Saya, Aku, dan Gue

Katanya, untuk mengenal suatu bangsa maka kenali bahasanya. Sebut saja Indonesia yang tidak punya keterangan waktu untuk setiap kata kerja pada tata bahasanya. Jadi, entah kapan pekerjaan ‘makan’, ‘tidur’, ‘pergi’, dan ‘menikah (#baper #galau #yasudahlah)’ itu berlangsung. Terserah. Toh kejadian itu akan, sedang, dan telah dikerjakan pun tetap menggunakan kata yang sama. So, masihkah Anda merasa berhak komplain karena sudah tepat waktu tapi umat lain fleksibel (baca: molor)? Justru Anda yang akan disalahkan. Dalil shahihnya adalah ‘maklum, orang Indonesia, jam karet.’ Fak, kan?!

Tapi, seperti biasa, ulasan di atas itu cuma prolog acak. Hahaha.

Jadi ceritanya begini. Suatu malam saya berjalan di kegelapan untuk menonton sebuah pertunjukan kesenian di UPI. Malam itu Bandung utara sedang diguyur hujan, tapi berangsur-angsur mereda dan saya pun ikut berjalan menuju kerumunan. Mendadak ada satu celetukan dari segerombolan kaum hawa yang sedang mendiskusikan sebuah kasus penting.

“Iya, ih, mereka udah pake aku kamuan. Kayak orang pacaran.”

Nahloh. Kan, saya begitu juga, ke siapa saja selalu ‘aku kamuan’. Ada satu rasa yang mengusik, antara ingin menjadi diri sendiri dengan bertahan pada ‘aku’ atau menyamakan diri dengan menggunakan kata ganti orang pertama tunggal yang bukan ‘aku’. Teman-teman saya di sini lebih sering menggunakan ‘urang’, ‘gue’, dan ‘saya’ dibanding ‘aku’.

Meskipun saya Jawa, tapi saya hidup di lingkungan Sunda-Bandung. Lalu, apakah saya harus mengikuti mereka dengan memakai kata ‘urang’? Si kuping kalo dengar mulut saya nyebut diri sendiri pake ‘urang’ kok masih terasa aneh, baca bahasa Sunda saja saya belum bisa kok mau urang-urangan. Maka saya melanjutkan berpikir untuk tiga kata sisanya.

‘Gue’ adalah kata yang banyak saya dengar setelah ‘urang’. Tapi, saya rasa kata ‘gue’ itu cuma ajaran (ga penting) dari televisi Tanah Air yang dipeluk oleh hampir seluruh anak (yang merasa) muda (dan gahol) di Indonesia. Ga ada hubungannya sama kesundaan. Jadi, karena cuma bagian dari bahasa yang ikut-ikutan, maka saya tidak punya tuntutan untuk menggunakan kata ‘gue’ di Bandung—walau saya akui, saya pun ingin sok sokan juga bergue-guean. Hahahah.

Jika saya tidak meng-gue, maka pilihan berikutnya adalah ‘saya’. Sejujurnya ini berat, karena saya tidak cukup rendah hati untuk menggunakan kata ‘saya’ pada teman sepermainan. Tapi orang Sunda begitu lanyah menggunakan kata saya ketika bicara dengan sesamanya. Nah, jika ‘urang’ dan ‘gue’ saya ga mampu, apa kabar dengan ‘saya’?

Jadi, kenapa orang Sunda itu lebih suka menyebut diri sendiri dengan ‘saya’…

Suatu malam di ujungnya Ujungberung, Kang Pepe berkisah bahwa kerajaan Sunda itu tidak senarsis kerajaan-kerajaan lainnya. Ini terbukti dari temuan peninggalan sejarahnya yang sedikit, bahkan bisa dianggap nyaris tidak ada. Nah, obrolan ini ternyata berhubungan dengan kata Kang Yopi di studio pada satu sore yang baru beres hujan. Kata doi, orang Sunda lebih suka menyebut diri sendiri dengan ‘saya’ karena sukanya merendah, yang sejatinya kata tersebut berasal dari ‘sahaya’.

Di sisi lain saya harus menerima kenyataan bahwa kata ‘aku’ mengalami peyorasi. Suka atau tidak, tapi itulah doktrin Jakarta yang dianut juga oleh (sebagian orang) Bandung. Sehingga, ‘aku’ pun menjadi kata ganti orang pertama tunggal yang dianggap sakral, hanya layak diucapkan ketika bicara dengan orang-orang terkasih. Sedangkan saya ini orang Jawa yang mengenal “aku” sebagai ngoko lugu, level bahasa Jawa untuk dituturkan pada teman sebaya atau yang lebih muda.

Akhirul kalam, saya sekarang sudah lepas dari kegalauan dalam penyebutan kata ganti orang pertama tunggal ini. Saya memutuskan untuk tetap memakai ‘aku’ dibanding ‘saya’. Karena dianggap sombong terdengar lebih seru dibanding merendah. Lagian, kalau ada orang ‘aku kamuan’ yah doakan aja atuh segera nikah. Susah amats…

 

Iklan

3 Comments Add yours

  1. ndu.t.yke berkata:

    Qiqiqi. Klo aku, biasanya nulis blog bahasa campur2 sesukanya, mbak. Ane-ente, eykeh-yey, kitorang-ngana, selain tentunya aku-kamu.

    1. Novida D Airinda berkata:

      kalo nulis juga sayanya suka-suka, mba. tergantung mo0d lagi pengen yang mana. heheh.

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s