Tercenung di “Rumah Bernama Bandung”

Rooang.com | Barangkali kita pernah mengobrol panjang lebar dengan sosok yang baru kita temui, tanpa sebelumnya harus menyebutkan nama, pun tanpa membuka pembicaraan dengan kalimat “Perkenalkan, saya…”. Bisa jadi peristiwa itu menandakan bahwa kita telah menemukan rumah dalam diri orang yang sebenarnya asing. Kita seolah merasakan sedang berada pada satu ruang yang tidak lagi menuntut siapa saja untuk berbasa-basi dengan deskripsi tentang diri sendiri. Begitu pula makna rumah dalam tajuk pameran ini.

Kantor URBANE, perusahaan bidang konsultan perencanaan, arsitektur, dan desain yang didirikan oleh Ridwan Kamil ini, menjadi venue pameran yang bertajuk “Rumah Bernama Bandung”. Dari temanya, mungkin sebagian pengunjung berpikir bahwa mereka akan melihat maket rumah-rumah tradisional Bandung, desain rumah yang tengah hits di Bandung, atau rancangan arsitektur masa depan dan akan segera hadir di kota yang dikenal terkreatif se-Asia Pasifik ini. Namun, sayang sekali, dugaan tersebut kurang tepat.

DSCF0074

Begitu memasuki galeri Yuliansyah Akbar, terpampang tulisan “Rumah Bernama Bandung – Pameran Seni Rupa”. Pada secarik kertas di meja daftar pengunjung tertulis “Lazimnya dalam sebuah rumah, seluruh penghuninya pun telah saling tahu antara satu dengan yang lain. Dengan demikian, frasa ‘Rumah Bernama Bandung’ telah menyejajarkan dua hal yang bertentangan: ruang di mana kita dikenali, dengan ruang di mana kita perlu terus menerus mengekspresikan diri.”

Heru Hikayat, sang kurator, menjelaskan bahwa tajuk dari pameran ini memiliki makna mendalam tentang Bandung yang sejatinya adalah rumah bersama. Di sini ada sepuluh karya seni yang bisa dinikmati para pengunjung, berupa seni fotografi, lukis, dan tata letak.

Sebelum acara ini digelar, ada lima belas karya seni berusaha menginterpretasikan Bandung sebagai rumah. Kelima belas karya tersebut telah diseleksi langsung oleh Heru Hikayat hingga akhirnya hanya ada sebelas karya yang memenuhi kualifikasi. Namun, ada beberapa alasan yang menyebabkan hanya sepuluh saja yang terpajang elegan di sini.

Sepuluh seniman tersebut sebagian berkisah tentang masalah sosial, sebagian lagi bertutur mengenai pengalaman serta harapannya sendiri. Seperti di dalam rumah, setiap kepala pun memiliki perspektif masing-masing tentang tempat tinggalnya.

Di lantai satu kita akan disuguhi enam karya seni, salah satunya kumpulan foto yang diberi judul “LOOK”, memotret berbagai bentuk dan model alas sepatu dalam 18 frames. Satu lagi foto Black and White dengan keterangan “Ketidaksempurnaan yang Sempurna”. Sedangkan empat lainnya berupa lukisan.

DSCF0034

DSCF0085

Di sini pengunjung juga bisa saksikan goresan tinta dengan media pinewood berjudul “Ketika Barat di Jawa Barat” karya Bayu P. Pratama. Dia mengilustrasikan sang Transformer yang sedang perform berlatar monumen perjuangan dan hiruk-pikuk aktivitas masyarakat Kota Bandung. Tapi, jika benar itu Transformer, bukankah sebenarnya dia berasal dari Jepang lalu ‘hijrah’ ke Amerika?

DSCF0078

Sementara itu, di lantai dua kita bisa memandangi satu lukisan dengan konsep drawing series yang terdiri dari 15 blok, menceritakan tentang konflik batin seorang asing di tempat asing. Ada pula dua lukisan lain berjudul “Sebaik Melankoli yang Terseklusi” dan “8.670.501 Titik”. Sedangkan di sisi kiri paling ujung kita bisa merenungi sebuah karya berjudul “Rumah, Penjara, dan Kuburan” yang diinterpretasikan berupa isi kamar tidur lengkap dengan kasur dan komputer.

DSCF0051

DSCF0064

Ahmad Irianto, mahasiswa ITB jurusan Seni Lukis, yang juga salah satu artist dalam pameran ini, menceritakan tentang karyanya yang berjudul “8.670.501 Titik”. Angka tersebut menunjukkan jumlah warga Bandung. Lukisan yang memiliki detail bintik-bintik kecil ini bercerita tentang individu di perkotaan yang individualis, tapi mereka menjadi satu kesatuan dalam masyarakat urban. Ia paparkan, masing-masing orang punya kepentingannya sendiri, namun sadar atau tidak, apa yang mereka lakukan demi diri sendiri pun menyangkut kepentingan orang di sekitarnya. Pemaknaan Ir – sapaan akrabnya – terhadap “rumah” berangkat dari keresahannya sebagai perantau asal Situbondo, datang sebagai mahasiswa pada 2011. Adapun ide menggambar suasana padatnya jalanan diilhami oleh koleksi foto hasil jepretannya sendiri.

DSCF0054

Ya, “Rumah Bernama Bandung” sebagai judul tema pameran itu sungguh cerdas. Kota yang namanya kian populer ini memang telah menjadi rumah bagi siapa saja. Bahkan, kota ini disebut-sebut sebagai kota yang paling disukai turis mancanegara.

Inilah rumah untuk bernaung bersama. Dinamika masyarakat kota yang kompleks, perubahan fisik yang mendadak, juga polemik kaum urban lainnya tidak akan serta-merta mengubah arti rumah secara personal.

Pameran ini diharapkan dapat menjaring perspektif mengenai kota, ruang bersama untuk berekspresi bagi individu juga masyarakat. Sebab, hanya rumah yang memberi hak pada penghuninya untuk dapat mengatur ruang privatnya seeksklusif mungkin. Tentu, selama hal tersebut tidak mengabaikan kepentingan bersama.

DSCF0091

Sebagai ancang-ancang untuk Sobat Rooang, pada akhir tahun ini, “Kamar Kecil” akan menggelar acara serupa bertajuk “Kaleidoskop Bandung 2015”.

Mari menanti.

 

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s