Kali Pertama Nyicipin Naik Metro di Paris

Apa cuma saya orang di dunia yang biasa saja sama Paris? Sebenarnya ibu kota Perancis ini tidak pernah ada dalam rencana persinggahan saya. Tapi, takdir berkata lain. Karena rencana jalan-jalan ke Eropa timur gagal total, jadi saya ikut si Uun pulang ke Paris.

Setelah 5 jam perjalanan dari Amsterdam, di malam bersuhu 2°C  itu kami turun dari mobil mitfahrgelegenheit . Di musim semi yang masih terasa musim dingin itu Porte de la Chapelle menyambut badan saya yang lapar dan ngantuk. Sudah pukul 22.15 dan stasiun ini masih dipadati calon dan mantan penumpang. Wajah lelah mereka rasanya tidak bisa tertutupi oleh langkah kaki jenjang yang tampak tegar.

Kereta bawah tanah andalan Paris ini akan datang setiap 4 menit jam senggang, dan 1 menit sekali pada jam ramai. Saya jadi sabar ingin segera meluncur ke kamar yang hangat dan menyambut makanan-makanan penyembuh lapar. Soalnya pagi tadi di Heidelberg ketinggalan bus 2 menit–yep, literally 2 menit dan busnya ga bisa dikejar–karena bangun kesiangan. Begitu siang sampai Amsterdam males beli makan–ga deng, uang makannya buat beli sandal karena sepatu yang lagi dipakai sakit di kaki. Jadi, ya malam ini lah waktu pembalasan.

Btw, karena seringnya nonton film Amerika dan Inggris, sebagian kita tahunya subway adalah nama untuk kereta bawah tanah. Tapi, di Perancis namanya jadi metro. Kalau di Jerman namanya U-bahn–ini mah info tambahan wkwkwk. Btw lagi, ini kali pertama dalam hidup saya sehari berada di tiga negara, Jerman – Belanda – Perancis. Heu.

“Ga usah beli tiket, Man. Malam gini ga ada controller. Pakai kartuku aja buat buka roll pintunya,” kata Si Uun menghardik saya yang terbiasa taat aturan di Jerman. Asyik! Hematisasi telah dimulai. Dia punya kartu transportasi bulanan yang mahal, jadi anggap saja ini merapel jatah dia beberapa hari lalu yang lagi ga di Paris–yeee, ada itungan macem itu?

Mau tahu, ga, gimana caranya kami curang? Jadi, sebelum kartunya dipindai, badan saya dan Uun berdempetan gitu. Nah, begitu scanning lalu rollnya terbuka, badan kami sudah nempel dan kudu cepetan masuk sebelum si pintunya kembali tertutup. Wkwkwk. Duh, maaf, kadang melanggar aturan itu gimana gitu, semacam iseng yang asyik. Ya, kalau ketahuan berarti sedang sial. Please, jangan ditiru ya.

Tapi, kali pertama nyobain ini saya dan Uun ngakak terus karena kami berhasil. Nanti keluarnya gitu lagi. Seru. Wkwkwk. Tapi dosa.

Kereta yang saya tumpangi ini laiknya kereta di Eropa, sama seperti bayangan sebelumnya; cepat, nyaman tanpa guncangan, hening, dan adem. Kereta yang saya naiki tidak bermoncong, bertubuh langsing, dan lusuh. Ya, maklum, kereta yang tidak ada masinisnya ini sudah lawas juga katanya.

Meskipun di dalamnya saya juga menemukan jejak vandalisme, bagaimana juga metro di Paris adalah salah satu transportasi modern tertua di dunia yang diresmikan tahun 1900. Wow juga ya. Terus harga tiketnya ga terlalu mahal, yaitu 1,7 euro untuk sekali jalan. Nggg, anu, mahal sih, cuma ga terlalu. Tapi, kalau kita beli langsung 10 strip jatuh harganya jadi 1,4 euro/tiket.

Perhitungannya beda lagi kalau pas akhir pekan. Kita bisa dapat harga 3,75 euro yang bisa dipakai seharian penuh keliling zona 1, 2, 3. Pemerintah setempat sangat support lah pokoknya sama warganya yang butuh liburan. Tapi kalau mainnya ke Disneyland atau istana Versailles bukan beli paket ini, Guys. Soalnya doi di zona 5. Jauh.

Demikian dulu ya kisah tentang anak yang baru pertama naik metro di Paris. Nanti kita cerita lagi pas naik TGV atau ICE. Semoga ada rezeki nyicipin kereta cepat di sini 😀

DSC_8505
interiornya stasiun metro cakeps…

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s