayangan lagi. Maka saya tahu mengapa di rumah ini terasa sekali betapa saya disayangi mereka semua. Ciyeh!

“Novida. . . Bleibt hier, bitte.”~> Novida. . . Tetap di sini, dong.

Katharina merapikan kurudung saya, Christoph turut memeluk, dan Birgit tersenyum. Saya paham sekali mengapa mereka begitu. Coba bayangkan, seumur-umur mereka hidup tanpa tetangga. Rumah ini sendiri di hamparan lapang. Mereka bertemu teman hanya di sekolah, sesekali ada yang berkunjung ke rumah untuk bermain hanya 2-3 jam, dan tentunya sejak lama mereka hanya berdua saja. Kemudian saya datang, memberi mereka pekerjaan agar tak putus asa menerjemahkan dan memastikan kebeneran maksud dan bicaranya saya. Ya, bahasa Jerman itu memang begitu.

Entah alasan apalagi yang membuat saya tidak pernah berhenti bersyukur ada dalam keluarga sebahagia ini. Ya, keberuntungan memang bukan gratisan, ada alasan Tuhan mengapa harus kita yang mendapatkannya. Tapi, kenyamanan adalah ancaman jika kita tidak waspada. Saya sadar, ujian selanjutnya pasti terjadi. Tak tahu itu apa dan bagaimana.

Iklan

5 Comments Add yours

  1. maisyafarhati berkata:

    Jadi udah mau meninggalkan tempat tinggal yang sekarang nov? Perasaan baru pindah.
    Btw bersyukur ya bisa ada di lingkungan keluarga yg menyenangkan dan penuh kasih sayang. πŸ™‚

    1. Novida D Airinda berkata:

      Belum kok, Mba. Masih 6 bulan lagi di sini, September perginya. Tapi rasanya udah kayak segera gitu, soalnya mereka berdua baru tahu. Lebay gitu deh. Heheh πŸ˜€

  2. rianamaku berkata:

    coba saya masih muda say juga akan mencoba menjadi Au pain nov dan kesempatan itu sudah sirnah 😦

    1. Novida D Airinda berkata:

      masih ada dengan cara yang lain buat petualang kok, kakak. pasti bisa! πŸ™‚

      1. rianamaku berkata:

        Amin doain ya siapin amunisi dulu ;D

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s