[Review Film] Posesif

Secara personal, saya tidak tertarik nonton jika hanya tahu dari judulunya. Tapi, ada cukup alasan yang bikin hati saya tergerak menyisihkan duit Rp 35.000 demi film ini. Adalah:

  1. Posesif mendapatkan 10 nominasi di FFI untuk kategori: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Edwin), Pemeran Utama Pria Terbaik (Adipati Dolken), Pemeran Utama Wanita Terbaik (Putri Marino), Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Yayu Unru), Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Cut Mini), Penulis Skenario Asli Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, serta Penata Rias Terbaik.
  2. Ramai diperbicangkan di twitter.
  3. Sayanya dapet ilham aja gitu, jadinya mau nonton wkwkwkwk.

Posesif_Piala_Citra

Ini cerita cinta SMA antara Yudhis (Adipati Dolken) si ganteng anak pindahan baru di sekolah dan Lala (Putri Marino) si atlet sibuk dengan jadwal latihan juga kejuaraan yang belum pernah pacaran.

Opening film ini luar biasa. Bertabur beauty shoot lah. Musiknya juga asyik. Masnya walau ketuaan tapi gapapa, tampan soalnya. Si Mbaknya juga cantik dan ga lebay pesonanya.

Di awal cerita ini terasa sangat cepat sekali, pake banget. Baru kenal, dihukum di sekolah, masih di hari yang sama mereka sudah akrab dan jalan-jalan aja berdua. Terus saya heran sekaligus kagum, kok ada ya hubungan yang dibangun sekilat ini. Jadi sebenarnya lelaki hanya butuh keberanian menawarkan diri dan perempuan cuma perlu keterbukaan untuk menerima orang baru. This is sweet…

Tapi semua berubah sejak karakter Yudhis jadi beringas. Pemuda pujaan Lala ini tidak hanya berusaha melenyapkan orang yang mengganggu Lala, tapi juga membentak bahkan menyakiti fisik Lala setiap kali dia marah. Di sini, tiba-tiba film yang awalnya dibangun romatis sekarang jadi thriller. Beberapa kali saya menjerit, kaget. Dan takut, tentu saja.

Pada malam saat Lala ulang tahun, misalnya. Tiba-tiba Yudhis bisa masuk kamar Lala. Gila. Creepy sekali ini. Tapi mungkin buat sebagian penonton ini romantis, sih. Bagi Lala pun saya yakin ini manis sekali, meskipun Yudhis adalah pacar yang berulang-ulang menyakiti lalu beberapa saat kemudian mengemis maaf. Lala sendiri sudah sampai pada level ‘cuma gue yang bisa ngertiin Yudhis’, sekaligus merasa bertanggung jawab pada kondisi pacarnya ini.

Yudhis posesif, Lala juga.

Karakter remaja perempuan yang ingin ideal tapi sebenarnya kesepian diwakili oleh Lala dengan sangat baik. Di sini dia yang tidak lagi memiliki ibu begitu mudah dibuat cemburu, karena ayah yang juga pelatihnya lebih memuja lawan dibanding anaknya sendiri. Sementara itu sang ayahnya menuntut Lala agar jadi atlet lombat indah sehebat almarhum istrinya. Perih pasti. Kemudian, di titik tersebut Yudhis datang sebagai malaikat yang membebaskan perasaan Lala.

Pun dengan Yudhis, dia menduplikasi pemahaman mencintai dari ibunya (Cut Mini), single parent yang masih menyimpan dendam masa lalu pada suaminya. Ibunya adalah orang yang mengaku mencintai anaknya, tapi dengan cara yang mengerikan. Bahkan si ibu begitu enteng menimpuk kepala anaknya dengan hak sepatu setelah bilang, “cuma mama yang mencintai kamu!!!” Dari dia lah Yudhis belajar cara mencintai.

Btw, aktik Cut Mini sangat mengejutkan. Baru di film ini saya nonton doi jadi perempuan segarang itu. Layak lah jadi pemenang pemeran pendukung wanita terbaik.

Film ini tidak membicaran persoalan cinta remaja semata, tapi juga pada kebutuhan diterima dan menerima. Tentang konsep dicintai dan mencintai. Juga bagaimana keluarga membentuk kejiwaan.

Saya pernah mengenal karakter Yudhis, dia adalah pacar teman sebangku SMA saya. Sama seperti Yudhis, pacar teman saya ini pun seorang manipulator ulung. Dia dan teman saya bertahan dalam hubungan putus-nyambung selama 7 tahun. Mungkin saya teman yang buruk, karena akhirnya mereka menikah walau satu sama lain tahu bahwa ada yang tidak beres dalam hubungan mereka. Usia pernikahan mereka hanya satu tahun.

Cerita di film ini nyata.

Wajib tonton untuk orangtua dan calon orangtua, khususnya.

 

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s