Batman v Superman: Dawn of Justice [REVIEW]

batman-vs-superman

Rumornya, film ini sudah ditunggu insan pecinta komik superhero seantero dunia. Pertemuan pertama Batman dan Superman, sekaligus Wonder Woman. Saya saja yang bukan pecinta komik ikut penasaran, loh.

Film ini dimulai dengan setting latar musim gugur yang memukau, musim yang paling saya suka. Secara misterius, daun oak kuning dan kering yang berguguran itu memperkenalkan saya pada seorang anak kecil, Bruce Wayne—Batman, yang telah menyaksikan dua orangtuanya ditembak mati di tempat oleh orang tak dikenal. Slomonya asyik, juga mutiaranya Martha Wayne yang berserakan pun membuat suguhan gambarnya kian cantik.

Dari judul yang diamini oleh scene pertama, tampak bahwa yang bakal mendominasi layar ini adalah si Batman—Oom Ben Afflack yang ganteng itu. Terus, selama film ini berlangsung, saya kok agak ga tega melihat Superman terdzolimi oleh masyarakat dan Lex Luthor—Jesse Eisenberg yang aktingnya gokil, ngeselin, dan cerdas.

Superman sang pahlawan yang dielu-elukan bak Tuhan ini sangat mencintai ibunya, Martha—nama yang sama dengan ibunya Batman. Demi sang Ibu, Superman bersedia membunuh Batman. Iya, bunuh-bunuhan yang saya kira serem tapi ternyata ga juga.

Supermen yang mukanya selalu kinclong tanpa keringat dan noda di setiap pertarungan, bahkan setelah dibom nuklir sekalipun, bikin saya yang penyayang ini merasa sedih waktu dia dihajar Batman. Saat itu juga si Batman semakin tampak jahat di mata saya, kenapa dia bukan jadi pendengar yang baik, sih?

Dan sang pengadu domba itu memang sungguh nyata di kehidupan ini, Sodarah. Hidup Lex Luthor!

Untuk film berdurasi 151 menit, jujur saja, di bagian tengah permainan saya sudah 2 kali lihat jam tangan. Tapi selepas itu cukup seru dan ga terasa aja udah beres filmnya. Buat saya yang ga ngikutin film-film DC universe sebelumnya, tetap bisa menikmati action fantasy ini tanpa harus bingung ini siapa itu siapa. Hahahh.

Meskipun judulnya “Batman v Superman”, tapi permusuhan mereka terasa kurang lama menurut saya. Kehadiran Wonder Women juga, yaaa, cukup lah membuat saya terpukau sama kecantikan dan keperkasaan perempuan Israel Gal Gadot ini. O iya, Lois Lane–Ami Adams (41)–yang tetap cantik meskipun fungsi dia di film ini, ya, seperti biasa, sebagai si manis kecintaan Clark.

Saya kira Zack Snyder membuat film ini ramah anak, meskipun asumsi saya ini kemungkinan besar salah. Iya, ini menurut saya yang phobia sama kekerasan dan darah. Sex scene, kalau pun ada, versi Indonesia udah dibabat sama lembaga sensor. Hanya saja, film ini memang butuh perenungan agak serius tentang konsep ketuhanan, kedamaian, keadilan, dan kasih sayang antarumat manusia dan makhluk lainnya. Itu sekiranya yang ga bisa diikutin oleh anak-anak .

Tapi entah, kenapa yang awalnya untuk 13+ (Parental Guide) setelah lolos lembaga sensor film jadi 17+ (Restricted), tapi saya sendiri menilai anak-anak 8-10 tahun pun bakal tetep happy nonton ini. Ya, meskipun untuk memahami masalah orang dewasa mereka bakal diminta agak mikir sih, dikit. So, dampingi anak Anda kalau masih mau nekad ikutan nonton juga 🙂

Selebihnya, ini film yang cukup menghibur…

8/10 deh!

Iklan

4 Comments Add yours

  1. megamegimegu berkata:

    mereka terlibat cinta segitiga gak? :p

    1. Novida D Airinda berkata:

      gimana kalo wonder woman sama superman aja, biar si mbak pacar yang manja itu ditinggalin aja :p

      terus aku sama batman :’)

  2. Messa berkata:

    Saya udah lihat filmnya mbak 😀 akting si Jesse Eisenberg yang jadi Lex Luthor keren abis 😀

    1. Novida D Airinda berkata:

      Dan ganteng sih pastinya juga. Hahahha 😀

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s