Di Pucuk 2015

Kemarin malam, ketika MITO A260 saya sibuk bunyi sendiri, badan saya sudah tergeletak nyaman di atas kasur. Tangan saya terasa enggan meraih panggilan ‘tuhan’ itu. Tapi, karena lalu lintas pesan yang masuk tak kunjung berhenti, saya pun mencoba untuk menyempatkan menoleh sesaat. Maka tampak lah sebuah nama yang bikin saya melek, “Birgit Hofer”.

Posisi kepala saya berubah, kini lebih tegak. Saya klik nama Birgit yang sudah meninggalkan 5 pesan, yang ternyata semua foto liburan. Lalu masuk yang keenam, foto van barunya. Jadi, ceritanya mereka ini baru pulang jalan-jalan dari Italia dan Kroasia. Di situ ada foto Oma dan Opa, Christoph dan Katharina, serta Somebody (Sammy & Buddy). Dari sekian foto, ada satu yang bikin saya kaget, badan Katharina yang jauh memanjang. Kata mamanya, si Kathi yang tahun lalu masih lebih pendek 1 cm dibanding saya, sekarang menjulang di atas 170 cm. Emejings…

Sudah, gitu doang cerita soal kabar terkini keluarga angkat saya…

Sesungguhnya, sampai setengah tahun pertama sepulang saya dari Jerman, saya masih menyesali mengapa saya kembali ke Indonesia. Harusnya saya terima saja pekerjaan yang saat itu ditawarkan, sebagai pekerja sosial di panti anak berkebutuhan khusus. Walaupun saya tidak suka, tapi apa yang salah dengan belajar dari pekerjaan yang tidak kita sukai? Kan saya bisa tetap tinggal di Jerman, bisa melanjutkan belajar apapun di sana. Toh cuma satu tahun, setelah itu jalan selanjutnya pasti terbuka. Bukannya orang yang pulang sebelum menang itu pecundang?!

Ya, tapi, saya bukan lagi anak usia 21 tahun dan sekitarnya yang masih sah iseng-isengan…

Sampai sekarang, orang yang membuat saya merasa bersalah ketika memutuskan pulang dari Jerman adalah orangtua. Ya, gimana tidak, wong saya pamitnya ke Jerman buat lanjut kuliah. Eh, habis kecopetan dan ga ada lagi uang malah pulang…

Tapi, selama di Bandung satu per satu jalan menuju cita-cita itu pun mulai terbuka. Sang Pencipta mempertemukan saya dengan orang-orang luar biasa, tiada banding tiada tanding, setidaknya bagaimana peran mereka yang hadir dalam setiap tahap demi tahap pembelajaran saya. Salman academy, INRIK Unpad, Polyglot, bahkan indekos-mate pun adalah orang-orang terpilih yang bukan tanpa alasan mengapa kami dipertemukan. Alhamdulillah…

Ini tahun yang fenomenal, penuh kejutan. Baru kali ini saya merasakan betapa asyiknya proses belajar. Dan 2016 nanti saya pun akan memulai ancang-ancang pindah benua lagi. Walau saya tahu ini pasti berat, semoga tambah semakin lebih semangat. Aamiin 🙂

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s