Paspor Baru dan Drama yang Menyertainya

Bikin paspor itu gampang-gampang susah. Kadang bisa gampang, tapi ya bisa aja jadinya susah. Seperti saya, yang udah hampir pasrah mau balik ke Surabaya kalau bikin di Bandung beneran ga bisa.

Jadi, begini ceritanya.

Paspor lama saya habis tanggal 27 Juli 2017, sedangkan saya butuh paspor baru untuk tanggal 22 Agustus 2017. Yup, waktu yang saya punya kurang dari sebulan doang. Fyi, kenapa saya ga bikin lebih awal? Karena saya punyanya SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor). Kalau nekad bikin sebelum masa berlaku paspornya habis maka kena harga penggantian/baru Rp 655.000, bukan Rp 355.000 lagi.

Awalnya santai banget sih, orang bikin paspor mah 3 hari juga jadi. Hingga kemudian saya terdorong bikin tanggal 4 Agustus 2017. Itu hari Jumat, dengan asumsi antrean ga akan seramai biasanya. Hahaha. Padahal ya sama aja.

Maka datanglah saya ke kantor imigrasi Bandung dengan membawa berkas yang sama saat saya bikin paspor di Surabaya: akta lahir, KK, dan KTP. Di sini masalah sudah dimulai, karena nama SPLP beda dengan di KK – KTP dan akta. Fyi, punya masalah dengan nama memang sudah langganan sejak saya lulus SD. Berbedaannya sih terletak di sepenggal kata, dengan dan tanpa SPI–ini bukan gelar yah.

“Wah, kok beda. Ga bisa ini. Kalau gitu saya minta kopian paspor dari imigrasi Surabaya!”

Wanjir. Apa-apaan. Permintaan yang jauh panggang dari api. Ada-ada aja. Sekolot itu ya petugas imigrasi yang data-datanya sudah terintegrasi. Bisa loh cek online. Harusnya saya juga dimudahkan urus paspor, kan udah pernah punya sebelumnya. Status juga masih sama sejak bikin paspor pertama. Otokeee…

Sedikit bersilat lidah, akhirnya doi cuma minta surat keterangan kerja dan keterangan domisili dari kelurahan. Wih, terdengar gampang sekali. Katanya, soal nama tidak lagi diributkan, toh pada akhirnya nama yang akan dipakai di paspor baru mengikuti nama di paspor lama. Tapi, dia tetap minta di surat domisili nanti menyertakan keterangan bahwa nama di KTP dan di paspor adalah orang yang sama. Aneh. Ya kelesss 😂

Surat keterangan kerja selesai. Tinggal surat keterangan domisili. Rupanya ini drama babak baru lagi.

Pak sekretaris RT menjelaskan dulu pentingnya anak kosan lapor diri. Agak sedikit dinasihatin gitu lah. Lalu saya diarahkan ke Pak RT untuk tanya apakah bisa minta surat domisili. Dan Pak RT pun menjawab, “ini harus pakai PBB juga, nanti disertakan di lampirannya. Pinjam dulu sama ibu kosnya.”

Edaaan. Surat domisili ternyata gede ya pertanggungjawabannya. Sampai ngurusin Pajak Bumi dan Bangunan segala. Ini apa ya? Mendadak saya lapar. Padahal belum masuk jam jumatan, tapi kok rasanya hidup setengah hari ini berat sekali.

Akhirul kata, Pak RT ngasih gitu aja surat yang saya minta. Embel-embel menyeramkan tadi udah ga ada. Entalah, gimana bisa berganti lagi aturannya. Hahaha. Saya pun melenggang ke sekretaris RW. Lancar. 

Next stop: kelurahan Sekeloa.

Baru masuk saya disambut 2 petugas yang sedang membolak-balik KK. Sambil tangannya sibuk, si ibu nanya ke saya, ada perlu apa, cenah. Hingga kemudian saya diarahkan ke atasannya, lalu menerima kenyataan bahwa mereka ga bisa membuatkan saya surat keterangan domisili. 

