Sebesar Apakah Indonesia?

Yap! Terhitung di bulan Maret ini, beberapa negara telah saya lalui. Belanda, Belgia, Perancis, Austria, dan Swiss. Kalau dilihat dari jumlah negara yang saya lintasi kemarin, sepertinya orang yakin pula perjalanan ini butuh banyak uang. Padahal, ga salah juga. Hahahaha. Btw, Belgia dan Austria itu lewat saja, karena tuntutan rute perjalanan. Jadi, kurang lebih saya menginvestasikan 200€ untuk semua. Subhanallah pula, saya silaturrahim ke teman-teman Indonesia– melancarkan rezeki, bisa numpang makan. Hehehe. Alhamdulillah, sebagai perempuan, dari dulu kebahagiaan saya saat jalan-jalan bukan pada jajan. Mending ga bisa makan enak dibanding ga bisa jalan jauh. Jadi, jangan pernah tanya oleh-oleh makanan ke saya sepulang dari gentayangan. Oleh-oleh yang lain juga engga! 😀

Sebenarnya kemarin ingin ke Wina, Budapest, Bratislava, dan Ceko. Mengapa? Apalagi kalo bukan karena mereka lebih murah dibanding Jerman?! Selain Wina, mata uang tiga negara itu bukan euro dan nilai tukarnya lebih rendah pula. Jadi, keinginnya saya yang paling mulia adalah menikmati sensasi menjadi orang kaya di negara tetangga, walau hanya sesaat saja. Nah, ada beberapa sebab penting yang mengharuskan putar haluan. Salah satunya karena teman saya yang seorang abdi negara di Kemenlu RI saat itu tengah ada di Den Haag, dan di minggu itu pula kesempatan terakhir saya berjumpa dengannya sebelum ia kembali ke Tanah Air.

Jadi, apakah dengan melintasi sekian negara bikin saya buangga buanget, gitu? Agak biasa aja sik. Karena negara-negara berjajar dan saya menggunakan mobil tumpangan mitfahrgelegenheit, semuanya terasa dekat. Heidelberg-Amsterdam 5 jam, Amsterdam-Paris 5 jam, Paris-Frankfurt 5 jam. Sedangkan Isny-Zurich hanya 1,5 jam. Nah, saya kan tinggal di Jawa Timur, tapi baru pernah ke Pulau Bali dan Madura. Betapa itu terlalu “belum kemana-mana”? Semakin jauh kaki saya berjalan, semakin yakin pula bahwa Indonesia benar-benar besar. Tapi, semakin ke sini saya pun harus menerima kenyataan bahwa ia yang saya banggakan tak banyak dikenal orang.

Namanya Sebastian, teman pertama dalam perjalanan saya dari Isny ke Heidelberg yang bercerita tentang Indonesia, itu pun baru saja tahunya. Belum lama kakak perempuannya pulang jalan-jalan di Asia tenggara selama 2 bulan. Ia berencana mengunjungi semua negara di sana, tapi akhirnya memutuskan untuk singgah hanya di setiap ibu kota masing-masing negara. Nah, beruntungnya, saat itu Jakarta lagi banjir. “Dia bilang orang Indonesia itu lucu-lucu. Mengapa mereka suka minta foto bersama kakak saya? Bukan cuma orang dewasa, tapi anak SD juga. Apa yang mereka pikirkan tentang kami?” Jangankan dia, saya saja dari dulu sampai sekarang tetap heran. Bali deh contohnya, pulau yang lebih terkenal dibanding negaranya. Wisatawan domestik di Bali biasanya merasa kelas mereka agak mengangkasa dibanding Jogja atau kota lainnya. Tapi, sama juga, nyamperin turis cuma minta foto bersama.

Mungkin, misal dianalogikan akan sama seperti ini. Ceritanya, kita ini punya tampang “orang kota”, kemudian jalan biasa saja tanpa dosa ke suatu desa di pinggiran hutan atau dusun kecil yang terisolasi. Setiap orang pasti menyaksikan kita dengan seksama, penuh heran dan takjub. Nah, bedanya sama yang tadi, mereka ini ga punya kamera untuk minta foto sama kita. Kira-kira begitu. Entahlah, siapa yang merasa dirinya unik, siapa pula yang aneh.

Nah, setelah sampai di stasiun Heidelberg gembiralah saya. Di sana ada segerombol anak Indonesia dengan barang tentengan yang full kiri kanan. Memang ya, orang-orang semacam kita di mana-mana sama, berisik. Berhubung saya sejak awal di Jerman baru ketemu orang Indonesia itu di KJRI, senanglah ada rombongan ini. “Hallo, mau kemana?” sapa saya tanpa ragu. Tahu, adegan selanjutnya? Lalalalaladicuekinabislalalalala.

