The Amazing Triangle

Saya yakin, setiap episode sulit akan mengantar kita pada rangkaian cerita baru yang menakjubkan. Dan, antiklimaks itu membuat kita tidak akan pernah lagi menjadi orang yang sama.

Awal Maret lalu saya memilih posisi penting di kelas film Salman ITB: scriptwriter. Modal saya cuma satu, saya suka bercerita dan menulis. Saya kira itu cukup menjadi alasan ketika nanti saya kehabisan motivasi untuk bertahan. Karena sebenarnya, menekuni apa yang kita suka itu berarti bersedia bersakit-sakit dalam menjalaninya.

Maka dalam perjalanannya, Tuhan pun mengirim saya keluarga baru di Bandung ini. Komplotan kami disebut triangle, segitiga yang menarik garis antara titik-titik yang dinamai produser; sutradara; dan penulis naskah. Dua bulan sudah kami melewati bersama pedihnya menyelesaikan skrip. Paling kronis saya lalui 3 minggu lalu, saat melek semalaman dan pulang pukul 7 pagi. Lalu, sore di hari yang sama masih diminta revisi lagi. Ini sudah semacam percobaan bunuh diri secara perlahan.

Hampir setiap minggu, selama dua bulan itu, minimal dua kali kami bertemu untuk pulang lebih malam. Bukan menggilai malam, tapi memang itulah waktu keramat untuk menghabiskan sisa tenaga seharian yang masih kita punya demi menulis skrip film. Kami menggerombol di warung makan, kafe, rumah, kantor, food court, masjid, yah sepertinya cuma di taman jomblo saja yang belum pernah jadi meeting point. Hahahah. Saya tidak punya harga untuk mendeskripsikan betapa berartinya pertemuan demi pertemuan itu. Tentu karena beberapa kali ditraktir dan tidak diharuskan membalas traktiran mereka 😀

Runtutan ceritanya unik, sebenarnya. Percaya atau tidak, selama empat minggu saya tidak kenal teman sekelas—kenal dua orang sik, Jane dan Vina. Mungkin ini sudah etika bergaul orang Sunda, tidak suka bicara dengan orang yang enggan mengajaknya bicara. Kelas yang penuh sebelum pukul 09:00 tapi tanpa suara, apa itu tidak aneh? Bagaimana dengan istirahat dan makan siang di kelas tanpa obrolan? Tapi, ya, kalau saya menyebut ini aneh dan berulah sebaliknya, itu artinya saya yang aneh. Kenapa, yes, kita suka menyebut “aneh” untuk hal baru, padahal kita sendiri adalah keanehan bagi yang lain.

Adalah Fajar—bukan nama samaran, nama tengah dilanjut terakhir secara berurutan yaitu Fauzi Hakim. Rambut gondrong, badan kurus dan tidak tinggi, suka bicara sendiri dan kalau sama orang bicaranya pelan, jago nulis skrip, ingatannya kuat, banyak tahu tentang perbukuan semacam Paulo Coelho dan juga permusikan, sensitif, kalau marah suaranya tinggi tapi ditekan dan tatapannya kosong. Ramdom maksimal, kan?! Lebih mengagetkan lagi setelah saya tahu dia jebolan teknik fisika ITB. Heuuu. Saya menulis ini sambil mengingat ceritanya tentang mantan, omelannya yang berbahasa Inggris tentang skrip yang kami buat, quarterlife crisis—meskipun usianya lewat (agak) jauh dari 25, tulang bebek goreng yang dia bawa pulang untuk kucingnya, dan sore tadi ketika saya tahu dia tidak tahu tentang saya. Kang Fajar adalah partner scriptwriter yang paling keren. Hanya saja, karena di antara team triangle system dia adalah satu-satunya orang yang hidup dalam office hour, jadilah waktu dan tenaganya tidak bisa kami peras semena-mena. Dia sempat bilang, tidak bisa lagi menginvestasikan waktunya untuk bakal film yang kami buat ini. Tapi saya senang, karena ternyata dia berubah pikiran. Yeah! O iya, beberapa minggu lalu dia sudah memotong rambut panjangnya yang selalu dikuncir itu.