“Kami tidak bisa melayani, Mbak. Karena Mbak bukan warga kami. Kalau mau, pindah KK dulu di Kelurahan Sekeloa. Surat yang Mbak minta itu hanya untuk WNA, menyertakan kitas dan foto kopi KK dan KTP penjamin. Untuk WNI tidak ada pembuatan surat domisili.”

Panjaaang dia ngomong. Bilang kalau itu peraturan baru, kemarin doi menghadiri sosialisasinya di hotel apa gitu. Terus menunjukkan ke saya hasil pertemuannya di blocknote yang penuh coretan ga jelas. Kepala saya mulai berat.

Ya Tuhan, terbelakang sekali kalau memang itu aturan yang berlaku di kota yang saya cintai ini. Saya pengen banget berantem, karena pernyataan si bapak itu konyol. Tapi capek. Mata saya sudah sayu. Sebentar lagi saya bisa nangis.

Untuk mengetahui kebenaran pernyataan tadi, saya pun ke Dispendukcapil. Ke bagian informasi dan pengaduan. Hahaha. Segininya, ya?!

Jawabannya: bisa. Tidak ada peraturan seperti yang disebutkan tukang ngaco di kelurahan tadi. Tuh, kan!

Saya cukupkan perjuangan ini.

Senin saya kembali datang ke kantor imigrasi Bandung dengan kepasrahan yang seutuhnya. Jika memang harus pulang cuma untuk bikin paspor lagi, ya sudah. Saya sadar sedang hidup di mana.

Kali ini saya meniadakan akta dan menggantinya dengan ijazah. Ijazah, KK, KTP, dan surat domisili dari RT/RW saya namanya sama: NOVIDA DEWI AIRINDA SPI. Sedangakan nama di surat keterangan kerja sama dengan nama di paspor: NOVIDA DEWI AIRINDA.

“Ngapain pakai surat domisili. Ga penting. Surat dari kantor sudah cukup.”

Eaaa. Jadi gini ya, Bu. Beda orang beda permintaan. Beda maunya apa. Turutin sebisanya aja. Hahaha.

Pembuatan paspor hari Senin berjalan lancar. Lucunya, pas masuk ruang biometrik dokumen saya masih dikonsultasikan lagi. Tapi bukan karena lampiran-lampiran itu kok. Cuma karena saya pakai SPLP. Tampaknya mereka sangat hati-hati dengan jenis surat ini.

Setelah bayar hari Selasa, Jumat pun paspornya bisa diambil. Dan, yang mengejutkan, warna paspornya bukan lagi hijau gelap, tapi biru toska. Lucu. Keren. Lebih elegan. Warna favorit baru-baru ini pula. Hahaha.

Teman saya ada juga yang tanggal 25 Juli 2017 ambil paspor baru di kantor imigrasi Bandung, tapi dikasihnya paspor hijau. Ngabisin stok kali ya. Jadi pas bagian saya udah bisa pakai yang cover baru. Fyi, ternyata penggantian warna ini sudah sejak 2014. Hmmm.

Yeah! Akhirnya… Paspor baru, cerita baru, dan upaya mengisi pundi-pundi baru untuk kelangsungan petualangan selanjutnya 😎


Btw ya, untuk mendapatkan kembali paspor lama atau SPLP nya, kanim Bandung menyediakan lembar khusus yang harus diisi dengan menyertakan tanda tangan bermaterai. Duit maning gawe tumbas. Padahal di kanim Surabaya mah otomatis dibalikin da.

Iklan

One Comment Add yours

  1. ndu.t.yke berkata:

    Paspor oh paspor…… waktu aku trakhir kali bikin paspor jg dramanya pas memperbaharui Kartu Keluarga. Pake acara salah pulak itu KK yg baru. Huft bgt.

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s