Eine Liebe in Deutschland

Liebe Familie Mückner, Hofer, und Lüder

Kali ini aku harus mengerjakan sesuatu yang terlalu indah untuk diselesaikan, menceritakan kembali dalam sebuah kitab yang berkisah tentang jejakku selama satu tahun di Jerman—negara yang sampai saat ini ingin kutinggali lagi. Sengaja menghadirkan ulang kenangan terbaik untuk memindahkannya pada tulisan ternyata tidak selalu menyenangkan. Aku mulai terbiasa mengalirkan air mata begitu saja. Ini karena kalian, kalian yang telah menjadi tokoh terpenting dalam kisah paling mahal di 25 tahun awal kehidupanku ini. Semesta memang punya banyak kejutan, ya. Betapa Tuhan begitu mudah menjadikan orang asing laiknya keluarga sendiri, bahkan bisa jadi lebih dari hubungan keluarga yang diatur oleh ikatan darah. Kalian telah memberiku rumah, rumah yang sebenar-benarnya “rumah”.

Takdir mengirimku padamu, Undine. Kamu lahir lebih dulu dibanding kedua orangtuaku, dan telah menganggapku sebagai anakmu sekaligus sahabatmu. Aku datang padamu untuk membantu, tentu saja sebatas yang kumampu. Namun yang kudapat justru sebaliknya, justru di rumahmu aku dibuat sungkan dengan kebaikan-kebaikan yang berlebihan. Bagaimana bisa, tidak satu pun pekerjaan rumah kau bebankan padaku, padahal rumah itu kuanggap sebagai rumahku juga. Lalu, hingga saat ini akal sehatku tidak bisa menerjemahkan mengapa seorang pramugari senior di maskapai terbesar Jerman sepertimu bahkan sampai hati mencucikan semua pakaian kotorku—termasuk pakaian dalam—dan mengembalikannya dalam lipatan rapi. Di awal kedatanganku kamu berkata, “Novida, aku hidup sendiri dengan kedua anakku. Tidak bisa lagi aku meminta ibu membantuku, dia pun punya kehidupan lain dengan pacarnya. Maukah kamu meringankan tugasku sebagai orangtua Sophie dan Philipp? Aku tahu, seharusnya aku bukan ibu mereka. Aku sudah terlalu tua.”

Aku masih heran mengapa kamu, duhai ibu asuhku, tidak marah setiap beberapa benda di rumahmu rusak bergantian akibat ulah si orang dari negara dunia ketiga ini. Sebagai seorang udik dan tahu bahwa hidup di Jerman itu mahal, tentu aku hanya bisa minta maaf. Aku ingat kejadian sobeknya dua dot susu karena menekan silikon berlubang dengan tenaga laiknya yang dimiliki tubuh seusai sarapan. Juga mesin kopi yang macet lalu harus direparasi dua hari hanya karena aku iseng mengotak-ngatiknya, tanpa paham intruksi yang tertera dalam berbahasa Jerman di mesin itu. Pintu yang sekaligus berfungsi sebagai jendela pernah bergelayut aneh karena aku salah pendorongnya, sebenarnya aku lupa cara menutup dan membuka kusen keren itu tapi nekat menekan-nekan sesuai kesoktahuanku. Tanpa kusangka, setiap ulah yang pastinya tidak menguntungmu itu, kamu selalu bilang, “kein problem, Novida. Kan, mungkin saja aku juga melakukannya tanpa sengaja, sepertimu. Ini masih bisa kubeli. Tenanglah.” Kalimat andalan yang menghiburku itu selalu sama, seperti SOP yang sepertinya sering kamu katakan pada setiap kerabat dekat. Termasuk ketika aku menjatuhkan MacBook putihmu—untungnya barang mahal itu baik-baik saja. Hingga pada satu sore di awal musim dingin aku harus pergi darimu, karena kamu ingin agar aku menikmati kehidupan di Jerman dengan cara yang lebih menyenangkan.

Lalu cerita hidup berikutnya mempertemukanku pada keluarga dengan komposisi sempurna. Di sana aku punya Oma dan Opa, Mama dan Papa, serta adik perempuan dan laki-laki. Birgit menjemputku pada suatu sore di akhir November bersama Elisabeth, Oma dari anak-anaknya. Christoph dan Katharina adalah anak yang malu-malu di hari pertama kita bertemu. Mungkin karena keduanya tidak pernah menyangka akan ada orang asing yang datang ke dalam keluarga mereka, apalagi secara fisik aku benar-benar berbeda. Muka Melanosoid, berhijab, dan tidak bisa bicara dengan baik dalam bahasa kalian. Tapi, bahasa senyuman di seluruh belahan dunia selalu sama. Begitulah caraku dan kedua adik baruku saling bicara. Unik memang. Kalian begitu pintar membuatku tak lagi merasa jadi orang asing.

