Awal yang Indah. Selanjutnya?

Domisili di lain negeri itu seperti orang menikah, sama-sama menawarkan penampakan yang indah. Padahal, bisa jadi memang indah atau sangat indah, tergantung pilihan kata masing-masing demi menghibur diri. Galaunya saya sekarang bisa jadi sama seperti galaunya teman-teman yang baru saja merasakan pernikahan di dua tahun pertama. Ini kata survai saya sendiri kok. Tapi, bedanya saya ini jomblo di gunung dan mereka berpasangan di lautan kehidupan–bingung? Ndak usah dipikir.

Tahun lalu saya pergi ke barat melawan arah matahari, tiba pagi hari di bandara Frankfurt am Main. Ketika pesawat yang saya tumpangi tengah menyajikan daratan Eropa, hati ini bahagia. “Wow, sesaat lagi bakal menyaksikan Jerman!” Lalu, “Ya Tuhan, ini negara yang saya impikan sejak lama!” Tak lama kemudian, “Oh, mimpi-mimpiku, aku akan menuaimu satu per satu sebentar lagi.” Anak desa ini lebih kegirangan lagi ketika kakinya turun menginjak bumi. Di sambut hujan, yang tak lama kemudian senyuman dan ciuman mendarat di pipi yang mulai terasa kedinginan. Di awal kehidupan baru saya, saya tinggal bersama seorang single mom baik hati dan dua bayi kembar, yang selucu-lucunya mereka tetap saja bayi, dua pula. Karena Sang Maha Kuasa, di bulan ketiga saya tinggal bersama keluarga baru yang terasa benar-benar orangtua, kakek-nenek, dan adik-adik saya sendiri.

Sejak awal, setiap datang hal-hal lucu, saya meyakinkah diri bahwa inilah Jerman, belahan bumi lain yang jadi pilihan sendiri. Di sini bukan lagi tentang soal suka atau tidak suka. Contoh sederhananya soal makanan, karena saya menulis ini saat menunggu waktu buka puasa. Jadi, seperti ketika pizza, spaghetti, dan steak yang dulu jadi makanan mewah, sekarang itu semua tak ada artinya dibanding nasi lengkap dengan sayur dan lauk-pauknya. Betapa beruntungnya dulu ada puluhan penjaja makanan yang melintas di depan rumah, juga warung-warung yang bertebaran. Kita tahu harus ke mana mencari makanan selama 24 jam, apalagi di hari Minggu. Sungguh bahagia bisa menemukan ikan laut segar, apalagi cabai segar. Di Jerman, jangan harap semua itu bisa ditemukan–kalau memang ada berarti saya aja yang belum nemu. Dulu, saya kira ini persoalan sepele, ternyata memang paling sepele daripada lain-lainnya yang begitu nyata terasa.

Eropa bagi saya masih seperti dunia lain. Saya sering heran ketika di jalan begitu mudah orang menyapa, “hallo”. Orang Jerman tidak mudah berteman, tapi saya bisa merasa aman jalan ke mana saja dengan numpang mobil orang. Berbeda dengan di Indonesia, menyapa orang tak dikenal adalah keanehan, menumpang kendaraan orang asing laiknya mempertaruhkan nyawa sendiri–alhamdulillah, meski pernah begitu sampai sekarang saya masih hidup. Saat ini saya tinggal di Allgäu, yang bahasa lokalnya lain dengan bahasa Jerman. Orang yang belum lancar dan benar bicaranya seperti saya hanya punya dua pilihan, malu kemudian membisu atau bicara saja lalu menyerahkan sepenuhnya arti dari sekian untaian kata pada lawan bicara.

Jerman menakjubkan? Iya. Segala ketakjuban itu dibayar dengan spekulasi-spekulasi yang tidak murah. Jerman asyik? Benar. Segala hal akan mengasyikkan karena tak punya kepastian. Jerman nyaman? Tentu, karena hidup di Jerman adalah pilihan sadar. Perjalanan saya semakin indah, meliuk-liuk lincah. Pastinya, saya masih ingin tinggal lebih lama di Jerman. Tetap terus belajar apa saja yang tidak pernah diduga sebelumnya, pun lebih banyak lagi berbagi apa saja yang saya miliki. Dan, saat ini saya menunggu kesempatan memperpanjang visa agar dapat tetap melanjutkan hidup di sini. Urusan kelanjutan izin tinggal ini loh yang bikin galau!!! 😀

Jadi tolong, jangan tanyakan kapan saya akan pulang jika hanya basa basi.

Iklan

3 Comments Add yours

  1. rianamaku berkata:

    Tetap semangat novi kamu harus yakin dengan apa yang kamu yakini.
    Semangat ya nov.
    nov mau tanya nie kanapa setiap pesawat ke jerman turunya di bandara Frankfurt am Main…?

    1. Novida D Airinda berkata:

      terima kasih, Ria 😀
      Bandara Frankfurt am Main itu terbesar di Jerman, paling sibuk. Aku dulu tinggal pas di daerah landasan pesawatnya. Emang rame sik lalu lintas di langit. Heheh.

      1. rianamaku berkata:

        ohhhh padahal aku dulu mau ke sttutgart bener ngak tu nulisnya tapi harus ke Frankfurt 😀

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s