Menghargai Perjumpaan

Percaya atau tidak, saya beberapa tahun lalu adalah orang angkuh yang cukup sinis dengan orang-orang sok manis. Sapaan “apa kabar?” ketika berhadapan muka atau melewatkannya dari layar ponsel, bagi saya itu remah-remah remeh rengginang yang lebih baik dibuang. Tapi, itu dulu. Karena Jerman lagi-lagi telah mengajarkan saya tentang perjumpaan, sebuah penyerahan waktu; bagian dari ingatan dan usia manusia. Btw, jauh juga yah buat dapet pelajaran yang begini doang? 😀

Berawal dari keluarga angkat saya di Jerman yang tidak pernah membiarkan saya makan sendirian. Terlebih di saat buka puasa, mereka akan menemani saya berbuka. Kadang si mama, kadang Katharina, kadang Christoph—tapi yang paling sering si mama sih. Sambil duduk di kursi tetapnya, di depan saya, Birgit akan bertanya, “geschmack?” sambil senyum. Ini khas emak-emak di seluruh dunia kali yah, suka menanyakan masakannya sendiri, dan kitanya harus tahu jawaban terbaik apa yang baik untuk dikatakan.

Pun saya, walau sedang puasa akan berusaha ada di meja makan saat makan malam—walau mereka membolehkan saya absen karena tidak bisa ikut makan. Masalahnya, bagaimanapun, bagi saya makan malam adalah waktu paling mahal, karena seluruh anggota keluarga berkumpul. Kami secara acak tapi bergiliran akan menceritakan kegiatan hari ini, lalu ditimpali dengan komentar dari sekian suara dan candaan yang sudah pasti seru—tepatnya saya tidak paham betul mereka ngomong apa, tapi bahasa apa yang paling universal selain tawa?

Untuk kali kesekian saya percaya bahwa meja makan adalah tempat dimana cerita-cerita bisa bebas menemukan telinga, ketika tumpukan lelah seharian akan sirna, dan rasa sayang satu sama lain akan terus bertumbuh di sana.

Selain menghargai gratisan, saya juga menghargai perjumpaan.

Bagaimana perjumpaan bisa dianggap sepele, jika seorang teman rela bangun dikala tertidur sebelum pukul 9 malam dalam kekelahan akibat kerja seharian, hanya untuk menemui saya. Lalu mata dan pikirannya terjaga sampai menjelang pukul 2 pagi bersama saya. Padahal, 4 jam kemudian badannya harus menyusuri jalanan untuk masuk ruangan dan kembali duduk di kursi sambil memelototi monitor selama 8 jam ke depan. Waktu dimana harusnya ia istirahat, tapi malah diberikan begitu saja pada saya, itu mahal. Mahal sekali, walau ia tak pernah mengatakannya.

Sama seperti tangan kanan memberi tangan kiri tidak tahu—ya maaf sih kalau perumpamaannya kurang tepat, saya juga tidak tahu apa yang telah dilalui siapapun agar bisa menjumpai saya—sounds sok iyes.

Misal, ternyata demi menjumpai saya, si dia rela membatalkan janjinya dengan kawannya yang lain, padahal saya tidak lebih dulu membuat janji dibanding sang korban itu tadi. Atau, barangkali saat doi hadir di depan hidung saya, sebenarnya ybs ini belum sempat mengambil jeda dari aktivitas sebelumnya demi berjumpa sesuai waktu yang kami disepakati. Hmmm, bisa saja demi bersama da-aku-mah-apa-atuh ini seseorang dengan ringan menolak tiket show mahal yang sangat dia inginkan. Saya bahkan tidak pernah tahu berapa total ongkos yang mereka keluarkan, tenaga yang disisihkan, dan pikiran yang diberikan untuk saya. Yes, behind the fact, who knows…

Semoga penyakit orang di negara dunia ketiga berkenaan dengan menghargai perjumpaan bisa dirasa sebagai persoalan penting. Kita terbiasa meremehkan orang lain, sadar atau tidak sih yah. Karena hampir setiap meeting yang dijadwalkan maka si tukang telat akan dispesialkan, caranya yaitu menghukum si orang tepat waktu untuk menunggu.

Mungkin Tuhan pun sudah maklum, masyarakat yang pemaaf ini telah terbiasa menjadikan hujan sebagai kambing hitam. Belum lagi disertai mengutuk macet, mengeluh parkir penuh, sampai menyalahkan jadwal makan kucing. Alasan klasik, tapi, ya, entah lah.

Sejujurnya, saya orang yang suka swing mood, dari pengen banget ke ga pengen sama sekali. Susah sih, karena kebiasaan itu udah jadi karakter dari golongan darah akyu—eaaa. Karena itu, jadi diri sendiri emang ga penting, kan?! :p

Jadi, demi menepati waktu atau setidaknya ga bikin orang menunggu terlalu lama, seringkali saya tidak mandi karena bangun kesiangan, skip makan karena jelas aktivitas ini membuang waktu, jalan cepat sambil siap jatuh karena kaki kiri saya labil, bahkan sampai bernadzar akan membayar 3 kali lipat jika angkot yang saya naiki tidak ngetem dan melaju kencang.

Saya bukan orang Jerman yang semenit pun mereka hitung dengan baik, walau saya sebenarnya juga bisa. Tapi, saya belajar menghargai perjumpaan. Mengapresiasi mereka yang sudi memberi sepersekian waktu dalam hidupnya untuk bersama saya.

Jika saja ada kata yang lebih dari “terima kasih”…

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s