Salju di Kau

Konon saat sepi datang, kami para jomblo yang sendiri di kala sunyi begini mulai depresi. Sampai-sampai memfitnah hujan, yang disinyalir berasal dari 1% air dan 99% kenangan. Sakit.

Saya pernah gila—tolong, jangan sanggah ini dengan pertanyaan “emang kapan pernah waras?”

Jadi begini……

Satu sore di perdesaan Jerman saya jalan-jalan, pulangnya kehujanan. Hujan salju. Kristal-kristal es membukit di jaket merah saya. Beberapa hari yang lalu saja baru tahu, bintik salju yang kebanyakan digambarkan dengan rangka segi enam itu ternyata memang nyata. Mata telanjang saya bisa lihat, lho. Sebenarnya macam bentuknya banyak, semakin rendah suhunya maka bentuk kristal esnya juga makin rumit.

Di Jerman harusnya saya konsisten ambil jalan di sebelah kanan, bukan di kiri seperti di Indonesia. Tapi, karena jalanan di pegunungan sore itu sepi mampri bak milik sendiri, kadang saya jalannya juga zigzag. Kalau ada orang lihat, mungkin dikira saya mabuk. Atau, baru kali pertama jalan di aspal.

Sebagai orang udik dari negara tropis, tentu saja saya jatuh cinta dengan salju. Apalagi hujan salju ga bikin saya basah. Hamparannya menyepuh bumi menjadi putih, meniadakan warna lain. Ini sudah seperti layar XXI yang pernah saya datangi itu kini berpindah. Bedanya, mata kamera yang terbatas sudutnya itu sekarang diganti dengan mata saya sendiri yang sempurna. Live!

Kemudian tangan kiri saya mengepal, seolah sedang menggenggam tangan lain. Invisible. Lengan kiri saya pun mulai mengayun, laiknya efek samping dari genggaman dua tangan orang yang sedang kegirangan. Di tengah hujan salju suhu -8 ºC begitu saya merasa damai.

Dia tidak cerewet. Tubuhnya yang lebih tinggi dari saya pun tidak usil. Kami berdua tak perlu saling memalingkan wajah untuk bertatap muka, pun tidak harus bicara untuk mengobrol. Di situ kadang si saljunya bisa terasa hangat, sodara!!!

Tanpa kata-kata, lelaki yang tak tampak ini sukses menyunggingkan senyum saya sampai kami tiba di rumah. Genggamannya masih terasa ketika tangan kanan saya membuka pintu dan merasakan hangatnya ruangan. Lalu, dia pamit pergi begitu tahu saya tidak lagi sendiri saat menyeruput kopi.

END

Doanya, semoga saya dan laki-laki saya nanti kembali bergandengan tangan di antara salju. Di Jerman juga, kalau bisa. Tapi, untuk yang ini maunya nyata, ya! Bukan halusinasi lagi. Heuuu.

<~ Ditulis saat ga tahu gimana harus ngelanjutin tulisan. Nulis buku itu bikin linu, ya 😀

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s