Sejenak Singgah ke Bielefeld

Ini bulan April, ketika salju mulai tidak ada dan berganti hamparan bunga-bunga.

Tapi saya sudah diingatkan, jalan-jalan di Jerman saat peralihan musim itu suka ngilu-ngilu sedap. Anomali cuaca bisa terjadi kapan saja, termasuk ketika saya dalam perjalanan dari Cologne ke Bielefeld ini. Jarak yang ditempuh sih tidak begitu jauh, ya, tapi pergantian cuacanya itu loh sungguh tidak terkira.

Jadi, saat berangkat langitnya mendung, lalu sekitar lima belas menit perjalanan turun hujan, lalu terang sebentar, ganti panas panas, dan tiba-tiba begitu sampai Bielefeld Hauptbahnhof dalam keadaan gerimis lebat—karena belum bisa dikategorikan hujan sih haha.

Di kota yang saya tidak tahu akan menemukan apa di sini, niat utama saya bersilaturrahim ke rumah Mbak Irma. Beliau adalah dosen teman saya di HI Unair, pengampu mata kuliah apa ya? Eropa gitu lah pokoknya. Saat ini si Mbak Irma dan suami sama-sama menyelesaikan studi doktoralnya. Bagi kami, tidak butuh waktu lama untuk saling akrab meskipun belum pernah berjumpa sebelumnya. The power of Perantau ini sih.

“Nov, aku ga tahu ya mau ajak kamu ke mana. Ning kene ora enek opo-opo, eg.”

Oh, Mbak Irma, andai kau tahu, berjumpa denganmu dan makan gulai kambing bikinan Mbak Lulu yang sore itu bertamu sudah lebih dari cukup untukku. Minum teh poci—di Jerman tehnya bukan dari daun teh wkwkwk, makan nasi sepuasnya lengkap dengan sambel terasi ABC dan kerupuk, bicara bahasa Indonesia juga Jawa, itu sungguh terasa seperti membayar kerinduan akibat rasa keterasingan selama ini. Kebahagiaan saya masih duniawi sekali memang…

 

DSC_1288
Indonesia banget, kan?! 😀

Tapi, rasanya saya datang di saat yang kurang tepat. Mbak Irma dan anak bungsunya baru saja kena musibah. Jadi ceritanya si ibu ini sedang masak di kompor dua tungku, yang kiri dipakai merebus menu makan siang itu sedangkan yang kanan digunakan untuk menggoreng. Peristiwa terjadi saat air rebusan meluap dan tumpah ke wajan yang berisi minyak. Di situ Mbak Irma kaget, panik, dia alihkan dengan cepat si wajannya. Tanpa dia sadar, anaknya ada di sebelahnya. Dan si minyak dari wajan ini tumpah. Separuh kena tangan Mbak Irma, sebagian tersiram ke kaki anaknya. Perawatan lukanya kira-kira 2 sampai 4 minggu.

Tapi, Mbak Irma masih pengen antar saya jalan-jalan esok pagi sebelum saya lanjut ke Berlin…

DSC_1297
Kota ini berasal dari kata bieleveld, artinya ladang tinggi. Ya, di sini memang agak mendaki gunung lewati lembah gitu deh…

Cuaca pagi itu tidak cukup cerah. Diiringi rintikan hujan, saya dan Mbak Irma memutuskan jalan-jalan. Tadinya saya sungkan. Hahaha. Tapi dia bilang, “ada payung, memang fungsinya untuk saat begini.”

Lama hidup di negara yang tidak menjadikan ‘cuaca normal’ sebagai penghalang ya begini ini kali, ya. Semacam tidak mengganggu integritas banget gitu. Beda, ya, sama di Indonesia yang kalau hujan turun ya batal aja segala bentuk janjian. Padahal sejak awal sadar memang lagi musim hujan wkwkwk.

Kami keliling kota saja, sama beberapa taman. Sepi, sih. Beneran. Memang saat cuaca yang tidak menentu begini lebih enak di rumah. Dan, lagi, karena Bielefeld bukan kota idola para turis. Damai gitu di sini tampaknya.

DSC_1299
Akibat anomali cuaca ini sepinya?

Next stopnya di Universitas Bielefeld, kampus beliau sebelum pindah ke Uni Münster. Karena satu dan lain hal, kami hanya jalan-jalan di koridor utamanya. Menyempatkan berfoto, tapi tangan Mbak Irma kan lagi sakit. Jadi gapapa deh muka aing ngeblur. Wkwkwk.

DSC_1304
Fotografernya minta maaf atas salah fokus ini wkwkwk

Di Bielefeld ini banyak pohonnya, beda sama kota besar yang rumah-rumah di pinggir jalan ga punya tumbuhan. Jadi, tampaknya musim gugur adalah waktu terbaik deh berkunjung ke kota terbesar di Ostwestfalen-Lippe ini. Semoga nanti bisa ke mari lagi.

Btw, pengelolaan sampah di kota ini beda loh dengan kota lain di Jerman. Jika umumnya dipisah berdasarkan kategori, di Bielefeld ini semuanya dicampur. Sebab mereka menerapkan teknologi yang bisa memisahkan sendiri gitu sampah-sampahnya. Jadi ga perlu repot deh memisahkan ke 3-4 bak sampah di dalam rumah 😀

DSC_1293
nemu sepetak kecil taman tulip, warnanya Indonesia banget. terus disuruh foto :p

Dari sini saya akan pergi ke Berlin dengan mitfahrgelegenheit, car sharing gitu. Bayar 22 euro. Ternyata mobilnya van, mirip mobil travel aja hahaha. Tahu saya jalan berapa kilo meter dari stasiun tempat janjian? 5 km, tepat di mulut autobahn. Gilaaa. Katanya, karena doi menunggu calon penumpang baru yang ikutan mau nebeng, dan dianya maunya nunggu di situ. Udah, gitu aja alasannya.

Auf wiedersehen, Bielefeld!

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s