Di Balik Keinginan Menjawab “Kapan Nikah?”

Pada siang yang langitnya mendung tapi terasa gerah, ada pesan dari emak saya yang dikirim via WhatsApp—dulu sih doi sukanya pakai “line”. Bertepatan dengan suasana di sekitar saya yang sedang ga enak, harapannya, semoga saja ini adalah sebuah kabar baik yang bisa menyejukkan jiwa. Sebenarnya saya agak ragu sih buka chat-nya, tapi karena takut dibilang anak durhaka jadi dibuka aja setelah agak galau barusan.

Hanya ada satu line, secara utuh bunyinya, “bukan nunggu ilmu, tapi cari ilmu. Bukan nunggu rezeki, tapi jemput rezeki. Jodoh juga gitu. Bukan nunggu jodoh, tapi jemput jodoh.”

Gimana perasaannya habis baca itu, Gaes?

Setahun terakhir saya baru menyadari “kapan nikah?” adalah teror yang serius. Ini seperti pertanyaan ‘kapan  lulus?’ buat yang lagi stress ngerjain skripsi. Mending kalau yang nanyain ada niat bantuin, sayangnya sering engga sih. Juga serupa tapi beda level dengan pertanyaan ‘kok belum hamil?’ bagi yang sedang keras berusaha agar bisa terisi rahimnya.

Maka cukuplah dari batih saya menanggung ini, jangan sok ingin menambahi lagi.

Sesungguhnya Tuhan bersama hambanya yang lajang nan berserah diri. Maka biarkan aja orangtua begitu. Pahami kecemasannya—dan kata apapun yang dapat mewakili perasaan mereka. Jauh lebih penting adalah berhenti menanyakan “kapan nikah?” ke orang lain. Apalagi kalau nasibnya sama-sama masih melajang. Eh, terlebih lagi kalau Anda sudah menikah, kok ya tega tanya begitu ke yang lajang. Cuma basa basi, apalagi. Kecut.

Karena untuk beberapa keadaan itu tidak etis dan jauh dari rasa empati.

Beberapa waktu lalu saya mengobrol dengan teman yang (akhirnya) menikah di usia 38. Perempuan. Suami yang kini menjadi ayah dari dua anaknya dikirim Tuhan setelah dia melewati 10 kegagalan dalam rencana pernikahannya. Sepuluh, ya. Sekali lagi, sepuluh!

“Disebut jodoh itu kalau ijab qabul sudah diikrarkan. Teteh mah hampir mulu. Ada yang bilang udah mau ngelamar tapi terus ngilang. Ada yang udah ngelamar tapi ga jadi nikahin, ada juga malah yang undangan sudah cetak tinggal sebar, eh ga jadi juga nikahnya. Hehehe.” Ah, dia bisa tertawa cekikian menceritakan kegetiran perjalanannya.

Tahu, ga, sepanjang kegelisahannya, gimana dia harus melewati betapa isengnya pertanyaan “kapan nikah?”

Perempuan hanya bisa menolak atau menerima, sisanya terserah laki-laki karena itu haknya untuk tetap memilih dia atau lainnya.

Belum lama ini saya sempat berjumpa dengan teman lama. Kawan sekantor tujuh tahun lalu di Surabaya. Sebelah kanan saya Mba Debi (32)–kalau mau nyari doi ada di gudang kemenperin, yang tengah itu anak sini aja (28), dan yang kiri Mba Riri (35)–misal ingin jumpa doi bisa ke kantin LIPI yang di Bandung sini. Mereka berdua sudah cukup kenyang sama “kapan nikah?” pun orangtua sudah ke tahap sufi, kali yah, yang pasrah, legowo, sumeleh lah istilahnya.

WhatsApp Image 2017-11-09 at 13.23.55

Kalau cewek ngumpul, apalagi sudah lama ga ketemu gitu, pasti ada perbincangan soal kesehatan, keuangan, dan asmara. Pun dengan kami. Maka kisah-kisah pun bergulir.

Saya bertanya ke keduanya, “Mbak, doa ke Allah minta orang itu jadi jodohku boleh, ga?”

Si Mba Debi jawab, “boooleh. Tapi terserah Allah lho, ya, mau dikasih apa engga.”

“Kan, makanya aku minta biar dikasih dia aja sama Allah.”

Lalu Mba Riri tanya balik, “Coba, kamu gimana doanya ke Allah?”

