Swimming is Healing

Pada persoalan hidup yang kian kompleks tapi menyenangkan ini, kondisi kejiwaan yang sebenarnya jadi sulit dipahami. Selalu ada penderitaan-penderitaan yang kita nikmati suka rela, tapi aslinya sih menangis walau tampaknya terus tertawa. Hahaha. Iya, kadang—eh seringnya—saya memang tidak tahu kalau saya sedang stress.

Tanda-tanda stress itu datang dari reaksi tubuh, sih. Contoh, jerawatan dan keputihan. Itu paling gampang. Susah konsentrasi dan gampang uring-uringan juga sebagian menunjukkan bahwa ada yang ga beres di alam pikiran. Jadi ya, walau merasa baik-baik saja, kalau sudah begini saya harus ambil tindakan demi kewarasan diri sendiri. Soalnya, percaya atau tidak, kalau diabaikan saya bisa tiba-tiba kecelakaan di jalan—true story.

Setahun belakangan, setiap si badan bilang sedang stress,  saya selalu larinya ke kolam renang. Tapi tidak selalu berenang, seringnya cuma mengambang. Sensasinya bikin sekian beban hidup itu rasanya hilang. Apalagi sambil menatap langit malam, Gustiii sempurna sekali.

Hari ini saya kembali berenang mulai sore sampai petang. Bedanya, kali ini aktivitas berenang saya penuh renungan.

Salah satunya ingatan tentang teman SMP saya yang dulu pengen diet. Saat itu materi pelajaran biologi tentang komposisi tubuh yang mencapai 80% didominasi air. Hingga dia bertekad untuk mengkonsumi sedikit minuman. “Kalau segitu banyak isinya air, ya mending aku ga usah kemasukan air,” celetuknya dengan nada serius. Saya cuma tertawa ngakak aja.

Tapi persoalan air terasa serius saat saya benar-benar berada di atas kolam renang. Raga ini terasa berada di tempat yang seharusnya: air.

Saya bahagia saat hanya mendengar gerakan air dan suara-suara di sekitar telinga, termasuk semacam mendengar suara dari dalam tubuh sendiri. Dunia ini rasanya hanya memperdengarkan apa yang enak didengar saja. Ah, memang harusnya gitu yaaa…

Mungkin karena hal ini, saya jadi bisa mendengar suara sendiri. Apa yang sedang jadi keresahan, harapan, dan hal-hal yang terpendam lainnya. Ajaib sekali memang suara-suara yang sebenarnya tidak terdengar itu.

Saat di dalam air, tanpa tahu bagaimana persendian bekerja, saya bisa loh muterin telapak kaki sampai ke telinga. Tentu saja, perkara begini ga akan bisa saya lakukan di daratan. Orang angkat kaki sampai dada aja pinggang sudah terisak-isak. Cuma sayangnya saya belum bisa kayang. Oiya, pas kentut, akan ada gelembung-gelembung lucu yang mengalir dan bisa dirasakan juga loh. Wkwkwkwk.

Pas lelah mondar-mandir dari ujung ke ujung pun, lalu cuma diam bengong, air di depan muka saya kok rasanya jadi berubah jadi benda padat yang lentur, ya? Saya melihat air bukan lagi cairan remeh yang gampang diapa-apakan. Dia sudah seperti jel, yang kenyal dan empuk. Dia kuat dan bikin nyaman.  Hmmm, mungkin kalau begini suatu hari saya harus mencoba tidur di atas air 😀

Hingga pada akhirnya kepada air lah beban hidupmu mengalir syahdu.

img_20170819_174333_594_1512494040447917925550.jpg

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s