Sejak pertama saya tinggal di dekat bandara terbesar di Jerman, Frankfurt, sampai sekarang di gunung yang penduduknya jarang, selalu saya yang disapa duluan ketika mata ini bertatapan. Bagi saya terlalu mudah untuk bilang orang Jerman itu ramah. Nah, ini ketemu sesama orang Indonesia di negara orang, diabaikan. Baiklah. Akhirnya saya semakin tidak tahu, apakah yang punya istilah sok kenal sok dekat (SKSD) hanya karena “hai” itu cuma Indonesia? Terus, malam itu juga ada kejadian lagi. Pas lagi duduk-duduk galau, tiba-tiba teman saya, Uun cipika-cipiki dengan 3 gadis berjilbab. Terus kami bertanya, “emang kamu kenal mereka?” Hah! Kena deh. . .

Konon, mereka yang berusia S1 dan baru studienkolleg di Jerman memang lagaknya begitu. Jangankan menyapa, menengokpun pantang. Ga tahu gimana juga, mungkin dari pengalaman saya yang bisa jadi pernah mereka alami pula, akhirnya sesama anak Indonesia ga sudi untuk saling bertegur sapa. Sebenarnya saya senang bisa ketemu mereka, setidaknya tidak harus bicara bahasa Jerman untuk saling memahami maksud hati. Hahaha. Tapi, apa daya, teman di Perancis pun mengiyakan yang demikian. Di sana sama juga ternyata. Negara yang dilimpahi segalanya oleh semesta, tapi beginilah hubungan antaranak bangsa dalam perantauannya. Pasti, tidak semua tapi begitulah umumnya.

Saya terkesan saat di Paris. Kami bertemu lelaki Perancis berambut panjang, dia menyapa dengan bahasa Indonesia. Ternyata, dia sejak kecil tinggal di Bali dan sekarang libur satu minggu untuk mengerjakan film. Kami sembat ngobrol pula. Harus saya akui, dia satu-satunya orang “aroma” Indonesia yang ramah sepanjang perjalanan kemarin. Di Frankfurt saya juga sempat disapa orang Jerman. “Hallo, Indonesien?” kemudian saya menjawab dengan antusias sambil mendengar komentarnya tentang alangkah luar biasanya alam Indonesia. 🙂

Di sisi lain, berulangkali dalam perjalanan kami ditanya negara asal. Umumnya mereka akan lebih dulu menebak Malaysia, Thailand, Filipina. Saya jawab sambil senyum, Indonesia. Nah, teman saya nyahut, “tahu Indonesia?” terus dijawab, “tidak”. Bagaimana bisa negara tetangga kita yang cuma segitu dikenal tapi Indonesia tidak? Oke, ini bukan salah mereka. Ini salah kita yang tidak memperkenalkan diri pada dunia. Saya pernah bertemu orang Texas yang tidak tahu di mana letak Indonesia. Saya dengan percaya diri bilang, Indonesia itu sebelahan sama Australia. Ogah saya bilang dekat Malaysia. Mengapa? Kalau Australia, jadi sepadan membandingkan luas wilayahnya dengan Nusantara, kepulauan yang membentang dari Sumatra hingga Papua.

Betapa setiap hari saya merasa menjadi duta negeri sendiri untuk orang-orang yang tidak pernah mendengar nama Indonesia. Saya pun berhijab, hingga bertanggung jawab pula atas agama saya untuk mengenalkan diri bahwa muslimah itu tidak aneh seperti yang dipikirkan sebagian orang. Dan, yang saya sadari, saya hanya punya kesempatan sekali. Jadi, mumpung muda, ayo aja keliling dunia. Minimal, Indonesia bukan lagi menjadi salah satu negara terluas di dunia tapi tidak dikenal namanya.

Oh, seandainya seluruh dunia tahu betapa garis luar negara kita itu melebihi Uni Eropa. . .

 

 

 

 

Iklan

5 Comments Add yours

  1. kutulis21 berkata:

    ane belum pernah ke luar negri sob, pasti enak yah…bisa berkunjung ke negri tetangga 🙂

    1. Novida D Airinda berkata:

      enakkk. termasuk pas bingung kehabisan duit terus ga bisa pulang. hahhahah 😀

  2. rianamaku berkata:

    Teruskan perjuangan kamu nov 🙂

    Nov keren modal 200 uero bisa jalan jalan wah patut di tiru, kemarin aku berencana ke jerman hanya rencana itu saja hampir 2000 uero.n tobat tepok jidat.

    aku belum paham kata kata kamu waktu ketemu sama orang indo yang blalalaalalal itu di cuekin atau ngobrol cos di bawahnya kamu bandingkan dengan orang jerman yang ramah. Padahal setahu aku orang jerman agak kaku 😀

    1. Novida D Airinda berkata:

      gini deh. selama di Jerman, aku lebih sering di-hallo-in orang di jalan dibanding di Indonesia. mereka sama siapa aja holla-hallo, tapi kalo di kita begitu sik, “ih, siapa elu? SKSD banget.” Nah, itu contoh simpelnya.

      bahkan, selama perjalanan kemarin lintas negara bertetanggaan ini pun demikian. sama-sama orang Indonesia, ya udah, ga ada apa-apa. cuek. bahkan, aku yang duluan ng-hai aja cuma dilirik. udah 😀

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s