“Ya Allah, maafkan saya yang sok tahu, tapi saya ingin dia jadi jodoh saya. Boleh, ya, dia jadi yang terbaik buat saya?!”

Kemudian kami sama-sama tertawa.

Yang pasti, setiap orang punya jatah gagal, sedangkan ini kali pertama saya menginginkan seseorang dan memintanya langsung ke Tuhan. Saya pun harus siap gagal, kata Mba Riri. Tapi juga harus siap berhasil, kata Mba Debi. Wkwkwkwk.

Deretan kegagalan yang mereka ceritakan cukup banyak, tapi takut terlalu panjang ini tulisannya nanti bosan. Tapi, sejauh ini udah sadar kalau tanya “kapan nikah?” itu bisa bikin tangan melayang ke muka si penanya? Hahaha. Saya sih engga sampai gitu kok. Paling cuma bisa tersenyum manis.

“Orang pikir kita doyan kerja terus lupa menikah. Hallooo?”

Sungguh dua hal itu tidak nyambung, sodara-sodari. Tapi mungkin relevan untuk orang yang tidak percaya pada pernikahan. Jadi, tolong jangan pakai ungkapan itu untuk menjustifikasi para lajang cemerlang.

“Orang juga mengira kalau kita pemilih, makanya belum juga ada jodohnya.”

Ah, ini sedih sekali. Padahal ya memang harus selektif, kan gitu. Ya masa iya harus mau sama seadanya. Sialnya, ada tipe perempuan yang tidak gampang mengundang lelaki agar datang dan memintanya sebagai pasangan masa depan. Bahkan entah kenapa, bisa jadi bahkan satu pun belum ada. Jadi, gimana bisa milihnya?

Mba Debi sih suka nanya langsung ke yang laki, tapi ya sampai sekarang doi masih melajang.

Sebenarnya tidak jarang juga saat seorang kandidat jodoh datang, justru orangtua yang keukeuh dengan larangan-larangan. Soal identitas kesukuan, pekerjaan, penghasilan, statusnya anak keberapa dari berapa bersaudara, dan banyak lagi sesuai kententuan yang tidak tertulis dari orangtua masing-masing.

Kepada mereka berdua saya berkaca, ternyata untuk urusan “kapan nikah?” ini saya belum apa-apanya. Malah saya cemen. Kegalauan saya mendadak tidak ada artinya.

Katanya, jodoh kita itu sudah ditetapkan sama Tuhan. Tapi saya yakin, Sang Maha Pengasih memberi banyak pilihan juga ke manusia. Saking rahasianya, makanya berupaya aja sekuatnya. Bahwa hanya doa dan usaha yang dapat mengubah takdir. Betul?

Saat benar-benar berharap ada takdir baik menjawab apa yang kita harapkan, tampaknya di situ ada kekuatan yang besar pula yang jadi energi untuk terus berdoa. Seolah menyerahkan pada semesta bagaimana mengatur rasa. Hingga Tuhan pun mengabulkan untaian pengharapan.

Saya saat ini sedang menjalani ritual yang pernah dan sering dilakoni Mba Debi saat jatuh cinta—umumnya orang jatuh cinta kali yah. Saya bertransformasi jadi rajin shalat, suka baca qur’an, dan berdoa sekhusyuk-khusyuknya. Rapalan doa menjadj energi saat malas menyerang hebat. Bahkan, saya menunggu-nunggu waktu shalat biar segera bisa berdoa dengan khitmat.

“Aku, ya, Nov, belum dzuhur aja udah wudhu, siap shalat sama bapak-bapak. Rajin bangun malem. Malah tiap habis shalat ga cuma mendoakan dia, tapi juga orangtua dia juga.”

Semangat saya masih kalah sih soal shalat sama bapak-bapak di mushala dan mendoakan kandidat calon mertua–eaaa. Selama ini masih yang biasa-biasa saja, tapi yang pasti ritme ibadah saya jauh membaik. Ternyata suka sama orang itu adalah kesempatan terbaik untuk meningkatkan disiplin ke diri sendiri.

“Orangnya tahu ga, Mba, kalau dia ditaksir?”

“Mungkin tahu, tapi ya mungkin juga engga. Soalnya teman sih, lumayan akrab.”

“Terus, jadi ga, Mba, sama orang yang suka didoakan ini?” tanya saya.

“Engga, sih. Beberapa waktu kemudian Allah menunjukkan sesuatu,” katanya.

“Apa?”

“Dia gay!”

Gusti…

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s