Lalu, Aria—nama lengkapnya tinggal ditambah Gardhadipura. Dia produser yang sudi menyelesaikan skrip saat saya dan yang lain tidak sepakat dengan naskah pilihan mentor pertama—fyi mentornya ada tiga dan ini masih screening tahap awal banget. Saya bahkan tidak membaca skrip yang dia beri judul di subyek email: REVISI BAKAL CALON INSYA ALLAH NASKAH PALING TERAKHIR! Saya belajar satu hal tentang kabar bahagia dari Aria ini, bahwa kita bisa senang dari hal yang tidak diinginkan. Nasib pun membiarkan email itu terbalas sampai 33 kali. Btw, mungkin dia tidak ingat apa yang saya ingat. Aria duduk tepat di sebelah kanan saya di hari pertama kelas film itu. Tentu saja seperti yang lain, saya dan dia tidak saling mengobrol walau sekadar basa basi memperkenalkan diri. Percakapan terjadi justru di tangga, ketika dia membawakan botol minum saya tertinggal di kelas. Saya pikir kami seusia, tapi pikiran saya yang lain bilang bahwa dia 3-4 tahun lebih tua. Dan memang iya banget! Bitte, Iyak, kalo kamu baca ini biasa ajah yah :p

Sebut saja Malik—kalau mau ngepoin dia agak susah karena namanya pasaran: Malikkul Shaleh. Orang ini tampak koleris, mungkin karena itu dia dipilih mayoritas sebagai sutradara. Padahal, ya memang iya. Saya rasa, sebenarnya saya lebih keras kepala dibanding Malik. Suatu malam dia pernah lelah sampai akhirnya bilang, “kamu tuh selalu gitu, Vi. Susah terima masukan orang!” Padahal, sebenarnya dia cuma kesusahan meyakinkan ke saya tentang kebenaran yang dia yakini. Tapi, memang begini drama yang sudah seharusnya terjadi dalam beradu ide. Tapi juga, setiap kali saya ingat aturan pertama “sutradara adalah Tuhan”, di situlah saya tahu kapan harus berhenti bicara. Mungkin juga karena Malik adalah orang terdekat buat saya dibanding lainnya, maka sampailah kami di drama paling hits yang membuat saya takut bicara dengannya beberapa waktu. Walau muka dia tampak lebih ‘matang’ dibanding Aria, tapi sebenarnya dia hanya 2 tahun lebih tua dari saya. Kemampuan kontrol emosi kami masih relatif sama—sama-sama buruk. Hmmm, tapi saya tidak punya alasan untuk membenci orang yang banyak memberikan kebaikan hatinya. Fyi, Malik lah orang yang dikirim Tuhan sebagai perantara alasan mengapa saya bertahan di Bandung sampai sekarang. Dia adalah researcher di INRIK Unpad, terus saya digandeng aja gitu buat join di sana.

Dan berikutnya adalah dia yang menggerakkan saya untuk menulis malam ini, Jean Marlon Tahitoe. Partner penulis naskah yang seharian ini bersama saya. Siapa sangka perempuan Ambon yang saya kenal di hari pertama kelas film itu justru yang sekarang paling bisa saya ajak bicara tentang apa saja. Mungkin karena kami berdua banyak persamaan, saya menjalani apa yang pernah dia lalui—Jane datang ke Bandung setamat SMA tahun 1999, saat saya baru pindah ke pulau Jawa. Obrolan kami pun seputar apa saja. Sebut saja itu tentang harapan orangtua, cita-cita, jodoh, hobi, bahkan tentang carut marutnya kondisi negara kita. Heuheu. Sore tadi, saat kami ada di lokasi syuting dan ngobrol bertiga dengan Fajar di atas kasur, bahasannya tentang ‘Orang Sunda’ yang umumnya tetap tinggal di tempat kelahirannya. Btw saya juga cerita ke mereka, saya pernah dikira anak broken home sama orangtua teman yang orang Sunda, hanya karena saya menetap ke Bandung yang jauh dari rumah ibu bapak kandung—ya keles, ybs ngira juga kalau saya punya orangtua tiri. Dan, yah, tiga jombloes ini akhirnya nyerempet juga curhat tentang jodoh. Hahaha.

Tadi malam saya dan Jean jalan-jalan di ‘Car Free Night’, hiburan yang biasa saja tapi sangat mewah untuk kaum urban kekinian. Kami jalan, tolah-toleh, foto-foto, dan tentu saja mengobrols. Bahagia memang selalu sederhana.

Hiburan mewah yang sederhana untuk kaum urban, jalan-jalan di jalanan
Hiburan mewah yang sederhana untuk kaum urban, jalan-jalan di jalanan!
Iklan

2 Comments Add yours

  1. Chichi berkata:

    Car free night tiap hari apa teh?
    Pengen ihhh

    1. Novida D Airinda berkata:

      Belum tahu. Programnya belum diresmiin kayaknya. Itu saya ke sana pas masa percobaan doang 😀

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s