Pertengkaran

“Aku kemarin habis marah ke kasir indomaret, Mas. Mosok di rak ditulis harganya Rp 5.600 kok aku kudu bayar Rp 6.100 di struknya. Malese tah. Akhirnya aku disuruh bayar harga sesuai di raknya.”

Aduan ini terjadi di ‘kurungan’ bagian marcomm tahun 2010. Saat itu lagi marak berita mark up oleh mesin penghitung total belanjaan di sejumlah mart-martan. Tapi kasus saya ini bukan soal itu juga sih.

“Kalo aku bakal bayar aja, Nov. Selesai. Hehehe.”

Begitulah Mas Ary Sulistyo, selalu mengutamakan terwujudnya perdamaian dunia dalam setiap tatanan kehidupannya.

“Eeh, ya jangan dong. Mosok mau gitu aja dibujukki orang. Dan memang karena aku sudah hitung betul ke mana rupiah sisa gajiku berakhir.”

😀

Di atas adalah contoh alasan pertengkaran yang benar, meskipun untuk sebagian orang itu tidak perlu. Lalu, adakah pertengkaran yang memang diperlukan? Oh, jelas ada. Karena rela bertengkar berarti mau berjuang agar tetap sama-sama bahagia melanjutkan cerita.

Hari-hari ini saya terlibat dalam persoalan dua insan saling mencintai, tapi sama-sama gundah karena sudah merasa saling memahami, cuma ternyata ada saja hal yang tidak dapat dimengerti. Di sini peran saya sebagai interpreter. Keren gini ya. Padahal, kalau ini terjadi sama saya, belum tentu otak saya brilian sungguhan. Hahaha.

Sebagai interpreter, saya meyakini bahwa bertengkar menjadi satu aktivitas seni untuk kembali melihat ke diri sendiri, sekaligus dia yang sedang bersama kita. Ada harapan di sana, perjuangan, dan pengakuan. Melelahkan memang, tapi dari situ bisa terbaca bagaimana satu sama lain menelaah masalah berikut cara menyelesaikannya. Capek, tapi fase ini layak untuk dilalui untuk masuk ke level selanjutnya.

Sebaik-baiknya pertengkaran adalah yang diselesaikan. Ini akan berlalu, hasilnya bisa berlanjut atau berakhir. Tapi, kalau harus berakhir pun karena sudah selesai mengupayakan. Sungguh kegiatan adu kecerdasan yang layak untuk disyukuri.

Padahal, untuk urusan romens saya sendiri belum pernah memasuki fase bertengkar, dimana dua kepala saling beradu opini untuk dapat mengkomunikasikan pesan dan harapan. Belum lah, jauh malah.

Saya pernah suka teman sendiri, yang tidak pernah saya sadari hingga akhirnya waktu membawa kami pada kondisi tidak lagi saling bicara. Lalu, satu lagi, tapi begitu konflik datang dia memilih diam dan mundur—kemudian selesai. Ada semacam gumam, “jadi gini doang?!”

Paling gampang memang merubuhkan apa yang belum kokoh, daripada menempanya dengan rasa tidak aman, keraguan, dan overthinking. 

Jika saja dulu saya juga sempat bertengkar, saya bisa tahu bagaimana kondisi hati dan pikirannya—meskipun saat itu belum tentu bisa memahami. Setidaknya, tidak perlu saling berprasangka sampai akhirnya menganggapnya tidak pernah ada. Hal-hal yang tidak selesai semacam ini lebih mengerikan dibanding perpisahan yang disepakati. Tapi, selesai atau tidak tetep kita sendiri sih yang memutuskan.

Jadi, ayok bertengkar! 😀

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s