Kemudian, hari kedua di meja makan Birgit memperkenalkanku sebagai anak dan cucu tertua di rumah besar itu. Pada pidato kekeluargaannya, Katharina dan Christoph harus menurut apa kataku, sama seperti mereka wajib menuruti perintah kedua orangtua. “Kinder, Novida boleh memarahi kalian jika kalian tidak benar. Bermainlah dengan Novida jika dia tidak keberatan.” Kemudian aku tidak tahu kapan kita semua saling menyesuaikan, aku hanya merasa seperti sudah jauh mengenal keluarga ini sebelumnya. Aku bahkan telah menganggap ini rumah yang utuh, walau sebenarnya gastmutter dan gastvatter telah lama bercerai.

Pernah aku tertawa garing saat Elisabeth—si Oma—mengira bahwa Indonesia adalah India. Lalu kita semua duduk mengerubuti atlas dunia di atas meja dapur pada satu ritual rutin keluarga setiap awal sore—minum kopi. Aku menunjuk di mana letak kota tinggalku, lalu anak-anak membaca ada garis ekuator di sana. Mereka menolak ditawari tinggal ke Indonesia karena tidak akan menemukan musim salju. Dan Jörg—si Opa—mengaku belum pernah ke kawasan Asia Tenggara tapi mengoleksi prangko Indonesia yang tertera angka 1992 dengan wajah presiden Soeharto. Esok sore Hans—Papa dari anak-anak—menunjukkan tulisan tangan rekan sekantornya yang berkewarganegaraan Thailand. Tentu saja aku tidak bisa membaca abjad Thai, sayang sekali.

Masing-masing dari kalian suka sekali ngobrol apa saja denganku, meskipun tahu untuk saling mengerti maksud satu sama lain tidak mudah. Christoph hampir selalu menepuk keningnya setiap aku gagal paham, sedang Katharina merangkulku sambil mengulang dan melambatkan tempo bicaranya. Bahasa Jermanku buruk, tapi kalian begitu sabar mengajarkannya padaku. Aku tidak lupa bagaimana cara seisi mobil saling tos beradu telapak tangan karena berhasil membuatku paham maksud yang kalian utarakan. Di satu kesempatan aku menangkap maksud kata biarawati dengan lesbian, kemudian Elisabeth terbahak-bahak sambil bingung menyusun kalimat baru dengan melibatkan dua tangan untuk memvisualisasikan siluet dari wujud fisik sosok yang dimaksud. Jurus terakhir yang jadi andalan bersama tetap sama, bahasa tubuh. Oh Oma, sebenarnya kau yang paling memahami bahasaku seperti setiap ibu mengerti apa yang dikatakan bayinya.

Ternyata yang disebut rumah masih kurasakan ketika aku berada di Zurich, di kota tempat tinggal Christian dan Alexandra—adik Birgit, anak kedua dari keluarga Lüder. Keluarga kecil yang mengadopsi seorang anak retardasi mental ini menunjukkan bahwa terlalu mudah melahirkan keluarga baru dari hati, aku merasakannya sendiri. Cara Christian memberi salam lalu membicarakan beberapa topik ringan dengan akrab, begitu lancarnya Alexandra mengisahkan perjalanan hidup tersulit yang dimulai sejak usia 7 tahun, juga sikap lain yang semuanya meniadakan jarak antara bangsa-bangsa yang dipisah samudera dan benua ini. Fabian dan Denis bahkan pernah berlomba makan cabe rawit mentah hanya untuk menunjukkan padaku bahwa anak ABG seperti mereka tidak takut pada apapun—termasuk barang pedas yang baru kali pertama ini mereka tahu wujud aslinya. Setelah ditelah sungguhan, tiada kata yang layak kuucapkan selain agar bersabar—sambil terpingkal-pingkal. Di meja makan, Nele—anak terakhir di keluarga ini, usia 8 tahun—bilang, “Novida, kamu bisa makan semua yang ada di meja. Kata Papa kamu muslima, jadi Papa hanya memasak apa yang tidak dilarang agamamu.” Jadi, di rumah ini setiap akhir pekan Alexandra bebas dari pekerjaan rumah tangga, tugas memasak pada Sabtu siang itu didelegasikan pada suaminya—Christian.

Di satu sore pada musim semi sebelum kita memulai makan malam bersama si Christoph bilang, “Novida, mulai sekarang namamu Novida Hofer. Ingat, ya!”

Dan di satu sore yang lain di Italia Birgit bilang, “Novida, Opa menuliskan namanya di nama belakangmu, jadi terdaftar Novida Lüder di resepsionis. Kamu punya familienname dari Opa juga sekarang.”

Kemudian dini hari ini aku mengingat kembali Oma yang tengah mengemudikan mobil sambil menyanyikan lagu kanak-kanak untukku, bercerita tentang turunnya salju di musim dingin. Sore itu adalah sore pertama aku melihat turunnya salju dan bagaimana kristal-kristal air itu nyata dan kasat mata. Kita hanya berdua saja, dalam perjalanan pulang dari perpustakaan kota Isny im Allgäu. Kota di mana sebagian hidupku ada di sana. . .

Tapi, sepertinya, memang separuh nyawaku tertinggal di rumah itu. Rumah yang sebenar-benarnya rumah.

Familie Lüder und Hofer
Familie Lüder und Hofer
Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s