Mengurus Perpanjangan SIM Luar Daerah di Bandung

Anda termasuk kaum urban karena menjalani ritual urbanisasi?

Atau sekadar berpindah dari daerah sebelah tanpa bermaksud menjadi urban yang suka jajan tapi seret pemasukan?

Apapun.

Intinya, saya mau berbagi prosedur yang kudu dilalui bagi pendatang yang butuh memperpanjang SIM di Bandung. One more time, yes, Bandung. Tersebab di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Seperti semboyan orang Minang–pelajaran antropologi SMA kelas 2.

Pertama

Perpanjangan hanya bisa dilakukan di SIM keliling. Untuk jadwalnya silakan googling. Tapi paling gampang yang saya hafal, tiap Minggu si mobilnya nongkrong di CFD Dago.

Kedua

Berikut syarat yang harus dipenuhi:

  1. Fotokopi KTP

  2. Sertakan SIM

  3. Sabar mengantre

Kenapa sabar itu termasuk syarat? Karena percaya atau tidak, teman saya bahkan ada yang menunggu giliran sampai 5,5 jam.

Ketiga

  1. Periksa kesehatan di lokasi

Guys, surat kesehatan dan buta warna yang dikeluarkan dokter paling hebat dan mahal pun tidak akan berlaku di sini. Karena petugasnya bersabda, “mohon maaf, surat kesehatan yang bisa digunakan hanya dari pihak yang ditunjuk oleh kepolisian.” Sounds like… Ah sudahlah. Bayar Rp40.000 yah.

Sebelumnya saya baca artikel beginian, TKP di Surabaya. Di sana diizinkan pakai surat dari puskesmas, rumah sakit, atau dokter di tempat Anda bekerja, dll. Tapi itu semua hoax kalau diterapkan di Bandung, Guys. Itu yang bikin manusia berdiri mengular berjam-jam. Maka dari itu kalau mau urus SIM di sini siapkan kursi lipat, cemilan, dan makan siang.

Jika perpanjangan SIM A dan C secara bersamaan, atau ada SIM lain lagi, beli suratnya cukup sekali.

2. Bayar harga formulir

Formulir SIM A Rp80.000

Formulir SIM C Rp75.000

3. Ada lain-lain

Semacam apa saya lupa Rp2.000/SIM

Asuransi Rp50.000/SIM

Keempat

Sabar dengan hasil jepretan petugas

Karena pemotretan berlokasi di dalam mobil, loket pengumpulan juga di situ, cetak pun sekalian di tempat yang sama, itu semua pekerjaan itu dilakuan oleh satu orang yang sama. Saya juga ga tahu kenapa sangat multitasking sekali petugasnya. Padahal laki. #loh

Maka dengan kamera yang high angle, flash di ruang gelap, juga tidak bisa minta retake, terima saja gimana jadinya.

Jadi, siang pasca perpanjangan SIM itu selain pasrah sama foto yang atulah, di saat lagi hemat sehemat-hematnya saya harus rela melepas Rp295.000 untuk SIM A dan C yang baru. 

Ada sesal kenapa jarak pembuatan keduanya harus 5 tahun? Kan jadi mahal kalau barengan. Kenapa pula SIM itu harus diperpanjang setiap lima tahun kayak pilpres. Padahal tidak ada data pribadi yang berubah–selain muka yang bertambah usia lengkap dengan derita dan gembiranya.

Hmmm. Mungkin karena Indonesia belum menghargai betapa mahalnya waktu, sekaligus negara ini juga masih butuh uang yang berasal dari urusan beginian. Jadi ya belum mampu ngasih pelayanan cepat yang praktis, juga belum cukup tegar menerbitkan SIM yang berlaku seumur hidup seperti negara maju–dan kaya.

Iklan

Opo Jaremu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s