Marseille: Si Cermin Antik

CIMG4050

Jerman punya ICE sebagai kereta tercepatnya, tapi sampai sekarang saya belum kesampaian buat menyicipi bagaimana rasanya. Tapi, kali ini dari Paris ke Marseille saya dikasih tiket “ICE”-nya Perancis, TGV di kelas 1 pula. Begitu mulianya hati Uun, teman seperjalanan saya dalam misi ngere tapi awal berangkat sudah bergaya ini. Ternyata, setelah bahagia karena bisa naik kereta super cepat dan duduk di kursi mewah, kami berdua tiba-tiba jadi kere sungguhan, malah sudah tekor betulan. Marseille adalah awal kami memulai langkah dengan mata kaki, sedangkan tragedi tidak mengenakkan hati ini terjadi terlalu dini. Mendadak kecopetan, lalu utang teman yang baru kenal untuk tetap bertahan, hingga pulang dengan sisa-sisa harapan pada Tuhan.

Tahukah saya bahwa Marseille dilafalkan berbunyi “Marsei”? Tahu! Setelah diberitahu.

Kota ini adalah kali pertama saya merasa tidak sedang berada di Uni Eropa, komplotan negara-negara yang saya tahu hanya tentang keteraturan apanya saja. Perjalanan saya di benua biru ini memang belum panjang, tapi beruntung saya bisa menyaksikan sisi lain Eropa di Marseille. “Dunia lain” belum terasa di stasiun utama yang interior dan exteriornya oke. Gare Saint Charles menyambut kami dengan hamparan gedung yang sebelum malam datang sudah saya taksir, betapa menakjubkan kerumunan lampu-lampu dari permukiman itu sepanjang malamnya.

“Man, itu orang Indonesia, ya?”

“Heh? Tandanya apa?”

“Pake batik, berkerudung juga.”

Saya dan Uun melihat penampakan banyak muslimah berpakaian laiknya orang-orang di Indonesia, ternyata mereka peranakan negeri onta. Sedangkan batik yang ia deskripsikan adalah motif corat-coret pasaran dunia, bukan pola batik yang dimaksud Unesco sebagai warisan leluhur Indonesia. Di sini muka-muka Arab bertebaran tak terbedung, bahkan lelaki yang jeli insting malingnya hingga sukses menyabet harta paling berharga saya di pinggiran dermaga, Uun menduga orang tersebut termasuk bagian dari mereka.

Dua jam pertama berada di Marseille, setelah teriak dalam hati bersama suasana jiwa yang beraneka rasa, saya pun mengadu kehilangan di kantor polisi terdekat, di wilayah Vieux-Port. Entah waras atau tidak, si petugas malah minta saya datang ke konsulat Jerman dan Indonesia untuk minta nomor, setelah itu baru dikasih surat kehilangan. Dasar amatir, aturan apa itu? Hari menggelap dan KJRI di Perancis hanya ada di Marseille. Bagaimanapun, saya harus tuntas mengurus kartu identitas pengganti paspor agar lolos di bandara, demi pulang lagi ke Jerman.

Sepanjang jalan sambil tolah-toleh, saya jadi semakin kebingungan. Sempat saya lewat pasar tadah, lokasi dijualnya segala barang curian yang digelar di area perbelanjaan becek dan berbau busuk. Herannya, di pasar itu tetap ada penjual makanan yang pembelinya nongkrong di antara hamparan sampah sayur dan buah. Dan, percaya atau tidak, sampah berserakan juga menghiasi pelataran toko-toko di jalanan utama, semuanya biasa saja. Ketakjuban yang lain adalah mobil-mobil di depan saya, hilir mudik tanpa rasa berdosa di perlintasan tram dan trotoar, mereka bahkan mengendarainya dengan melawan arus–mobil dan motor parkir di trotoar juga ada. Pedestrian pun ogah ketinggalan, mereka tidak butuh zebra cross lalu memencet tombol dan menunggu lampu hijau untuk menyebrang, karena yang seperti itu bisa melakukannya di mana saja dan kapan saja semaunya.

Marseille hanya punya 2 nomor kereta bawah tanah, yaitu metro 1 dan metro 2. Tiket harian untuk semua alat transportasi umum berlaku 24 jam sejak validasi seharga 5 euro, lebih murah 1 euro dibanding Munich. Konon, para mendatang ilegal di sini enggan beli tiket, mereka pun ternyata kebal oleh denda petugas kontrol tiket. Saya heran, sebenarnya bisa apa polisi di kota besar tapi terkesan miskin ini? FYI, baru di kantor polisi sana saya melihat ada kipas angin, penuh debu dan tampak usang pula.

Akhirnya, Uni Eropa tidak selalu bercerita tentang gagahnya peradaban, terpatuhinya aturan di segala ruang tanpa tulisan, dan kemewahan kota-kota tua yang selalu terjaga. Lalu, di Marseille ini saya dan Uun berpikir, apakah para illegal pengangguran dari negeri onta yang membuat Perancis sensitif serta penuh curiga dengan muslim? Jahatnya mereka terasa sempurna jika ternyata si panjang tangan juga saudara seiman saya, komplotan muslimin yang membabi buta, yang senantiasa menyambung hidup dari barang curian milik siapa saja.

 

Iklan

2 Comments Add yours

  1. rianamaku berkata:

    Lantas gimana nov, bisa pulang ke jerman…?

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s